thumbnail

Perkutut Keberuntungan

Entah milik siapa perkutut yang terbang kesasar di pagi itu, tampak jinak dan masuk begitu saja saat Ucok membuka jendela. Ia membelai-belai kuduk burung itu dengan lembut,  lalu dimasukkannya ke sangkar murai batu miliknya yang mati beberapa minggu lalu. Menjelang tengah hari, Maryamah datang membawa serantang nasi. Di sangkarnya, burung itu berkicau nyaring, seolah memberi sambutan hangat pada Maryamah.

“Abang dapat dari mana burung itu?” tanya Maryamah ketika mendapati sangkar burung tergantung lagi di bawah atap beranda setelah lama tak kelihatan.

“Tadi pagi burung ini masuk ke ruang tamu,” jawab Ucok sambil menjentik-jentikkan jarinya ke arah sangkar, memancing perkutut itu untuk berkicau. Burung itu mendengkur sambil menjinjit-jinjitkan bulu ekornya. Ucok tertawa senang melihat polahnya.

“Kenapa tak kaulepaskan saja?”

Ucok menggeleng, lalu duduk di bale bambu yang melintang di beranda. “Suaranya bagus, sayang kalau kulepas.”

“Sudah, makanlah dulu, Bang. Tadi aku masak lodeh labu siam kesukaanmu,” ucap Maryamah tak lagi menanggapi soal perkutut. “Aku mampir tak akan lama.”

“Mau ke mana?” tanya Ucok sambil membuka rantang dan menciduk nasi dari dalamnya.

“Menemui Hamidah.”

“Sampaikan salamku untuknya, ya,” kata Ucok tersenyum merona.

“Beres,” jawab Maryamah sambil tertawa. Usai berbincang-bincang sejenak, perempuan muda itu bertolak dari beranda, meninggalkan Ucok melahap makan siangnya sendirian. Perkutut berbunyi nyaring, seiring angin sepoi menggoyang lembut sangkar barunya.

Memang, sejak menikah, setiap tengah hari Maryamah mengantar rantang nasi untuk Ucok. Iba dia pada abangnya itu, tersebab sudah hampir kepala empat, belum juga sampai jodohnya. Di rumah panggung peninggalan orang tua mereka itu Ucok tinggal seorang diri. Lantaran cemas kalau Ucok tak masak, Maryamah pun rutin mengantar masakan untuknya.

Sudah banyak yang dikorbankan Ucok untuk Maryamah, termasuk mengorbankan dirinya sendiri: melajang sampai tua. Maryamah masih umur lima tahun saat orangtua mereka berpulang karena kecelakaan saat hendak menghadiri kenduri pernikahan kerabat di desa tetangga. Ucok yang ketika itu baru tamat kuliah, memutuskan mengurus kebun kelapa peninggalan orangtuanya. Dengan sekuat tenaga dia merawat Maryamah seorang diri dan tak mau membebani sanak-kerabatnya.

Sekarang, pengorbanan itu tidaklah sia-sia. Selepas menamatkan kuliah dan menjadi guru, Maryamah menikah dengan Nasution, dan sekarang tinggallah Ucok berkonsentrasi memikirkan keberlangsungan hidupnya sendiri. Target yang dirancangnya adalah menikah. Namun, masalahnya calonnya belum ada dan andai pun ada, biayanya belum pula memadai. Kegelisahan itu rupanya terbaca oleh Maryamah, atas inisiatifnya pula, dia mencoba menjodohkan Ucok dengan Hamidah, teman sesama gurunya, namun usianya tak berjauhan dengan Ucok. Boleh dikata, Hamidah juga seorang perawan tua.

Sebenarnya, sudah cukup lama pula Ucok menaruh hati pada Hamidah, tapi dia tak berani terang-terangan mengungkapkannya. Maryamah yang paham niat abangnya itu, tentu saja mendukung apabila Ucok mau mempersunting Hamidah. Selebihnya, tanpa Ucok tahu, Maryamahlah yang bekerja diam-diam menjajaki kemungkinan menjodohkan abangnya dengan Hamidah.
***

Kabin mobil pick up milik Herman sudah penuh dengan butir kelapa yang baru saja dipanen. Sambil beristirahat, Ucok dan Herman berbincang-bincang di beranda sambil menikmati kopi dan kretek. Tengah asik berbincang soal harga kopra, tiba-tiba perkutut Ucok berkicau nyaring dan membuat Herman terdiam dengan wajah terpukau.

