Semesta adalah akuarium kata-kata dan kita adalah ikan-ikannya....

Sabtu, 07 Maret 2026

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray

Ketika Russel Donovan di bawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketika polisi-polisi muda yang menangkapnya membacakan hak-haknya sebagai tersangka, Russel terus saja menggumam. Dengan tangan terborgol, ia digelandang ke sebuah ruangan berdinding putih dengan lampu menyala terang. Penjaga laki-laki berseragam dan bertubuh tinggi kekar yang mengantarnya memberitahu bahwa Russel akan diinterogasi.

Di dalam ruang interogasi sudah ada seorang laki-laki yang tampaknya memang sudah menunggu kedatangan mereka. Laki-laki itu duduk di balik meja besi yang memisahkan dua kursi yang saling berhadapan. Di balik kemeja hitam kusutnya, laki-laki itu bagai sebatang pohon oak yang meranggas kering. Bola mata biru yang keruh itu tak berhenti menatap ke arah Russel. Ia seakan sedang menakar ketidakmungkinan bahwa laki-laki dengan penampilan lembek seperti Russel perbuatan kejamnya telah mengisi halaman surat kabar dan membuat walikota dan komisaris polisi sampai harus turut memberikan keterangan pers.

Ia sudah menghubungi pengacara? tanya laki-laki berkemeja hitam.
Belum. Mungkin tidak akan ada pengacara yang akan mendampinginya, kata laki-laki penjaga itu seraya memastikan ikatan di kaki Russel tidak longgar.

“Terima kasih, Jenkins,” kata laki-laki yang duduk di belakang meja besi.

Laki-laki penjaga yang dipanggil Jenkins itu mengangguk kemudian berlalu, “Aku ada di luar. Kalau dia berulah, panggil saja aku, biar kupatahkan lehernya” kata laki-laki itu dengan tatapan dingin pada Russel.

“Tentu saja, Jenkins,” jawab laki-laki setengah baya itu sembari tertawa.

Di ruangan berukuran 4x4 meter itu, sekarang hanya tinggal Russel dan laki-laki setengah baya bertubuh ceking itu saja. Laki-laki setengah baya itu bertatapan dengan Russel beberapa saat sebelum langkah kaki Jenkins hanya menyisakan gema dan derit pintu ruangan yang menutup rapat.

“Apakah Anda mabuk tadi malam?” tanya laki-laki setengah baya itu sembari menyipit. Di tangannya melingkar rolex warna emas, Russel yakin itu barang tiruan yang di beli di kawasan Bronx, West Side. Sebelum bekerja di The Greyhound, Russel pernah menjadi penjual barang-barang imitasi selundupan dari China, salah satunya seperti rolex yang dipakai laki-laki yang sedang menginterogasinya itu. Russel tersenyum mendapati pemikiran jenaka itu menyempal di kepalanya.

“Kau bisa menjawab pertanyaanku?” Tangan yang dilingkari rolex itu menghantam meja. Suara gebrakan keras membuat tubuh Russel tersentak.

“Tadi malam aku minum bir di club Wrangler. jawab Russel tergeragap. Aku rasa satu gelas bir tidak akan membuatku mabuk”

“Kau bersama seseorang saat itu?”

Russel menggeleng. “Aku sendirian,” jawabnya mulai santai. “Tapi jika kau bertanya siapa saja yang ada di tempat itu tadi malam, aku bisa menunjukkan. Mungkin kita bisa berbincang dalam suasana lebih bersahabat di sana?”

“Kau jangan coba-coba bermain denganku.” Laki-laki setengah baya itu beringsut, meletakkan kedua siku di atas meja. “Menurutmu, apa untungnya membohongiku?”

“Oh ayolah,” kata Russel tertawa. “Aku tidak berbohong. Aku memang minum bir tadi malam. Tapi aku sama sekali tidak mabuk.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?” jawab Russel mulai kesal.

“Apa yang kausembunyikan?”

“Tidak ada. Aku berbohong pun, anjing itu tidak akan hidup lagi.”

Laki-laki setengah baya itu menggeram. Russel ingin tertawa saat melihat tampang kusut laki-laki itu. Ia membayangkan laki-laki itu seekor gagak hitam kurus dan jelek. Rambutnya yang beruban mencuat dari kulit kepalanya bagai helai rumput kering. Namun dari semua itu, suaranya yang berat dan parau itulah yang paling membuat Russel ingin tertawa.

Entah untuk menggertak atau membuat nyali Russel menciut, laki-laki setengah baya itu mencabut pistol di pinggang dan meletakkannya di atas meja. Melihat pistol itu, Russel ingat pistol yang ia buang tadi malam. Ia mencemaskan benda itu ditemukan Tom—anak tetangganya yang berumur sembilan tahun. Russel berharap polisi sudah menemukan benda itu atau benda itu tetap berada di tempatnya sampai urusannya di sini selesai.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku tidak memikirkan apa pun saat ini,” jawab Russel berbohong.

Laki-laki setengah baya itu berdeham. Jari-jarinya yang kurus mengetuk-ngetuk meja besi, seperti irama perkusi yang kacau. Bentuk jari-jari itu seperti ranting kering. Ada noda nikotin di kuku telunjuknya, sedang pada jari manisnya ada jejak lingkaran memutih yang mungkin berasal dari cincin kawin yang baru satu atau dua minggu dilepas. Membayangkan jari manis dan bekas cincin itu membuat Russel mual. Ia melepas cincin kawin miliknya dan mengantonginya.

“Mengapa kau melakukan itu?” tanya laki-laki setengah baya itu.

“Melakukan apa?”

“Itu...” jawab laki-laki setengah baya sembari menunjuk jari manis Russel. “Tampaknya kaubenci sekali pada istrimu.”

“Apa bedanya denganmu?” Russel melirik jari manis laki-laki setengah baya di hadapannya. “Apakah dengan melepas cincin itu artinya kau juga membenci istrimu?”

Laki-laki setengah baya itu menautkan jari-jarinya dan membungkukkan badan sambil bersitumpu ke meja. Ia tidak menjawab pertanyaan Russel. Matanya menusuk langsung ke mata Russel dengan ekspresi memendam amarah. “Istriku meninggal satu tahun yang lalu,” desisnya dingin.

“Aku berharap istriku juga segera menyusul istrimu ke neraka.”

Laki-laki setengah baya itu tidak menjawab, namun spontan melayangkan tinju ke pelipis Russel. Sebuah hantaman keras yang tak sempat terhindarkan itu membuat kepala Russel berputar ke kiri. Pandangan matanya berkunang. Sesaat ia melihat wajah laki-laki setengah baya itu babak belur dan mengerikan—seperti wajah orang yang mentalnya terbelakang. Wajah itu sama buruknya atau bahkan lebih buruk lagi dari anjing yang ia bunuh tadi malam.

Russel ingin menampar wajah itu dan membuat matanya meledak, mengisi rongganya dengan darahnya sendiri. Russel memang berhasil menahan keinginan itu, tapi rasa muak yang melilit perutnya telanjur memicu suara gemerutup dari sela-sela bibirnya yang terkatup. Di kepalanya terbayang anjing berbulu hitam sedang menggagahi istrinya. Anjing yang membuatnya harus menerima perlakuan seperti ini.

“Apakah aku akan dihukum karena membunuh seekor anjing?”

“Mungkin penjelasanmu akan meringankan.”
“Itu artinya aku memang akan dihukum karena seekor anjing.”

“Bekerjasamalah dengan baik. Kasusmu tidak main-main. Hukuman berat menunggumu di meja pengadilan.”

“Lakukan saja. Hukuman berat karena membunuh seekor anjing. Itu terdengar luar biasa.” Russel mendengus. “Negara ini sudah sinting.”

“Yang kaulakukan juga hal yang sinting,” tukas laki-laki setengah baya itu sinis.
Russel tergelak.

“Kau tidak menyesal?”

“Sama sekali tidak,” jawab Russel santai. “Kenapa aku harus menyesal membunuh seekor anjing?”

“Brengsek!” Laki-laki setengah baya itu menggebrak meja. Russel tertawa semakin keras, tapi tawa itu terbungkam seketika saat laki-laki setengah baya itu berkata dengan nada keras.

“Laki-laki ini sudah gila!”

“Aku sama sekali tidak gila,” sahut Russel geram. Tubuhnya mencondong ke depan, seolah menantang. “Aku hanya membunuh seekor anjing.”

