Jumat, 17 April 2026

Hellena dan Teror Sesosok Hantu


Seekor singa meringkuk di atas rerumputan, terbingkai di dalam poster yang tergantung di dinding, menatap tajam pada sesosok perempuan yang tengah duduk di ruang interogasi. Perempuan itu adalah Hellena Andersen. Sudah hampir satu jam dia berada di sana, menunggu kepastian dengan kondisi tangan dan kaki diborgol.

Hellena memperhatikan tiap penjuru ruangan dan segera menyadari betapa tua gedung itu.  Dia bisa merasakan residu kejahatan menempel kokoh di sekujur dinding dan lantai ubin, seeolah-olah dosa penjahat-penjahat lama yang pernah diinterogasi di ruangan itu merembes melewati celah yang tercipta pada retakan di lantainya.

Perhatian perempuan itu  baru teralihkan ketika di belakangnya terdengar suara derit pintu. Seorang lelaki paruh baya langsung duduk di hadapannya tanpa perlu repot-repot bertanya apakah dia keberatan atau tidak. Hellena pun bersikap sama. Dia tak peduli.

“Sepertinya hari ini saya sedang sial,” ucap lelaki itu membuka percakapan. Dia merogoh kantong kemeja dan mengeluarkan sebungkus rokok lalu menawarkannya sebatang pada Hellena.

Perempuan itu menggeleng. “Saya tidak merokok,” jawabnya dengan suara datar.

“Oh, maaf,” ucap lelaki itu sambil memasukkan kembali bungkus rokoknya ke dalam kantong. “Sebenarnya saya tak pernah suka berurusan dengan perempuan, tapi hari ini saya diminta menggali beberapa keterangan tambahan dari Anda. Apakah Anda sudah siap, Nyonya Andersen?”

Hellena mengangguk, menegakkan badan, bermaksud merenggangkan tulang punggungnya yang terasa pegal akibat duduk terlalu lama. Lelaki paruh baya berkepala botak itu membuka selembar map dan membiarkan foto-foto di dalamnya berserakan di atas meja.

“Ini adalah foto-foto hasil perbuatan Anda tadi malam,” ucap lelaki itu tenang. Dia menjentikkan abu rokok ke lantai, lalu menambahkan, “saya yakin Anda bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Mendengar kalimat itu dagu Hellena terangkat sedikit dan matanya berkilat. “Selama ini saya hidup dengan hantu,” ujarnya dengan suara meninggi. “Hantu itu mengganggu saya sepanjang waktu.”

“Saya harap Anda bekerja sama dengan baik,” ucap lelaki itu sambil melihat jam tangan. “Saya tak punya waktu mendengarkan omong kosong. Percuma saja berpura-pura gila. Tingkah seperti itu tak akan menyelamatkan Anda.”

“Tapi saya mengatakan yang sebenarnya,” jawab Hellena hampir menangis. “Saya tidak membunuhnya. Saya hanya membunuh hantu yang bersemayam di tubuhnya.”

“Oh ayolah, itu alasan yang menggelikan.” Lelaki itu tertawa lebar. “Hantu yang kausebut itu sekarang masih berada  di kamar mayat. Dokter dan tim forensik sudah memastikan jika penyebab kematiannya adalah luka tikaman di dada dan di leher.”

“Brengsek!” maki Hellena kesal dan terdengar putus asa. “Harus berapa kali saya katakan, saya tidak membunuhnya. Saya membunuh hantu!”

“Baiklah saya mengerti,” jawab lelaki itu tenang dan tersenyum. Dia berdiri sambil melumat rokoknya ke atas meja lalu meninggalkan Hellena tanpa bicara. Tak berapa lama kemudian seorang lelaki berseragam masuk dan memapahnya keluar dari ruang interogasi.


Hellena ternyata dibawa ke sebuah ruangan lain yang lebih sempit. Sebagian dinding ruangan itu dipasangi terali besi. Lampu bohlam lima watt berpendar redup di atas kepalanya. Aroma pesing tercium di seluruh penjuru, menjadi sambutan tak menyenangkan atas kedatangannya sebagai penghuni baru.

Segera setelah masuk ke ruangan itu, Hellena langsung merasakan dampak buruk sebuah sel isolasi. Perempuan itu mencengkram kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Dia yakin foto wajahnya sekarang telah terpampang di halaman pertama koran-koran dan kisah tragisnya dijadikan tajuk utama berita-berita di televisi.