“Burungmu itu dapat dari mana, Cok? Bagaimana kalau kau jual saja padaku?” Herman menjentik-jentikkan jarinya ke arah sangkar perkutut. Burung itu menjinjit ekornya dan meloncat-loncat lincah.

“Aku mendapat burung itu lewat mimpi,” kata Ucok dengan mimik wajah berpura-pura serius. Tentu saja cerita itu karangannya belaka, agar Herman makin terpesona pada perkututnya.

Herman memang penyuka burung, sebagai tauke kopra yang punya uang lebih untuk memuaskan hobinya, Herman mengkoleksi beragam jenis burung pekicau mahal. Setahu Ucok,  di antara kebanyakan burung pekicau, perkutut biasanya hanya dianggap burung pekicau biasa. Tidak ada yang istimewa. Ucok sedikit heran, apa sebenarnya yang dilihat Herman dari perkutut itu hingga ingin membelinya.

“Sudah, kau jual sajalah padaku. Berapa kau minta harga?” tanya Herman sekali lagi.

Ucok tertawa lepas, merasa jeratnya mengena. “Tak akan kujual. Ingin kupelihara sendiri saja.”

Herman mendengus kecewa mendengar jawaban Ucok. Menurutnya, perkutut itu bukan perkutut sembarangan. Dijelaskannya pada Ucok bagaimana istimewanya burung itu.

“Ini Perkutut Putih yang sudah lama kucari, Cok,” kata Herman serius. “Burung ini burung langka, banyak gunanya untukku. Salah satunya penolak bala dan lancar usaha.”

Ucok mengangguk-angguk, menyimak penjelasan Herman. Dia pernah mendengar tentang kepercayaan orang Jawa seperti yang disampaikan Herman, tapi Ucok tak percaya pada hal-hal seperti itu. Baginya, burung itu tak lebih dari burung biasa, yang kesasar masuk rumahnya. Sebenarnya, jika diminta pun, Ucok bisa saja memberikannya cuma-cuma, tapi melihat keseriusan minat Herman pada burung itu, timbullah niatnya untuk mematok harga.

“Kau serius ingin membelinya?” tanya Ucok setengah enggan untuk percaya. Semula dikiranya candaan tadi tak akan begitu serius ditanggapi Herman. Sudah kadung bersandiwara, lantas diteruskannya saja bualannya.

“Apa aku ini kelihatannya sedang bercanda?” tanya Herman sedikit sebal.

Ucok tertawa. Betul juga sanggahan itu, selama Ucok mengenal Herman, lelaki itu jarang betul berkelakar. Jadi, mendengar ucapannya tadi, dan mengingat kepribadiannya selama ini, tak ada celah bagi Ucok untuk meragukan ucapan Herman.

“Bukan begitu maksudku,” sanggah Ucok berpura-pura tak enak hati. Diseruputnya kopi di gelas sedikit, kemudian lanjut bicara, “aku sayang betul dengan perkutut itu. Terlebih usai mendengar penjelasanmu tadi. Aku merasa, sepertinya burung itu memang berjodoh dengan diriku, Man.”

Terbit rasa sungkan di wajah Herman mendengar pengakuan Ucok, namun tak cukup kuat untuk menepis rasa inginnya pada perkutut itu. Di dalam sangkarnya, burung itu berkicau lagi, lalu mematuk-matuk butir jewawut di wadah makannya. Herman mendesah kecewa, dirayunya kembali Ucok dengan sedikit nada menghiba.

“Ayolah, Cok,” bujuk Herman. “Tak akan murah aku menghargainya. Aku butuh betul burung ini. Sudah lama sekali aku mencari perkutut putih seperti ini.”

Giliran Ucok yang mendesah, diembusnya napas berat dan berpura berat hati menjawab tawaran Herman. “Aduh, bagaimana, ya?” kata Ucok unjuk raut bingung. Sandiwaranya betulan sempurna, hingga Herman menatapnya dengan penuh harap.

“Sebutkanlah harganya, Cok,” desak Herman tak sabaran. “Asal jangan kau minta miliaran, tak ada uangnya aku.”

“Baiklah,” kata Ucok setelah berpikir-pikir sejenak. “Burung itu kujual padamu, tapi terus terang saja, aku ingin mahal.”