Laki-laki setengah baya itu balas mendekatkan wajahnya, membuat Russel mencium aroma tembakau yang kuat dari mulutnya. “Kau telah menembak mati anakmu sendiri, Russel Donovan.”
***


Gray mengepal tangannya kuat-kuat, dari mulutnya melesat sumpah serapah. Penjahat yang dihadapinya pagi ini memang keterlaluan. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya tadi malam. Penjahat itu bersikeras hanya membunuh seekor anjing. Ia mengaku tidak bersalah. Bahkan ia merasa  apa yang dilakukannya adalah bentuk pertahanan diri secara naluriah.

Gray mengambil selembar foto dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas meja. Sejenak ia memerhatikan ekspresi laki-laki di hadapannya. Di foto tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki berambut pirang dengan mata gelap; sedang tersenyum manis. Di bawah foto itu tertulis keterangan; Bernard Donovan, siswa teladan St. Crispins School di East 90th Street.

“Sekarang apa yang kau pikirkan?” tanya Gray sambil menyilangkan tangan ke dada. Ia berusaha mengumpulkan kesabaran yang tadi habis terkuras. “Apa alasanmu melakukan tindakan tak masuk akal itu?”

Pertanyaan beruntun itu membuat laki-laki berwajah agak pucat itu mengangkat wajah dan memandangi Gray. Sambil mengerutkan kening dengan skeptis, laki-laki itu mendecak-decakkan lidah.

“Entah, ya.”

Gray menahan keinginannya untuk menyerbu ke seberang meja dan mencekik tenggorokan laki-laki itu. Ia tidak pernah menyangka hari ini akan sangat buruk. Laki-laki yang baru ditangkap dini hari tadi, sekarang membangunkan amarah pada diri Gray. Tingkah tolol dan jawabannya yang berbelit-belit itu membuat Gray benci setengah mati.  Rekan-rekannya selama ini menganggap Gray adalah seorang interogator terbaik yang pernah ada di distrik West Side. Ia punya bakat alami hebat, seperti Jordan ketika melakukan slam dunk. Tapi kali ini, di hadapan laki-laki ini, Gray betul-betul dibuat tidak berdaya.

“Apa yang Anda lakukan sulit diterima akal sehat. Anda contoh orangtua yang buruk bagi negara ini,” maki Gray tak tertahankan.

“Negara ini juga telah berlaku buruk padaku,” jawab lelaki itu, seraya meluruskan pinggang dan duduk tegak.

Gray berusaha menyembunyikan wajah gusarnya. “Tidakkah hati nuranimu menyadari kalau nyawa yang kaurenggut itu masih terlalu muda untuk mati, terlebih dengan cara sekeji itu?”

“Ayolah, kau tidak usah berkhotbah tentang hati nurani, padahal orang-orang di lingkunganmu sendiri adalah orang-orang yang juga tidak memiliki hati nurani.”

Geraham Gray gemerutup. Ia membenci seringai sarat ejekkan laki-laki itu hampir seperti ia membenci otak-otak kerdil yang mengatur departemen kepolisian di negara ini. Ada benarnya juga ucapan laki-laki itu. Gray menyadari jika dari banyak departemen di Amerika yang terkenal korup, departemen kepolisian termasuk di antaranya.

"Bagaimana reaksimu jika mendapati istrimu sedang bercinta dengan anjing. Kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, bukan?" lanjut laki-laki itu sambil menyeringai.

Nyaris saja Gray melayangkan tinju ke wajah lelaki itu jika saja Jenkins tidak buru-buru masuk. Jenkins membisikkan sesuatu yang membuat Gray merasa ada bongkahan es yang mengguyur tengkuknya seketika.

“Kami sudah mendapat motif kenapa dia membunuh anak itu,” bisik Jenkins pelan. “Tadi malam dia memergoki istri dan anaknya sedang bercinta. Dua orang yang dicintainya itu berkhianat dengan cara yang kejam ya?”

Gray terdiam dan tidak memiliki minat untuk menjawab pertanyaan Jenkins. “Bagaimana dengan istrinya?” tanya Gray.

“Perempuan itu melarikan diri dan sekarang sedang dicari.”

Gray tak bisa berkata-kata lagi. Ia memandang laki-laki di hadapannya itu dengan perasaan iba yang tebal. Gray terduduk lesu, benaknya dipukuli bayangan mengerikan yang membuat kepalanya berdenyut menyakitkan. Bayangan itu merekonstruksi adegan di malam satu tahun yang lalu, ketika ia membubuhkan racun ke minuman istrinya. Perempuan itu telah mengkhianati dirinya dengan cara yang juga sangat kejam; bercinta dengan adiknya sendiri. (*)

Cerpen ini pernah tayang di Harian Jawa Pos, edisi Minggu, 26 Juni 2026
Share:

Kidung Natal dan Salju Merah


San Juan Hill mendadak gempar karena peristiwa horor di malam Natal. Koran-koran pagi memampang Headline berita mencengangkan, Warga West Side Menembak Mati Putra Kandungnya Sendiri!. Berita ini sebenarnya biasa saja bagi sebagian warga kota yang telah terbiasa dengan tingkat kriminalitas tinggi seperti New York. Namun terdengar luar biasa bagi orang-orang yang mengenal pelakunya, Russell Donovan.

Tidak seharusnya Russell membunuh Bernard. Umurnya belum genap tujuhbelas tahun. Anak itu terlalu muda untuk mati. Apa lagi jika mengingat kepribadian Russell yang dikenal selama ini. Rasanya tidak mungkin orang yang begitu religius seperti dia akan berurusan dengan polisi, terlebih kasusnya yang sangat mengerikan.

“Terkutuk kau Russell. Kau membunuh anak yang tak berdosa! Neraka menunggumu, neraka!"

Demikian kira-kira sumpah serapah dan pengadilan kata-kata yang berhamburan dari mulut tetangganya. Namun Russell tak peduli, dia berjalan dengan wajah tegak menantang walaupun telinganya dihujani cacian dan tatapan sarat kebencian. Rusell meludah ke tanah. Dia tahu tak ada satu pun di antara kerumunan itu yang mengetahui alasannya membunuh Bernard. Tak ada satu pun yang mengetahui seperti apa perasaannya saat menghabisi anak itu.

Russell tidak menyesali perbuatannya. Jika pun ada yang disesalinya, itu adalah revolver-nya yang tak sempat menghabisi nyawa orang kedua malam itu. Orang yang berlari sebelum proyektil tajam menembus tubuhnya.
***


Kidung Natal bergema bersama badai salju yang turun lebat di Kota New York. Menurut laporan badan cuaca, itu adalah badai salju terburuk selama sepuluh tahun terakhir. Badai salju yang bergerak lamban itu menyapu sebagian kawasan Amerika. Bahkan di beberapa negara bagian dan kota, pemerintah setempat terpaksa memberlakukan keadaan darurat, termasuk New York.

Keadaan darurat yang telah berlangsung berminggu-minggu ini juga berimbas pada perusahaan transportasi The Greyhound tempat Russell bekerja. Malam itu Russell pulang lebih cepat dari biasanya. Selain memang bertepatan dengan malam Natal, pemimpin perusahaan menginstruksikan seluruh armada bus untuk diistirahatkan tanpa batas waktu. Itu artinya kiamat buat Russell yang hanya pekerja lepas.

Russell pulang dengan perasaan kesal. Jangankan tunjangan selama dirumahkan, untuk sekedar uang lelah pun tak diberikan oleh pihak perusahaan. Ini adalah Natal yang buruk bagi Russel. Di saat orang-orang tengah bergembira, dirinya justru berduka.

Dia berjalan menyusuri kawasan Distrik Teater Broadway dengan perasaan kacau. Suhu yang mengiris jangat dan salju yang bertumpuk di pinggir jalan tak mampu meredam panas hatinya yang baru saja merasakan ketidakadilan. Russell geram pada pemerintah yang tak pernah berpihak pada kaum minoritas seperti dirinya.

Pemerintah memang tak pernah tahu masa lalu dan silsilah keluarganya. Kakek buyutnya cukup pantas jika diberi gelar pahlawan. Pada masa Revolusi Amerika, leluhurnya turut memperjuangkan kota ini dari cengkraman Kolonialis Britania Raya. Leluhurnya ikut berperang dalam pertempuran heroik pada tahun 1776 di Long Island.