Hellena merasa terjebak dan kehabisan cara untuk membuat orang-orang itu percaya. Dia bersikeras hanya membunuh sesosok hantu yang telah bertahun-tahun mengganggunya. Di persidangan nanti sang jaksa pasti mengetuk palu dan menyatakan dirinya bersalah atas pembunuhan tingkat dua terhadap manusia, bukan sesosok hantu seperti yang dipercayainya.

Satu hari yang lalu, sebelum seregu polisi membawanya ke dalam penjara, perempuan itu tengah berada di halaman rumahnya, merasa linglung dan hilang kemampuan berpikir. Sekujur tangannya berlumuran darah. Aroma anyir meruapi rongga penciuman, membuat otot perutnya mendadak kejang dan menimbulkan rasa mual yang hebat.

Perempuan itu membungkuk, mencoba memuntahkan seluruh isi perut, tetapi yang keluar hanya angin dan juntaian ludah kental menjijikkan. Dia memejamkan mata dan merasa sangat yakin, hantu yang bertahun-tahun mengganggunya itu sudah mati. Hellena menyeringai senang. Dia berhasil memenangkan pertarungan dengan gemilang.


Perihal hantu tersebut, dia masih ingat tatapan mata jahat itu saat pertama kali Hugo memperkenalkannya. Tatapan itu menyiratkan kebencian yang dalam. Bahkan bertahun-tahun setelah pernikahannya dengan Hugo, Hellena tak pernah melihat tatapan bersahabat di mata hantu itu.

Sebenarnya, Hellena sudah pernah bicara pada Hugo tentang permasalahannya, tetapi lelaki itu hanya diam. Dia juga mengatakan bahwa perilaku baik yang ditunjukkan sang hantu hanya tipuan, kedok palsu yang sangat mengerikan. Tetapi Hugo selalu menyangkal dan berkata bahwa semua baik-baik saja. Dia dan sang hantu hanya butuh sedikit waktu untuk menjadi akrab. Tapi meskipun sudah memasuki tahun ke lima, kata-kata Hugo tak kunjung menjadi kenyataan.

Keberadaan hantu itu selalu terasa asing bagi Hellena. Dia terlalu pintar menutup diri, jauh dan tak terjangkau. Menurutnya, sang hantu hanya menyamar menjadi manusia. Hal-hal asing dan menakutkan itu bergolak di balik matanya yang hampir tak pernah bercahaya. Setiap bertatapan, Hellena menemukan keheningan di sana. Di kedalaman jiwanya sudah ada sesuatu yang mengancam.

Mulanya, Hellena berkata pada dirinya sendiri bahwa pemikiran itu terlalu mengada-ada. Sosok yang dia sebut hantu tersebut tidak berbeda dari anak-anak lelaki lain. Memang dia pendiam, selalu menyendiri, namun perempuan itu tertipu. Hantu itu memang memiliki bakat alami hebat dalam berbohong—seolah-olah dia memiliki dua kutub di dalam tubuhnya yang dihuni dua kepribadian yang berbeda.

Selama ini, Hellena selalu berusaha bersikap baik, tetapi dia tak pernah tahu siapa atau apa sesungguhnya yang berada di dalam tubuh sang hantu. Satu tahun belakangan, Hellena merasakan perubahan drastis pada diri sang hantu. Hantu itu menunjukkan rasa ketertarikan yang aneh pada dirinya, mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhnya, dan sejauh yang Hellena tahu, itu kerap dilakukannya saat dia sedang sendirian di rumah.

BACA JUGA: Rimba

Ada rasa lapar menakutkan di dalam diri hantu itu. Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan. Sesuatu yang ganjil dan diselimuti misteri. Kesimpulan itulah yang membuat Hellena membujuk Hugo untuk mengirim hantu itu pergi. Sekali waktu permintaannya dipenuhi. Hantu itu dititipkan ke sekolah asrama lalu tinggal dengan ibu kandungnya, tapi dia kembali lagi dengan membawa nafsu yang lebih besar.