“Berapa? Wajah Herman berubah gembira. “Lima belas juta, bagaimana?”

Nyaris tersedak Ucok mendengar angka yang disebutkan Herman. Tak dikiranya angka yang disebut akan segila itu. Lima belas juta bukanlah angka yang sedikit. Perlu lima atau enam kali panen agar dia bisa punya uang sebesar itu. Dalam pikirannya, Ucok berangan-angan, mungkin inilah rejekinya untuk biaya menyunting Hamidah. Seketika bungah hati Ucok, perkutut nyasar itu seolah dikirim untuk memecah persoalannya.

“Baiklah, kulepas padamu. Lima belas juta,” jawab Ucok dengan suara bergetar karena masih diliputi rasa tidak percaya.

“Tiga hari lagi, aku bawa duitnya, sekalian membayar kelapa yang hari ini kaujual,” ucap Herman serius. “Lima belas juta, ya. Jangan naik lagi. Jangan pula kaujual ke orang lain.”

Ucok mengangguk. Dalam hati dia mengucap hamdalah berpuluh-puluh kali. “Aku tunggu,” jawabnya berusaha menekan air muka senang yang mengembang di kedua sudut bibirnya. Dalam hati Ucok bersorak gembira, uang sebesar itu tentulah cukup untuk menambah biaya menikah dengan Hamidah.
***

 Pucuk cinta ulam pun tiba, pada suatu siang yang tak terlalu panas, sebab hujan baru saja reda, Maryamah menyampaikan kabar gembira. Kata Maryamah, orangtua Hamidah meminta Ucok datang segera. Mereka bersedia menerima lamaran Ucok, asal Ucok langsung menikah dengan Hamidah. Jangan ditunda-tunda, katanya, dan Ucok pun bersetuju.

“Besok aku ke sana. Hari Minggu kau kan tak mengajar. Biar kau yang jaga rumah sebentar, aku takut Herman datang sementara aku ke rumah orangtua Hamidah.”

Esok paginya, selepas salat Zuhur, pergilah Ucok ke rumah Hamidah, menautkan tali niatan untuk meminang gadis itu ke orangtuanya. Bekal modal sudah tersedia, tinggal mencocokkan saja, kapan Hamidah dan keluarganya siap melangsungkan pernikahan mereka.

Bada Asar, Ucok pulang. Di sepanjang jalan, senyum lelaki itu merekah. Waktu pernikahannya dengan Hamidah telah disepakati sebulan lagi. Besar mahar yang dipinta orangtua Hamidah cukuplah ditutupi dengan uang dari pembayaran perkutut keberuntungannya.

Ketika sampai di pangkal tangga rumahnya, jantung Ucok kebat-kebit. Rasa tak enak membungkus perasaannya. Di beranda dia melihat Maryamah sedang menurunkan sangkar perkututnya. Tergopoh-gopoh Ucok menaiki tangga, untuk melihat perkutut kesayangannya.

“Perkututkuuu!” jerit Ucok pilu dan jatuh pingsan diiringi tatap kebingungan Maryamah.

Di dalam sangkarnya, perkutut itu tergeletak kaku. Maryamah mengingat-ingat apa yang membuat burung itu mati. Tadi selepas Ucok pergi ke rumah orangtua Hamidah, dia beres-beres dan menyemprotkan racun nyamuk ke dekat sangkarnya. Kemungkinan racun itu masuk ke wadah air minum dan membuat burung itu mati keracunan. (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di Solopos, edisi Minggu, 21 April 2018
thumbnail

Gasiang Tangkurak Engku Kajang

Mula-mula tak ada yang mengira jika lelaki tua di lepau nasi Mak Banun itulah yang akan menyudahi kejahatan Engku Kajang. Orang-orang berpikir ia hanya musafir yang kebetulan lewat dan hendak berteduh karena hujan turun sedemikian derasnya di kampung Lubuk Pakam. Kulitnya coklat tua. Rambut kelabunya menjuntai menutupi kuduk. Gamis putih dan sebatang tongkat hitam di tangannya seakan menjelaskan bahwa ia bukan lelaki biasa.