Pada perang itu pihak Amerika kalah, namun dalam pertempuran-pertempuran kecil setelahnya, kakeknya turut berjuang melawan tirani yang coba dibangun di tanah ini. Tetapi semua itu menjadi fakta tak berguna. Tak ada yang peduli siapa dia dan apa masa lalunya. Kisah kepahlawanan keluarganya tak mampu membawa Russel keluar dari lingkar kesengsaraan.

Salju menumpuk tebal ketika langkah kaki Russel sampai di perkarangan. Ketebalan salju mungkin sekitar tiga puluh centimeter, menandakan begitu hebatnya badai salju yang melanda. Suara televisi masih terdengar samar-samar dari luar. Sepertinya Carolina dan Bernard belum tertidur. Biasanya Russell memang selalu pulang pagi atau secepatnya dini hari bila jam kerjanya shift malam.

Russell memutar gagang pintu dengan perlahan. Di sepanjang jalan tadi, dia berjanji untuk tidak membawa masalah pekerjaannya ke rumah. Dia sudah memutuskan untuk menyimpan masalah pelik itu seorang diri. Lagi pula seharusnya dia pulang membawa kado Natal untuk Bernard dan Carolina, bukannya beban masalah seperti yang baru saja diterimanya.

Biar saja Carolina--perempuan yang mengikat janji untuk sehidup-semati dalam susah dan senang itu--tak mengetahui apa-apa. Begitu pun Bernard, tak perlu tahu jika ayahnya sekarang pengangguran. Russell tak ingin putranya tahu. Dia malu. Saat perceraiannya dengan Laura--ibu kandung Bernard--lima tahun yang lalu, dia bersumpah untuk membahagiakan Bernard dan mati-matian memperjuangkan hak asuhnya di pengadilan.
Russell melangkah masuk. Pintu sedikit terbuka. Tidak biasanya pintu rumah tak terkunci. Russell melepas jaket tebal yang berlumur serpihan salju dan menggantungnya di belakang pintu. Dia melangkah ke dapur. Coklat panas adalah solusi ampuh untuk mengenyahkan kebekuan di tubuh dan pikirannya. 

Russell melangkah ke depan televisi yang masih menyala. Coklat panas di tangannya mengepulkan asap putih tipis dan menebar aroma harum. Dengan malas dia menyandar di sofa yang berlubang di beberapa bagian. Berkali-kali Russell mengganti channel, mencari siaran yang bisa menghilangkan runyam yang mendengung di dalam kepalanya. Namun siaran televisi hanya sibuk menayangkan berita tentang kondisi cuaca ekstrem yang melanda seisi kota.

Dalam kebosanan yang menyebalkan itu, Russell memilih mematikan televisi dan bergegas tidur. Tetapi gerakannya terhenti saat samar-samar telinganya mendengar suara janggal di lantai dua. Suara menjengahkan siapa pun yang mendengarnya. Suara rintih erotis seorang perempuan yang sedang bercinta. Telinganya mendadak panas dan ritme jantungnya berdegub cepat. Russell bersijingkat ke lantai dua dan berniat mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di sana.

“Jangan-jangan Bernard membawa pacarnya ke kamar? Kemudian bercinta karena mengira aku belum pulang kerja? Sialan benar anak itu!" maki Russell dalam hati.

Dengan langkah perlahan dan nyaris mengendap-endap dia mendekati kamar Bernard. Russel menempelkan sebelah matanya di lubang kunci. Seketika darahnya naik ke kepala dan emosinya terbakar tak terkendali. Malam itu Russell melihat adegan yang nyaris membuatnya muntah. Lubang kunci menjadi celah pembuka tabir nista yang selama ini tak pernah diketahuinya. Bernard sedang bercinta dengan Carolina--ibu tirinya sendiri!

"Terkutuk!" desis Russell murka.

Darah menggelegak di sekujur tubuhnya. Giginya gemerutup. Kemurkaan di dada seperti ingin meledakkan jantungnya. Russell berlari menuruni tangga dan bergegas masuk ke kamar. Di dalam lemari dan di bawah tumpukan baju dia meraih sepucuk revolver. Setelah meyakinkan senjata api itu berisi peluru, dia gegas menuju kamar Bernard. Niatnya sudah bulat, kejahanaman itu harus diakhiri dengan hukuman mati.

BRAAK!

Sekuat tenaga Russell mendobrak pintu kamar. Bernard dan Carolina yang sedang bercinta tak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu hanya bisa menjerit tertahan saat menatap wajah dingin suaminya. Bernard menggigil. Wajah ayahnya menjelma setan yang datang dari neraka. Bernard memungut pakaian dan melompat ke jendela. Namun Russell tak membiarkan anak itu lolos begitu saja. Lelaki setengah baya yang telah lupa diri ini berlari dan menembak punggung putranya tiga kali.
Tubuh Bernard limbung, kemudian menggelinding dari atas atap dan jatuh ke perkarangan belakang. Russell berlari keluar dan memburunya. Dia lupa pada Carolina yang masih ada di kamar itu. Perempuan itu memanfaatkan keadaan dan menyelinap lari dalam kegelapan.

Darah merah terlihat kontras dengan salju yang memutih. Tubuh Bernard terkapar di atas tumpukan salju yang tak henti berguguran dari langit. Anak itu mati di tangan ayah kandungnya sendiri. Russell tegak berdiri dengan perasaan hampa. Dari kejauhan terdengar raung sirine mobil polisi yang berbaur dengan Kidung Natal dan gema lonceng dari gereja. Entah siapa yang menelpon polisi-polisi itu, mungkin saja Carolina. (*)

Catatan: cerpen ini pernah tayang di harian Media Indonesia, edisi Minggu, 21 Desember 2014
Share:

Sabtu, 17 Januari 2026

Klub Pemakan Daging


Hellena menyandarkan bahu ke jendela, kedua tangannya bersidekap, kepalanya melongok ke taman yang ada di seberang apartemen. Di bawah rimbun pepohonan willow, seorang pria paruh baya berkacamata hitam sedang berdiri. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat dan tampak sedang linglung. Melihat penampilannya, Hellena menyimpulkan bahwa pria itu pastilah tuna netra. Nalurinya berkata bahwa pria itu sedang membutuhkan bantuannya.

Pria itu berdiri di sebelah kiri patung malaikat granit setinggi 2 meter. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mengikuti suara-suara di sekitarnya; deru mesin-mesin kendaraan, langkah orang-orang yang hilir-mudik, gaduh peralatan logam kuli jalan yang membongkar jalur drainase, dan dua orang yang berbincang santai satu sama lain di atas bangku taman.

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.
Pria itu merogoh kantong kemejanya tepat saat sebuah sedan melintas. Angin yang ditinggalkan sedan tadi menerbangkan bongkahan-bongkahan kerikil serta menghujani orang-orang dengan debu, tak terkecuali pria yang sedang diperhatikan Hellena.

“Dasar pengemudi tolol!”

Gadis berambut pirang itu mengumpat. Sedan tadi terus melesat dan lekas menghilang. Orang-orang yang terkena sapuan kerikil dan debu tampak bersungut-sungut. Pria buta itu masih berdiri di tempatnya, terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah.

Hellena menyambar blazer di atas ranjang, lalu bergegas keluar kamar. Ia berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga, bahkan tak sempat mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu menutup pelan dan meninggalkan derit engsel yang terdengar mirip suara cericit tikus kesakitan.
***


Hampir sepuluh menit Hellena mendengarkan pria itu bercerita. Ia mengatakan sedang menunggu bantuan seseorang untuk mengantar sepucuk surat ke alamat yang tertera di amplop putih yang tadi melayang dan nyaris terjatuh ke dalam got. Berkat Hellena, sekarang amplop itu telah kembali berada di tangannya.

Mendengar cerita itu, hati Hellena berderak retak, namun dengan cepat menyatu kembali. “Aku akan menolongmu,” katanya sambil memegang lengan pria buta itu. “Berikan surat itu padaku. Aku akan mengantarnya.”

“Terima kasih. Tapi saya tak ingin membuang waktumu.”

“Tak apa,” jawab Hellena tulus. “Aku senang bisa membantu.”

Hellena tiba-tiba merasa sangat sedih ketika membayangkan menjadi pria buta itu. Membayangkan matanya berubah menjadi sepasang bola tak berguna. Menyeberangi jalan raya yang penuh kendaraan seperti ini pasti sesulit melintasi Samudera Atlantik dengan perahu. Kalau nasib sial, ia mungkin akan tertabrak, lalu patah tulang belakang dan lumpuh. Membayangkan semua itu, Hellena bergidik ngeri.