Hellena mengira, tumbuh dewasa akan menyembuhkannya dari apa pun itu yang telah mengubahnya menjadi sesosok hantu. Tetapi hantu itu sangat kuat dan tak terkalahkan. Sepanjang hari Hellena tersiksa, hidup seatap dengan pemangsa.
Hingga puncaknya terjadi malam itu—Hellena menyebutnya malam paling terkutuk—Hugo sedang tidak berada di rumah. Lelaki yang berprofesi sebagai karyawan swalayan itu sedang mendapat giliran shift malam. Dan seperti malam yang sudah-sudah, jika suaminya tak di rumah, Hellena mengunci diri di kamar. Namun entah bagaimana, saat dia tengah tertidur, hantu itu sudah berada di atas tubuhnya, mencoba memaksanya takluk di bawah todongan sebilah pisau.

Hellena merasa kaku saat tangan hantu itu menyusuri tiap lekuk tubuhnya, lalu meremas hati kecil merah muda di dadanya. Sebuah suara di kepalanya menjerit, sementara tangan itu tetap di sana dan terus meremas, seolah yang dia genggam adalah jantungnya sendiri.

Selama detik-detik menakutkan itu terjadi, Hellena betul-betul tak ingin melihat, namun tak berani pula untuk berpaling. Hantu itu mendorongnya, menindih tubuhnya dengan pisau yang terus menempel di urat leher. Pisau itu berhasil menciptakan rasa takut yang sangat dingin. Puncak rasa takut itu berhasil melumpuhkan seluruh tenaganya.

Hellena tak memiliki keberanian untuk melawan. Meski baru berusia enam belas tahun, tapi tubuh sang hantu sudah setara dengan tubuh lelaki dewasa. Tubuh mungil Hellena dibuatnya tak berdaya. Lengan kekar itu berhasil menguasainya dengan sempurna.

Makhluk jahat itu menekan lutut Hellena sedikit lebih kuat sebelum membukanya. Tetapi tidak, dia tak boleh melakukannya, demikian jerit dalam hati Hellena. Kekuatan itu muncul bagai sebuah mukjizat, dalam diam memintanya melakukan perlawanan.

Perempuan itu berguling dan menendang hingga tubuh hantu itu terjengkang. Hellena berhasil merebut pisau dari tangan sang hantu. Dia mengacung-acungkannya ke depan. Hellena merasa kuat dan berkuasa ketika wajah hantu itu menunjukkan ketakutan, tapi sesuatu di dalam dirinya menginginkan lebih. Hellena menjerit histeris lalu melompat ke depan.

Kilatan-kilatan putih berpendar seiring pisau di tangannya menciptakan danau merah di lantai kamar. Hellena merasa lega dan tertawa gembira. Perempuan itu merasakan perubahan sifat yang mencengangkan. Dia menyukai warna merah darah yang membasahi gaun tidurnya. Dia menyukai rasa lembut dan bunyi daging tercabik saat dia mengayunkan pisau. Dia menyukai sensasi jahat yang merebak di dadanya saat hantu itu berpindah ke tubuhnya. (*)

Cerpen:
Cerpen ini pernah tayang di Tempo, Edisi Minggu, 21 Maret 2020

Rabu, 15 April 2026

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu


Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount."

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumahtangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.
Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.


“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada. 

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla. “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kaupulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar...” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku, Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci? Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

BACA JUGA: CENGKUNG

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel itu pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.
Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelpon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.
***

 
Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumahtangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya. 
Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.
Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.
Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.  (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di ideide.id, edisi Minggu, 1 Januari 2020

Suara dari Balik Pintu Kamar


Laura menekan tombol play pada ipad-nya dan menempelkan earphone-nya ke telinga. Ia duduk bersandar di sandaran ranjang, berusaha bersikap tenang. Tindakan ini membuat ia merasa lebih baik sekaligus lebih sedih. Lebih baik karena aman dari suara-suara keras itu, dan lebih sedih karena merasa diabaikan.
Setetes air mata bergulir di pipi Laura. Ia ingat, seminggu yang lalu ia dan mamanya duduk di taman kota. Ia bertanya, apakah mama akan berpisah dengan papa? Tapi mama tak menjawab. Laura justru dimarahi, karena sudah bertanya sesuatu yang tak boleh diketahui.

Jika dua orang dewasa sering bertengkar, biasanya mereka akan berpisah, begitu kata Stefani, teman sekolahnya saat ia bercerita jika mama dan papanya sering bertengkar. Saat ini Laura merasa takut pada ucapan Stefani. Ia takut ucapan Stefani menjadi kenyataan.