Beberapa bulan terakhir, Hellena memiliki semacam hubungan timbal-balik yang reflektif dengan Tuhan. Ayahnya meninggal, ia dipecat dari pekerjaan, teman dan kekasihnya menjauh, dan entah bagaimana membuat ia berpikir bahwa masalah-masalah berat yang menimpanya itu lantaran ia tak cukup berbuat baik pada sesama.

Hellena ingin membangun reputasi baik di mata orang-orang. Ingatan tentang ayahnya dan masalah-masalah yang tak kunjung selesai itu telah berhasil mencambuknya. Ia memutuskan akan memulainya sedikit demi sedikit. Hal pertama adalah dengan menolong pria buta di hadapannya.

“Boleh aku melihat surat itu lagi?” tanya Hellena. “Aku ingin melihat alamat tujuannya.”

Pria buta itu menyodorkan amplop ke depan, tapi Hellena tegak di sampingnya, membuat arah sodorannya keliru. Tapi dengan cepat gadis itu mengambilnya, lalu membaca alamat yang tertera; Cadbury Resto, Second Avenue.

“Aku tahu tempat ini,” kata Hellena tersenyum lebar. “Serahkan saja padaku. Aku akan mengantarnya dan kujamin surat ini akan tiba di alamatnya.”

“Terima kasih, terima kasih.” Pria buta itu membungkuk hormat. “Akhirnya Tuhan mengirim malaikat untuk menolongku.”

Hellena menepuk-nepuk pundak pria itu. Setelah berbincang-bincang sesaat, ia pun meninggalkannya. Hellena keluar dari taman kota dengan perasaan gembira, karena merasa telah melakukan perbuatan yang berguna.

Separuh perjalanan, gadis itu tiba-tiba berhenti. Ia berpikir, pria buta tadi pasti kesulitan mencari jalan pulang. Seharusnya ia mengantarnya pulang lebih dulu, setelah itu baru mengantarkan surat. Sambil melangkah berbalik arah, Hellena menepuk keningnya, menyadari kebodohannya. Namun setelah kembali, pria yang dicarinya sudah tak ada.

“Cepat sekali,” gumam Hellena terheran-heran.

Hellena berjalan mengikuti trotoar yang mengarah ke pusat kota. Lima menit berselang, ia melihat pria itu berjalan membelah kerumunan, berjejalan dengan orang-orang di halte yang sedang menunggu bus jemputan. Hellena menerobos kerumunan itu dengan susah payah. Sebuah teriakan keras membuat pria buta itu menoleh dan Hellena terkesima.

Pria buta itu dengan tangkas berlari di tengah kerumunan. Tanpa kaca mata dan tanpa tongkat penuntunnya. Hellena hanya bisa mengawasi dari kejauhan, tepat sebelum ia merasa yakin, pria buta itu baru saja menipunya.

“Brengsek!” umpat Hellena kesal.

***


“Tidak seperti biasanya, ya, Jhon?” Seorang pria berkuncir penuh lagak dari Unit Laporan Kejahatan berdiri di samping polisi muda yang baru saja menerima laporan Hellena. “Biasanya kaugalak sekali jika pelapor tidak sedap dipandang.”

“Menyingkirlah, Bung!”

Hellena merasa jengah mendengar perbincangan kurang ajar itu, tapi ia menahan diri untuk tidak mengumpat. “Jadi, apakah kalian akan menindaklanjuti laporanku atau tidak?” tanyanya dengan perasaan muak.

“Tentu saja,” jawab polisi muda yang duduk di belakang monitor. Pria berkuncir tadi sudah menjauh sambil terkekeh-kekeh. “Tapi keterangan Anda belum lengkap.”

“Memangnya apa lagi? Anda telah mendapatkan semua keterangan dariku. Tidakkah itu cukup?”

“Maaf, Nona, bukan Anda yang menentukan cukup atau tidak.” Polisi itu berkata dengan nada tinggi. “Kami memiliki prosedur sebelum menindaklanjuti laporan. Jawab saja pertanyaannya. Hei, Nona? Bisakah Anda berkonsentrasi?”

Perhatian Hellena memang teralihkan beberapa saat. Di meja lain, seorang perempuan paruh baya sedang menangis. Seorang pria berdiri di belakang perempuan itu sambil memijat bahunya. Hellena menduga, pria itu adalah suaminya. Dari perkataan mereka, Hellena memahami penyebab perempuan itu menangis. Anak bungsunya hilang.

Dengan tersendat-sendat, perempuan itu menjelaskan aktifitas-aktifitas dan ciri-ciri anaknya. Ia berkata bahwa anaknya berumur 13 tahun dan bersekolah di St. Christoper. Setengah meratap, perempuan itu memuji-muji bahwasanya anaknya adalah anak yang baik dan berhati lembut. Ia tidak pantas disakiti. Polisi yang memproses laporan itu mengangguk-angguk.

“Nona?”

“Ah, ya. Maaf... “ Hellena tersadar dan kembali menatap polisi yang sedang mengolah laporannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kukira kau bisa memulai dari awal.” Polisi itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi malas yang kentara. “Ceritalah dan aku akan memprosesnya.”

“Aku menduga pria itu berencana melakukan sesuatu yang jahat.”

“Apakah Anda yakin?”

“Tentu saja aku yakin. Ia baru saja menipuku,” sergah Hellena memasang wajah masam. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam kantung rok dan menaruhnya di atas meja. “Ia memberiku ini. Kupikir, Anda bisa memeriksanya atau mencari alamat yang tertera di sana untuk memastikan dugaanku.”

Polisi muda itu membuka amplop yang diberikan Hellena. Di dalamnya, ada secarik kertas. Keningnya mengernyit dan membuat Hellena penasaran. Polisi itu membaca dengan keras sebaris kalimat ganjil yang mbuat kening Hellena mengerut.

***
Baca juga: Tenung - Cerpen


Hellena menemukan restoran tua itu di Second Avenue. Tempat sederhana dengan papan nama bertuliskan Cadbury Resto dari jalinan neon merah di atas pintu masuk. Di ruangan dalam terdapat beberapa pasang meja dan kursi yang berwarna putih kusam. Toples permen mint berbaris rapi bersama gelas-gelas kopi dengan hiasan pilar-pilar gaya Yunani. Lantainya ditutupi karpet hijau mulus. Pada etalase kaca yang berada di dekat rak kayu tertera tulisan Iga Sapi Panggang Harga 8,95$.

Hellena masuk dengan jantung berdebar. Sebuah pisau steik berkilauan di atas meja. Hellena mengambilnya cepat-cepat saat bergegas menuju toilet. Bagaimana pun, gunting kuku tak akan cukup untuk melindungi diri jika sesuatu yang buruk terjadi.

Gadis itu datang sendiri, sebab polisi yang tadi menerima laporannya lebih tertarik melirik blazer berbelahan dada rendah yang dikenakannya, ketimbang menindaklanjuti laporannya.

Hellena mencuci tangan dua kali dengan sabun merah muda beraroma mawar, lalu keluar dan berusaha bersikap biasa saja. Restoran itu sepi. Hanya ada seorang pelayan pria berwajah seperti tirai merosot yang sedang berkonsentrasi mengisi botol saus yang isinya setengah kosong. Hellena melihat peluang itu dan mengendap-endap menuju ruang belakang.

Ketika Hellena membuka pintu ruangan itu, ia menemukan sebuah kenyataan yang sangat mengerikan. Ada tiga orang sedang menetak potongan-potongan daging di atas meja beton bermarmer. Di antara tumpukan-tumpukan daging itu, yang paling mengerikan adalah onggokan kepala dan potongan kaki milik anak kecil.
Perut Hellena bersiap untuk meledak dan kepalanya terasa sakit luar biasa. Tiba-tiba gadis itu teringat tangisan perempuan paruh baya di kantor polisi yang sedang mencari anak bungsunya, lalu rasa takut hebat mencengkram dadanya. Ia meraba saku untuk mencari pisau, tapi pisau itu entah di mana. Ia cuma menemukan amplop putih yang menjadi alasannya datang ke restoran itu.

'ini kiriman daging segar terakhirku minggu ini. Selamat menikmati. Tertanda, Sam, anggota Klub Pemakan Daging.'
Usai membaca tulisan di secarik kertas di dalam amplop itu, lidah Hellena tercekat. Ia tak sanggup bersuara, sesuatu seolah menggumpal di tenggorokannya. Hellena berpikir untuk keluar dari restoran itu dan melarikan diri. Tapi tepat saat pikiran itu muncul, sesuatu yang keras menghantam tengkuknya, membuat pandangannya gelap dan sekujur tubuhnya mati rasa. (*)

Catatan
Cerpen ini pernah tayang di laman media online ideide.com, edisi 03 November 2020

Share:

Selasa, 16 Desember 2025

Udin Ingin Pergi ke Surga


Gembira di wajah Udin secerah langit tengah hari. Ia duduk di bale-bale bambu sembari menantikan  penjelasan ibunya tentang surga. Tidak ada hal lain yang bisa membuat Udin begitu gembira sekaligus penasaran selain surga. Sejak kecil Udin hanya tinggal bersama ibunya. Bila ia sedang merindukan sosok bapaknya, maka ia akan merengek-rengek dan bertanya tentang surga, sebab setiap kali ia bertanya tentang bapaknya, maka ibunya pasti memberi satu jawaban yang disukainya: bapaknya ada di surga.

“Di surga, aku betul bisa bertemu dengan bapak?” tanya Udin.

“Oh  tentu,” sahut Julaiha. “Di sana bapak menunggu kita. Kau bisa bertemu bapak di surga asal kau rajin salat, Nak. Kau sudah salat?”

“Aku baru selesai salat Zuhur, Mak,” jawab Udin riang.

“Iya, baguslah,” jawab Julaiha sembari mengusap kening anaknya. “Kau pasti akan bertemu bapak di surga.”

Udin mengangguk kemudian meraih tangan ibunya. “Aku pergi dulu, Mak. Mang Kasim pasti sudah menungguku di dermaga, assalamualaikum....” katanya usai mencium punggung tangan Julaiha.

Walaikumsalam, hati-hati, Nak.” Julaiha memandangi tubuh bocah kecil itu dengan dada rengkah seperti dihantam kayu berduri. Udin selalu merindukan bapaknya. Sungguh sebuah kerinduan yang tak akan pernah sampai ke muara.
***
Baca juga: Melati Oh Melati

Selepas pulang sekolah Udin pergi ke dermaga menemui Mang Kasim. Dengan perahunya, Mang Kasim kerap mengajak Udin mengantar hasil bumi dari desa-desa di pesisir yang hendak dijual ke kota kabupaten. Jalur sungai menjadi pilihan penduduk satu-satunya, sebab jalan beraspal belum sampai ke desa mereka.
Biasanya, selesai membantu Mang Kasim, Udin akan duduk di dermaga sampai senja. Tempat itu sebetulnya tidak layak disebut dermaga, tapi penduduk sekitar sudah kadung menyebutnya dermaga. Hanya ada sebuah gubug kecil beratap daun nipah dan beberapa tonggak kayu untuk menautkan tali perahu di sana. Gubug itu milik Mang Kasim. Letaknya tepat menghadap ke sungai dan perbukitan.

Udin pernah diceritai guru agamanya, bahwa di surga mengalir sungai-sungai dan gunung-gunung bercahaya. Senja yang berkilau dan mengoleskan pendarnya di permukaan sungai, warna kemerahan yang membungkus perbukitan, membuat Udin menjiwai apa yang diceritakan guru agamanya.

“Mang, apa kau pernah pergi ke surga?” tanya Udin pada lelaki beruban yang sedang duduk di sampingnya menjirat jala yang terkoyak. Siang hari sudah berganti menjadi senja ketika Udin melempar tanya itu pada Mang Kasim.

Lelaki tua itu terkekeh, “Kalau ingin pergi ke Surga berarti aku harus mati dulu, Din.”

“Kalau begitu Bapakku memang sudah mati.” Pandangan mata bocah itu lesat menembus awan-awan pirau di manik langit. Bola mata lugu itu berkaca-kaca. “Ibu selalu bilang kalau Bapak ada di Surga.”

Mang Kasim menghela napas. “Iya Ibumu memang benar, Din. Bapakmu ada di Surga.”

Mang Kasim menatap wajah Udin dengan dada disamaki rasa haru. Terlihat dari tatapannya, lelaki tua itu sangat meyayangi Udin. Masih lekat dalam ingatannya ketika Sobari dikabarkan tewas sepuluh tahun silam. Ketika itu Udin masih di dalam perut Julaiha. Di siang naas itu, ia dan orang-orang menandu tubuh Sobari yang mati ditimpa kayu di hutan Kelingi.

“Kenapa orang harus mati dulu agar bisa pergi ke Surga?” tanya Udin memecah lamunan Mang Kasim. Lelaki tua berkulit tembaga itu tercenung. Ia kehilangan kata-kata. Mang Kasim mencari kata paling mudah untuk dicerna pikiran kanak-kanak Udin. Seekor capung merah hinggap di ujung daun keladi, kemudian terbang lagi. Capung itu menjentik-jentikkan ekornya di permukaan sungai yang mengalir begitu tenang.

“Kau pernah melihat capung keluar dari punggung kumbang air?” tanya Mang Kasim.

Udin mengangguk. Mang Kasim tersenyum. Tak mungkin pula Udin tak tahu. Bocah itu nyaris menghabiskan separuh waktunya di pinggir sungai, mustahil ia tak tahu cikal bakal adanya capung yang kerap ia tangkapi bila sedang merasa bosan lantaran tak ada muatan atau jika arus sungai sedang tidak bersahabat.

“Seperti itulah mungkin cara menuju surga,” jawab Mang Kasim sebisa-bisanya. “Kumbang air harus mati dulu agar bisa menjadi capung. Capung yang bersayap dan dapat terbang ke banyak tempat.”

Mata Udin berbinar mendengar penjelasan itu, “Oh jika aku punya sayap dan bisa terbang. Aku bisa menyusul bapak ke surga,” katanya sambil berdiri merentangkan tangan seperti bersiap untuk terbang.

“Jangan dulu. Kau masih terlalu muda,” seloroh Mang Kasim. Lelaki tua itu tertawa hambar. Ia lalu menggantung jala dan meneguk kopi yang mulai dingin ditiup angin. Ada rasa pahit yang menggelontor di dada lelaki tua itu, rasa pahit yang berbeda dari rasa pahit kopi yang disesapnya.

Sesaat Udin terdiam. Kepala kecil itu mengangguk-angguk. Senyum terkulum di bibirnya. Senyum misterius yang hanya Udin yang tahu apa rahasianya. Bocah itu bangkit dari duduknya dan berlari cepat meninggalkan Mang Kasim tegak di lantai papan dermaga.

“Hei,Udin. Kau mau ke mana!?”
“Aku mau pergi ke surga!” jawab Udin tanpa menoleh. Ia berlari sambil merentangkan tangan. Kali ini dengan mengepak-ngepakan tangannya seolah betul-betul sedang terbang. Udin makin jauh meninggalkan dermaga dan gubug Mang Kasim. Lelaki tua itu hanya bisa tersenyum saat menatap tubuh Udin yang lenyap ke balik tikungan setapak yang dirimbuni semak ilalang.
***
Baca juga: Tenung

Malam sudah terlampau tua. Bulan membakar pucuk-pucuk pepohonan. Julaiha sudah terlelap, tapi Udin masih terjaga. Mata bocah itu liar menerawang ke langit-langit. Kata-kata Mang Kasim kemarin terngiang-ngiang di telinganya: cara pergi ke Surga cuma satu, ia harus mati dulu. Kata-kata itu seperti pulut yang menjerat pikiran Udin. Melekat erat hingga menciptakan ilham di kepalanya.
Udin betul-betul rindu. Ia ingin segera menemui bapaknya. Udin acap kali murung melihat teman-temannya bermain bersama bapak mereka. Sedangkan ia tidak. Cuma ada ibu dalam hari-harinya. Cuma ada Mang Kasim. Udin memejamkan matanya. Ia mendengarkan suara-suara di dalam kepalanya dengan hati dicekat tanda tanya.

“Seperti apa rupanya surga? Adakah Bapak di Surga?”

Demikian suara-suara dalam kepala Udin. Semua syarat pergi ke Surga sudah disiapkan. Ia tak pernah meninggalkan salat, sebab kata ibunya, salat adalah syarat utama masuk Surga. Udin juga telah menyiapkan bubuk yang ia temukan di gubug Mang Kasim.  Ia masih ingat raut tegang lelaki tua itu ketika ia menyentuh bubuk itu.