Sebenarnya Laura ingin bertanya, bertanya perihal penyebab pertengkaran mama dan papa, namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Mama dan papa tak pernah mau menanggapinya. Bahkan yang paling membingungkannya adalah sikap papa dan mama. Laura merasa asing di mata mereka.

Dulu, sebelum malam-malamnya diteror oleh suara itu, kehidupan terasa wajar. Seperti biasa, papa sering tidak pulang, bahkan bisa satu minggu. Kemudian seperti biasa, mama masih mengantarnya ke sekolah. Tetapi perubahan mulai muncul ketika papa pulang bersama Tante Rosana. Sejak itulah mama dan papa sering bertengkar.

Dalam pertengkaran mereka, nama Tante Rosana selalu disebut-sebut mama. Laura tak mengerti, mengapa nama perempuan itu selalu disebut. Bahkan jika mama sudah menyebut nama itu, papa akan berteriak dan mengatakan bahwa Tante Rosana lebih baik dari mama. Laura tak setuju. Menurutnya, mama lebih baik dari Tante Rosana. Di mata perempuan itu, Laura melihat seribu semut merah yang berniat menyakitinya. Seperti mama, Laura tak suka Tante Rosana.

BACA JUGA: CENGKUNG

Selama ini, Laura tak pernah menyembunyikan kesedihannya, karena mama dan papa selalu mengajarinya untuk berterus terang. Namun, sekarang Laura mendapati kenyataan yang menyakitkan; ia tidak mendapatkan itu dari mama dan papa. Mama dan papa bersikap seperti orang asing. Mereka tak pernah mau berterus terang tentang apa yang terjadi.

Biasanya, dulu, papa akan menghampirinya jika ditemui ada kesedihan di wajah Laura. Papa akan menggendongnya keluar kamar, sambil menggelitiki pinggangnya hingga Laura tertawa nyaring. Dan kalau ia sudah lelah tertawa, barulah papa akan mendudukannya di sofa. Biasanya mama juga sudah menunggu di sana, lalu mereka bertiga menyusun rencana-rencana ajaib untuk mengisi libur akhir pekan.

Saat ini Laura merindukan masa-masa itu. Ia sedang merindukan dongeng-dongeng mama. Dulu, biasanya jika ia tak bisa tidur, mama akan membacakan sebuah dongeng untuknya. Dongeng yang paling ia ingat adalah dongeng tentang puteri cantik yang terperangkap di dalam puri penyihir. Puteri cantik itu terpisah dari mama dan papanya hingga seorang peri menyelamatkannya.

Entah kenapa, sekarang Laura merasa dirinya seperti puteri cantik itu: terperangkap dan terpisah dari mama dan papa. Namun Laura tidak yakin ada peri yang akan menyelamatkannya, sebab Laura tahu, peri hanya ada di dalam dongeng mama. Tak pernah ada peri yang akan menemaninya. Di kamar ini ia menangis sendirian.

Suara-suara itu membuat Laura putus asa. Bahkan meskipun volume lagu di ipad-nya sudah dikeraskan, suara-suara itu masih saja terdengar. Dengan gerakan pelan, Laura meraih selimut dan menutupi sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki, berharap dengan cara itu ia tak lagi mendengar suara-suara di luar kamarnya.
Betapa menjengkelkan situasi yang terus diulang-ulang seperti ini, pikir Laura. Situasi yang sama ketika ia dan mama berada di pantai bulan lalu. Papa yang tiba-tiba hadir mulanya membuat Laura gembira. Ia ingin mengajak papa berlomba mengumpulkan kerang, namun sikap dingin papa membuat Laura memilih mengumpulkan kerang seorang diri.

Pada saat itulah untuk pertama kalinya Laura berharap kemunculan sesosok peri. Peri yang terbang di sekitar kepalanya, mengenakan gaun putih dan sebatang tongkat wasiat. Laura berkhayal peri itu akan memutar-mutar tongkatnya, mengeluarkan kemampuan sihirnya lalu menyulap mama dan papa menjadi patung.



Sore itu, sewaktu mereka pulang ke rumah—tentu saja hanya ia dan mama yang pulang, sebab papa telah pergi usai Laura menyelamkan kepalanya ke laut untuk ke lima kalinya—Laura mendapati bekas kebiruan di pinggir bibir mama. Bekas terantuk batu, kata mama. Tapi siapa yang percaya? Mama bukanlah Nenek Christine, tetangganya yang bermata lamur itu. Mata mama lebih awas dari mata seekor elang. Laura pernah membuktikannya: ia sering tertangkap saat sedang mengendap-endap keluar jendela ketika jam tidur siang.