“Kau bisa mati!” jerit Mang Kasim dengan mata melotot. “Itu bubuk putas. Kalau dilihat orang sekampung bisa kena masalah kita!”

Udin tersenyum. Akal bulusnya berhasil mengelabui Mang Kasim. Ia berpura mengembalikan bubuk itu ke tempatnya dan Mang Kasim percaya. Saat lelaki tua itu silap mata, Udin menyambar bubuk itu lagi, lalu menyimpannya ke balik saku. 
Sekarang semuanya sudah siap. Udin akan memulai perjalanannya ke surga. Sesekali bocah itu melirik ibunya, meneliti seberapa lelap perempuan itu tertidur. Udin menyenggol kakinya, memastikan ibunya telah terbenam dalam mimpi. Setelah betul-betul yakin, barulah ia bangkit dan turun dari tempat tidur tanpa bersuara.
Bubuk itu ia tumpahkan ke dalam cangkir plastik, kemudian diaduknya dengan air. Setelah cukup larut, Udin kembali ke kamar. Ia meletakkan cangkir itu ke atas meja di sisi kanan tempat tidurnya. Udin menunggu azan Subuh bergema, baru ia akan  berangkat ke surga.

Waktu berjalan tertatih-tatih. Serangga malam di luar dan cicak di dinding papan rumah bernyanyi syahdu. Sementara di atas tempat tidurnya, Udin masih setia membuka mata. Benak bocah itu ditaburi kemungkinan-kemungkinan yang membuat hatinya ragu.

“Bagaimana kalau Bapak tidak mengenalinya? Atau bagaimana kalau Bapak tidak ada di Surga?”
***
Baca juga: Orang-Orang Pabrik


Mang Kasim berlari terengah-engah. Ia mendengar kabar bahwa siang itu ada penduduk yang mati minum racun. Rasa takut menusuk-nusuk. Alasan ketakutan itu teramat kuat. Bubuk putas yang ia simpan di atap gubug hilang. Tidak ada yang lain, pelakunya pasti Udin. Firasatnya tidak akan salah bila mengingat percakapan dengan bocah itu kemarin. Lari Mang Kasim terhenti. Bendera kuning terpancang layu di depan pintu. Suara orang-orang menangis terdengar jelas dari luar.

“Siapa yang meninggal?” tanya Mang Kasim pada orang-orang. Tidak ada yang menjawab. Dengan lutut gemetar, lelaki tua itu masuk ke rumah yang disesaki para pelayat. Di muka pintu lelaki itu terpancang kaku.

“Julaiha minum racun,” bisik seorang perempuan paruh baya.

“Iya, dangkal nian keputusannya. Apa tak terpikir olehnya nasib Udin?” sambung perempuan lain dengan nada prihatin.

Mang Kasim terduduk lemas. Para pelayat masih terus berdatangan. Namun di antara mereka tidak ada yang tahu bahwa tadi malam selepas Udin tertidur, Julaiha terbangun karena haus. Perempuan itu melihat cangkir plastik berisi air putih di atas meja. Ia meminumnya hingga tandas tak tersisa. (*)

Catatan
Putas: Potasium Sianida merupakan kristal lembab bewarna putih, larut dalam alkohol, air, dan gliserol. Kegunaan untuk ekstrasi logam, pelapisan elektro, dan insektisida. Sangat beracun. Banyak disalahgunakan masyarakat untuk meracun ikan.

Cerpen ini pernah tayang di harian Riau Pos, edisi Minggu, 02 Oktober 2016


Share:

Selasa, 25 November 2025

Melati Oh Melati


       Jika ada yang bertanya padaku, apa yang paling kubenci di dunia ini, maka pasti akan kujawab; namaku sendiri, Melati. Aku tak menyukai nama Melati, sebab nama Melati adalah luka. Riwayat yang tersemat padanya hanyalah senarai benci dan duka cita.
        Sejak kecil, aku terkucil. Tidak ada anak lelaki yang mau bermain denganku, sebab kata mereka, nama Melati adalah nama banci. Aku tentu tidak terima, sebab julukan itu menginjak harga diriku sebagai lelaki. Ketika olok-olok itu kusampaikan kepada bapak, beliau hanya menjawab, “Itu nama lelaki. Hanya lelaki sejati yang berhak menyandang nama Melati.”
    Sayangnya, jawaban itu tak bisa menghiburku, apalagi menyelamatkan harga diriku. Saat jawaban itu kusampaikan pada teman-temanku, mereka terbahak dan menudingku mengada-ada. Kata mereka, melati adalah nama bunga, dan bunga hanya cocok untuk wanita.
      Saat beranjak dewasa, olok-olok itu tetap membayangiku persis teror seekor hantu. Perihal hantu, aku tak tahu makhluk ini berekor atau tidak, tetapi jelas, hantu lebih beruntung, sebab nama yang tersemat padanya memiliki gema yang membuat gentar siapa saja. Sedang namaku? Sekali lagi, hanya senarai benci dan duka cita.
         Dari segi fisik, sebenarnya tak ada yang menunjukkan diriku ini banci. Tubuhku gempal dan kekar, kurajahi pula lengan kiriku dengan tato seekor naga. Wajahku persegi dan rahangku ditutupi brewok yang membelukar—yang sengaja kupiara agar  bisa menangkis tudingan bahwa aku banci. Tetapi lacur, semua usaha itu sia-sia.
        Lantaran tak tahan, aku pernah berniat mengganti nama Melati dengan nama lelaki sejati. Aku ingin mengganti nama menjadi Bakar bin Abdullah, Edi bin Abdullah, Joni bin Abdullah, atau apa pun asal jangan Melati bin Abdullah. Sayangnya cara itu tetap saja tak berhasil, orang-orang lebih menyukai namaku Melati.
         Ke mana-mana aku menanggung malu. Tidak di kampungku, tidak juga di perantauan, olok-olok nama Melati tidak bisa aku hindari. Aku bahkan pernah ditolak ketika mengajukan surat lamaran pekerjaan ke sebuah pabrik konveksi. Alasannya konyol sekali, lantaran namaku Melati dan juga tato naga di lengan kiri.
             “Sebuah kombinasi yang lucu,” kata personalia itu mencibir.  “Namamu Melati, tapi tubuhmu mirip kuli.”
        Jika tak bersabar, ingin rasanya kucekal tenggorokkannya lalu kubanting di atas meja kerjanya, agar ia tahu bagaimana lelakinya diriku ini. Tapi keinginan itu terhenti di dada saja, kenyataannya aku melangkah kalah dari ruang kerjanya, diiringi bahak tawa yang memuakkan di belakang telinga. 
             Nasib yang tak mujur di perantauan, membawaku kembali ke kampung ini. Berbulan-bulan mencari kerja di kota, tak ada satu perusahaan pun yang mau menerima. Jangan tanya apa sebabnya. Nama yang tak henti-henti merundungku dengan kesialan demi kesialan itulah penyebabnya.
              Kini, usiaku menginjak angka 25 dan bapak pun sudah kian menua. Setiap pulang kerja, beliau sering mengeluh separuh badannya mati rasa, asmanya kambuh akibat terlalu sering terpapar angin malam. Biasanya, usai mengeluh, beliau tertidur di kursi rotan dengan tubuh menguarkan aroma tuak.
          “Dulu bapak kerap menyambukimu dengan ikat pinggang hingga punggungmu luka lebam. Masih ingat?” tanya bapak pada suatu pagi.
                 “Tentu. Agar aku jadi lelaki sejati.”
          “Sekarang kau sudah jadi lelaki sejati,” ujar bapak memerhatikan tubuh dan penampilanku. “Tadi malam aku sudah meminta pada Kang Darmadi, agar kau menggantikanku menjadi penjaga di lokalisasi. Kau mau, kan?”
       Aku langsung mengangguk. Tak mungkin pula kutolak, karena kulihat tubuh bapak yang mulai ringkih itu, tak patut dipaksa bekerja terus-terusan. Aku harus tahu diri. Oleh karena itu, tak perlu berpikir dua kali, langsung kusambar tawaran itu. Lumayanlah, untuk mengusir rasa bosan hari-hariku sebagai lelaki pengangguran.
***
Baca Juga: Tenung

         Malam itu adalah malam ke tujuh aku menggantikan pekerjaan bapak, menjadi petugas keamanan lokalisasi Sedap Malam. Aku menyukai pekerjaan ini. Bekerja di dunianya para lelaki membuatku merasa menjadi lelaki sejati. Apabila ada yang tak kusukai, itu hanyalah para pengunjung kedai Mak Hindun yang selalu mengolok-olokku. Dan bahan olok-olok itu tentu saja namaku. Melati.
          “Kau selalu murung, Melati,” tegur Mak Hindun sambil meletakkan segelas penuh tuak yang menguarkan aroma menyengat ke hadapanku. “Berapa kaujual senyummu itu, sampai pelit betul kau memberikannya?”
            Aku mendengus tak acuh. Mak Hindun terkikik geli, disusul gelak tawa para pengunjung. Aku hapal betul siapa saja pengunjung yang paling sering mendatangi lokalisasi Sedap Malam ini, dan juga menjadi pengunjung tetap kedai tuak Mak Hindun. Kang Somad, Kang Gafur, termasuk Kang Darmadi kepala keamanan lokalisasi.
           “Bisa-bisanya bapakmu memberi nama itu,” cetus Kang Somad sembari mengerling padaku. “Kalau kaupoles bibirmu itu dengan gincu, mungkin akan ada lelaki yang mau menggerayangimu malam ini.”
          Serentak terdengar tawa membahana mendengar lelucon Kang Somad. Aku diam saja, sengaja mengacuhkan ledekannya. Tetapi rupanya, lelaki itu semakin kurang ajar dengan mulutnya. Rasanya ingin kutembus perut buncitnya dengan pisau di balik jaketku agar ia diam. Tapi sebisa-bisanya, kuredam keinginan itu.
           “Kau yakin ada yang doyan dengannya, Somad?” celetuk Kang Gafur, ditimpal tawa bergelak Kang Darmadi dan Mak Hindun. “Lihat muka anak Abdullah ini, kurasa mirip betul dengan ibunya.”
      “Anak ini lumayan juga,” cetus Mak Hindun membelaku. “Kalau aku masih muda, aku mau jadi istrinya.”
       “Tapi sayang, kau sudah tua,” tangkis Kang Somad dan lagi-lagi mereka tergelak bersama. “Dan namanya adalah Melati. Nama ibunya sendiri.”
              Raut muka Mak Hindun serta merta berubah. Kang Gafur dan Kang Darmadi berpura-pura tak mendengar ucapan Kang Somad. Tiga orang itu adalah pekerja paling lama di lokalisasi Sedap Malam ini. Dari perubahan air muka mereka, aku menangkap sesuatu yang ditutupi.
         “Ada apa memangnya dengan perempuan bernama Melati?” tanyaku hati-hati.
        “Betul kau belum tahu?” Lelaki itu bertanya balik. Matanya mengerjap dan alisnya bersijingkat seakan mempermainkan rasa penasaranku.
         “Sudahlah, Somad,” bujuk Mak Hindun agar lelaki itu tak melanjutkan ucapannya.
              “Sudah terlambat,” balas Kang Somad dengan sorot mata sinis ke arahku. “Anak ini perlu tahu rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh bapaknya.”
        “Katakan saja,” sentakku tak sabar. “Jangan bertele-tele.”
          “Ibumu memang pelacur. Bapakmu menikahinya saat ia sudah mengandungmu lima bulan,” jawabnya sambil memantik rokok yang baru dirogohnya dari saku. “Itulah kenyataannya. Kau boleh tanyakan itu pada Abdullah kalau kau tak percaya.”
         Perkataan Kang Somad membuat darahku mendidih. “Siapa yang kaumaksudkan itu?” tanyaku dengan mata mendelik tajam, menatap mukanya dengan geram. “Ibuku bernama Maimunah. Bukan Melati.”
          “Kau ini lugu atau dungu, heh?” ejek Kang Somad disusul kekeh pendek dari mulutnya. “Kukira kau sudah tahu riwayat itu dari mulut bapakmu dan mulut warga kampung ini. Bapakmu itu adalah pacar Melati, bekas ratu kecantikan di tempat ini.”
           “Jaga mulutmu, bangsat tua!”
      Kang Somad terdiam ketika kepalan tinjuku mendarat mulus di sudut bibirnya. Sorot mata, gurat keras tulang rahang, dan matanya yang menyorot tajam itu, cukuplah sebagai pertanda bahwa perkelahian dengannya tak mungkin bisa kuhindari. Ia memburuku dengan bangku kayu dan berniat menghantamku. Aku berkelit dan menantangnya di tanah lapang, di depan kedai Mak Hindun.
           Aku mencabut pisau yang terselip di pinggang. Jerit histeris para penghuni lokalisasi tak membatalkan niatku untuk memberi lelaki itu pelajaran berarti. Kusabetkan pisau ke lehernya. Kutikamkan pula ke dadanya. Darah segar menyembur. Lelaki itu terkapar dan aku berdiri dengan tubuh gemetar.
***
Baca juga: Ngaruh Rasan

          Atas apa yang telah kuperbuat, sang jaksa mengganjarku tujuh tahun penjara. Bapak datang menjenguk setelah satu minggu aku menjalani masa hukuman. Ia tersenyum muram ketika kuceritakan semua musababnya. Ia memandangiku lama sekali, seakan-akan menakar akibat yang akan kuterima apabila ia menyampaikan cerita sebenarnya.
          “Ini terakhir aku bertanya, apa arti nama itu?” tanyaku putus asa. “Apa benar aku ini anak pelacur?”
         “Kunamai kau Melati agar kau selalu ingat dari mana kau berasal,” kata lelaki itu dengan tatapan dingin. “sekarang kau telah membuktikan kalau kau adalah lelaki sejati, Melati. Kau memang anak pelacur, tapi bukan berarti kau bisa dihina! Di neraka sana, ibumu pasti bangga!”
          Di dalam jeruji, aku hanya bisa ternganga. Tak ada hasrat lagi untuk bertanya. Lantai yang kupijak seakan runtuh. Dinding penjara seakan melebur kemudian menguburku hidup-hidup. Aku terhenyak dalam kegamangan. Di luar jeruji, bapak tertawa. Aku berusaha menjangkau lehernya, mencoba mencekik batang tenggorokkannya, tapi tak bisa. Gema tawanya semakin lama semakin jauh, memantul berulang-ulang sepanjang lorong penjara. (*)


Catatan: cerpen ini pernah tayang di harian Solopos, edisi Minggu, 30 Juni 2019
Share:

Rabu, 22 Oktober 2025

Tenung



Kepulangan Ladimi yang begitu tiba-tiba, tentu saja membuat orang-orang Kampung Kelingi disergap rasa tak percaya. Bagaimana tidak, mereka masih mengingat dengan jelas peristiwa menggemparkan sepuluh tahun yang lalu, saat pemuda itu menghilang dengan cara misterius pada suatu petang yang bergerimis.

Pada saat itu orang-orang mencarinya. Tak ada lekuk Kampung Kelingi yang tak disusuri. Dari hutan Kemuning hingga sepanjang aliran Sungai Batang Meranti tak ada yang tak dijelajahi. Namun jangankan jasad, jejaknya saja tak ada. Pencarian itu tak menghasilkan apa-apa.

Satu tahun selepas menghilangnya Ladimi, Nyi Baiduri, ibu kandungnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Orang-orang bersepakat, perempuan itu mati akibat menanggung kesedihan lantaran hilangnya Ladimi, anaknya semata wayang, buah perkawinannya dengan Samiri, lelaki pendatang yang meninggalkannya saat Ladimi masih berusia tujuh bulan dalam kandungan.

Segelintir orang bersaksi, tiga malam sebelum Ladimi kembali ke Kampung Kelingi, mereka melihat kelebat bayang-bayang muncul dari jalan setapak menuju Bukit Mategelung. Kuat dugaan, kelebat bayangan itu adalah Ladimi. Namun, kesaksian itu diragukan keabsahannya, tersebab penuturnya adalah orang-orang yang biasa mabuk di lepau tuak Mak Jahroh.

Sejak kepulangannya, Ladimi langsung menjadi perbincangan. Orang-orang penasaran, ke mana Ladimi si bocah kumal bertubuh ceking itu pergi. Ia mungkin telah terkubur di suatu tempat, sebab Ladimi yang sekarang menjelma sosok pemuda tampan yang membuat gadis-gadis berebut mencari perhatian.