Beberapa hari kemudian bekas biru yang misterius itu menghilang dari wajah mama. Bersamaan dengan itu, Laura juga kehilangan papa. Papa betul-betul berubah. Perubahan itu membuat Laura takut. Udara yang terembus dari mulut papa kerap berbau busuk. Pada mata papa, Laura melihat ribuan semut merah yang dulu ia lihat ada di mata Tante Rosana.

Sebagian dirinya tidak menyalahkan perubahan papa—meski itu bukanlah hal yang diinginkannya—setidaknya masih ada mama yang tidak berubah. Tapi bagaimana jika mama juga ikut berubah? Laura ingin menangis. Pertanyaan itu membuat air matanya keluar lagi. Semakin keras suara-suara itu, semakin deras pula kejatuhan air matanya.

Hal yang paling ditakuti Laura apabila mama dan papa berpisah ialah kesepian. Tanpa mama dan papa, ia hanya gadis kecil yang berkeliaran tidak keruan di dalam rumah ini. Bagaimana jika mama dan papa betul-betul akan berpisah? Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup? Pertanyaan itu membuat tenggorokan Laura tercekik dan jantungnya berdebar.
Laura mencengkram bantal sekuat tenaga. Bahu dan lengannya gemetar. Laura mengerang. Untuk sesaat ia merasa perutnya kejang, tapi untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama. Ia menahan perasaan tak nyaman itu dalam diam dan menangis tersedu-sedan.

“Peri,” bisik Laura lirih. “Bisakah kaudatang?”

Laura melihat ke arah lampu yang tergantung di langit-langit kamar. Ia mencari sosok peri yang sering didongengkan mama. Ternyata peri itu terbang di atas sana, membelakangi cahaya lampu, bayangannya begitu jelas. Sayap peri itu mengepak dan Laura menunggu ia menggerakkan tongkat wasiatnya.

“Bisakah kau membuat mama dan papa menjadi patung?” kata Laura memohon. “Untuk malam ini saja,”

Peri itu diam saja. Ia mengabaikan permintaan Laura. Bahu Laura berguncang-guncang, karena kali ini ia menangis lebih hebat dari yang pertama. Ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepala. Lampu masih menyala. Peri telah lenyap. Tentu saja tidak pernah ada peri di kamar itu. Laura tahu itu. Peri hanya dongeng yang diulang-ulang mama.

“Tapi rasanya begitu nyata,” ucapnya dengan suara serak. “Peri itu begitu nyata!”

Baginya bukan masalah dengan harapan buruk yang baru saja ia pikirkan: peri menyulap mama dan papa menjadi patung. Ia cuma berharap dengan begitu mereka akan lebih tenang. Tetapi sayangnya tak akan ada peri, tak akan ada patung, tak akan ada keajaiban untuk Laura.


Waktu telah menunjukkan pukul satu malam, Laura kembali berusaha memejamkan mata, mencoba menikmati alunan lagu di ipad-nya. Ia sama sekali tidak ingin bangun dari tidurnya apalagi menemui mama dan papa. Laura hanya ingin meringkuk di atas ranjang, mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, dan kalau bisa, ia ingin tidur.

Angin berembus pelan, menyusup dari jendela kamar yang sedikit terbuka, membuat gorden menari seperti seorang balerina. Angin menyentuh kulit Laura dan ia merasa sejuk. Setelah satu atau dua menit, Laura melepas earphone-nya. Suara-suara tadi kini berganti suara-suara benda berjatuhan dan pecah. Suara benda pecah itu cepat berganti dengan suara mama.

Ketakutan Laura semakin menjadi-jadi ketika papanya berteriak; mati! mati! mati!. Teriakan papa kemudian  berganti menjadi suara tangis sesenggukan. Setelah itu semuanya hening. Hening yang panjang dan suram. Waktu bergerak lamban. Suara itu menghilang. Di atas ranjang, Laura tertidur. Di dalam tidur ia bermimpi bertemu peri. (*)

Catatan:
Cerpen pernah tayang di Warta Bianglala, edisi Minggu, 11 April 2021