Jalan yang biasa dilewatinya saban pergi ke surau, menjadi tempat duduk-duduk para gadis. Apabila melihat pemuda itu lewat, mereka akan berebut melakukan apa saja untuk menarik perhatiannya. Tak jarang terjadi kericuhan kecil di antara mereka, dan semua itu tentu saja karena pesona dan kegagahan yang ada pada Ladimi.

Berbilang minggu kemudian, Ladimi menjadi biang mudarat di Kampung Kelingi. Jika ada rumah tangga retak, maka tudingan mengarah pada Ladimi. Jika ada pertunangan dibatalkan sepihak, maka tudingan juga akan diarahkan pada Ladimi. Singkatnya; Ladimi dianggap perusak hubungan lelaki dan perempuan di Kampung Kelingi.

Entah siapa pula yang mula-mula meniupkan kabar celaka itu. Mereka berkata Ladimi menyebarkan tenung pemikat yang membuat para wanita tergila-gila. Desas-desus itu mengeduk kembali hikayat kelam orangtuanya. Bagaimana Nyi Baiduri menjatuhkan pilihan pada Samiri—pemuda yang konon datang ke Kampung Kelingi tanpa sebab tanpa riwayat.

Sebagian orang berkata Samiri jelmaan Puyang Matauh. Raja Orang Bunian yang jatuh hati pada Baiduri, makhluk gaib yang mendiami Bukit Mategelung. Desas-desus perihal kesaksian orang-orang di lepau tuak Mak Jahroh beberapa waktu lalu, semakin memperkuat tuduhan itu. Ladimi anak titisan Orang Bunian.

“Kalian ingat dulu bagaimana Samiri memikat Nyi Baiduri?” kata Mat Boneh di hadapan puluhan orang yang duduk di lepau tuak Mak Jahroh.

“Ya, aku ingat,” timpal Dayat. Lelaki bertubuh gemuk itu dengan penuh semangat membumbui cerita Mat Boneh. “Nyi Baiduri meninggalkan Rosidi lalu menikahi Samiri, padahal rencana pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari.”

Nah, kalau begitu, kenapa harus heran? Tak akan syak lagi. Ladimi itu anak Orang Bunian. Pemuda itu pasti memakai tenung pemberian bapaknya.”

Orang-orang terdiam mendengar perkataan Mat Boneh. Konon tenung Orang Bunian itu memiliki daya pikat luar biasa. Dugaan itu cocok dengan Ladimi, bahwa hanya dalam tempo tiga bulan saja sejak kepulangannya, pemuda itu berhasil membuat banyak gadis jatuh cinta dan tergila-gila.

Bahkan bukan itu saja, sebagian lelaki itu mengaku pernah memergoki Ladimi membawa gadis-gadis itu ke rumahnya. Prasangka membiak di kepala mereka, tentulah pemuda itu melakukan perbuatan kotor yang mengundang bencana dan semua itu dilakukannya dengan tenung pemberian bapaknya. Makhluk jahat dari Bukit Mategelung.

Perihal cerita Mat Boneh, orang-orang pun tak mampu menyangkalnya. Sudah lazim dikisahkan turun temurun, bagaimana angkernya Bukit Mategelung. Di sana bertahta kerajaan Orang Bunian. Makhluk-makhluk setengah siluman yang kerap menjadikan anak-anak perawan sebagai pelampiasan syahwat dan pencabulan. Kisah ini beranak-pinak di tiap kepala dan menjadi dendam lama yang tak terbalaskan.

Ada baiknya perkara ini kita adukan pada Wak Zaini,” cetus Dayat geram. “Ladimi mesti diusir dari kampung ini. Kalau dia menolak, kita habisi.”

Usul keji itu dengan lekas disepakati. Mereka berbondong mendatangi kediaman Wak Zaini. Sebagai Tetua Kampung, lelaki tua itu hanya bisa mengamini. Ia berjanji akan meminta Ladimi pergi dari Kampung Kelingi.

***

 Baca Juga: Muslihat Seekor Domba


Aku tidak bisa menuruti permintaan mereka. Bahkan jika pun mereka membunuhku, aku tidak akan pergi dari kampung ini.

Wak Zaini memegang pundak Ladimi, “Aku percaya kau tidak melakukannya. Aku kenal baik mendiang ibu-bapakmu.”

“Aku tak pernah mengotori kampung ini,” kata Ladimi dengan mata menerawang. “Aku hanya ingin pulang.”

Ladimi lantas menceritakan pada Wak Zaini, perihal kepergiannya bertahun-tahun lalu, pada malam ketika ia dikabarkan hilang. Malam itu, bapaknya datang, setelah sekian lama menghilang. Orangtuanya bertengkar hebat. Ia masih terlampau belia untuk paham persoalan itu. Namun satu yang Ladimi tahu, bapaknya punya istri baru.

 Puncak dari pertengkaran itu, bapaknya pergi lagi, tapi kali ini membawa Ladimi. Ia yang masih belia, tak kuasa menolak kehendak bapaknya. Meski dirinya meronta-ronta, tangan kekar bapaknya memisahkan ia dengan ibunya. Malam itu juga, Ladimi dibawa ke pulau Jawa—tanah yang diakui sebagai asal bapaknya.

“Itulah cerita sebenarnya,” lirih Ladimi.

“Tapi kepala orang-orang kampung ini sudah kadung dipenuhi api. Aku tak ingin hal buruk terjadi padamu,” kata Wak Zaini mencoba mendesak Ladimi.

“Tak mengapa. Persoalan ini jangan sampai menjadi beban. Biarlah besok atau lusa, aku sendiri yang akan menjelaskannya,” pungkas Ladimi.

Mendengar jawaban itu, Wak Zaini tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengelus-elus kepala Ladimi, lalu meninggalkan pemuda itu tanpa bicara.

***

 Baca juga: Orang-Orang Pabrik


Malam itu, bulan membakar pucuk-pucuk trembesi tua. Sekelompok lelaki berkumpul di tanah lapang dekat pekuburan umum Kampung Kelingi. Di hadapan bias cahaya obor yang berkeridip, nama Ladimi disebut berkali-kali.

Kita sudah memperingatkannya, tapi tidak juga gubrisnya.

“Pemuda keparat itu mencari mati.

Puluhan lelaki berdiri, mengacungkan parang ke udara. Parang-parang itu berkilau ditimpa cahaya bulan. Kemudian bersusul-susulan dengan teriakan penuh amarah.

Hanya hukuman mati yang layak diterima tukang tenung.”

Ya! Dia harus dibinasakan!

“Ya! Cincang saja!”

“Ya! Habisi dia!”

“Ya! Ya! Ya!”

Memasuki tengah malam, rombongan itu mencapai kata sepakat; Ladimi harus mati. Mereka meninggalkan tanah lapang itu seperti barisan hantu yang baru bangkit dari kuburan. Lolong anjing dan remang cahaya bulan mengiringi langkah mereka hingga tiba di pelataran rumah Ladimi.

Terang nyala patromak dan api obor mampu menyibak kabut pekat malam buta, namun tak mampu menyibak kabut pekat di kepala mereka. Dua orang lelaki menendang pintu rumah Ladimi hingga terbuka. Pemuda itu sedang tertidur saat hantaman keras mendarat di pelipisnya.

Beberapa orang melempar obor ke atap dan beranda. Tanpa bisa dicegah, kobaran api membumbung ke angkasa, melahap pelan-pelan semuanya. Orang-orang kalap itu bersorak-sorai saat menggiring Ladimi menuju hutan karet di pinggir Kampung Kelingi. Pemuda itu berjalan dengan tangan terikat ke belakang. Sorot matanya memancarkan luka.

Dari kejauhan anjing-anjing menyalak tak berhenti, seolah melolongkan kabar kematian. Ketika mencapai pertengahan hutan, tiba-tiba angin bertiup kencang. Api obor dan segala alat penerangan padam. Orang-orang terpaku dalam kegelapan.

Setelah api obor dan alat penerangan berhasil dinyalakan, mereka kaget bukan kepalang. Di hadapan mereka hanya teronggok seutas tali dan setitik dua titik darah yang membekas di ujung helai rerumputan. Orang-orang beringas itu saling pandang dengan wajah tercekat ngeri. Sesuatu yang ganjil telah terjadi. Ladimi hilang lagi.  (*)


Cerpen ini pernah tayang di laman Sanggarcaraka.com, edisi 1 April 2021

Share:

Advertisement

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray

Ketika Russel Donovan di bawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketik...

Labels