Tuk Sofyan, suami Mak Banun, menghampirinya. Ia ingin tahu siapa gerangan lelaki dengan janggut putih serupa kapas itu dan apa pula keperluannya datang ke kampung Lubuk Pakam. Ramah ia bertanya nama dan asalnya, tapi dengan suara parau, lelaki asing itu memberikan jawaban yang membuat Tuk Sofyan dan juga pengunjung lainnya tercengang-cengang.

“Aku adalah Siak Ali Jemenang. Aku datang untuk bertemu Engku Kajang.”

Tuk Sofyan tersenyum kecut. Entah mencela, entah merasa jerih. Bagi orang-orang di kampung Lubuk Pakam, nama Siak Ali Jemenang adalah legenda. Ia dipercaya sebagai leluhur yang mendirikan kampung itu pertama kali. Makamnya yang dikeramatkan, hanya berjarak seratus meter dari lepau nasi Mak Banun. Setiap tahun, dalam acara kenduri kampung, orang-orang menziarahi dan membersihkan makam itu sebagai laku penghormatan atas jasa-jasanya.

Mengingat riwayat yang melekat pada diri Siak Ali Jemenang, tak heran jika kehadirannya di siang hari begitu rupa membuat merinding orang-orang. Mereka disergap perasaan ganjil. Semula mereka tak ingin percaya ucapan-ucapannya, namun lelaki tua itu tahu banyak tentang riwayat kampung Lubuk Pakam, padahal tak pernah sekalipun ia terlihat sebelumnya.

“Gasiang itu sudah banyak makan darah. Oleh sebab itu, ia harus dihentikan,” tukas lelaki tua itu tiba-tiba, seolah mampu membaca isi kepala Tuk Sofyan dan orang-orang yang memandangi wajahnya.

“Sudah banyak yang mencoba, tapi semuanya sia-sia.” jawab Tuk Sofyan dengan bibir gemetar.

Mata kelabu lelaki tua itu menusuk tajam mata Tuk Sofyan. “Malam ini ajalnya akan tiba. Di puncak Bukit Guntung, aku akan menghukumnya. Apabila dibiarkan, ia akan semakin banyak meminta nyawa. Apa kau lupa, Sofyan? Bapakmu adalah korban ke sekian Engku Kajang.”

Tuk Sofyan terkesiap. Kata-kata lelaki tua itu menampar ingatannya, membawanya terbang ke masa lalu. Ia teringat kala bapaknya ditemukan mati misterius di surau kampung pada suatu subuh. Dari para tetangganya ia mendengar bisik-bisik, bahwa bapaknya mati lantaran coba-coba menghentikan kejahatan Engku Kajang. Sebagai guru ngaji dan datuk di surau, bapaknya memang paling lantang menentang praktik sesat Engku Kajang.

“Engku Kajang sudah sepenuhnya dikuasai iblis. Kalian tak akan mampu menghentikannya. Hanya aku yang mampu. Malam nanti akan kusudahi semuanya. Aku peringatkan kalian semua, jangan sesekali menduakan Tuhan. Jangan pula ulangi kesalahan Engku Kajang yang menggadaikan hidupnya di tangan setan.”

Kata-kata itu mengguyurkan hawa mencekam di lepau nasi Mak Banun. Para pengunjung semuanya terdiam. Tak ada yang berani buka suara. Hujan turun semakin deras ketika lelaki asing itu beranjak. Orang-orang menatapnya terkesima. Meski hujan turun demikian deras, namun tubuhnya tidak basah sedikitpun. Jangankan basah, setitik pun tidak ada hujan yang mampu mengenai sehelai rambut di kepalanya.
***


Puluhan tahun silam, tiada yang paling diinginkan Engku Kajang selain menjadi dukun paling sakti di kampung Lubuk Pakam. Ia menyepi di goa Seminung selama 40 hari 40 malam demi memperdalam ilmu Gasiang Tangkurak yang selama ini dipelajarinya dari serat lontar peninggalan kakek buyutnya. Pada malam ke 40, dalam kondisi hampir mati lantaran kurang makan, Engku Kajang mendengar sebuah bisikan.

"Kau hanya bisa mencapai taraf tertinggi apabila benda mustika itu kaubuat dari tulang kepala, tapi kepala bukan sembarang kepala, kau mesti membuatnya dari tulang kepala anak kandungmu," demikianlah bisikan itu bergema dan menyudahi tapa Engku Kajang.

Maka pada suatu malam, dengan hati yang sudah hitam sempurna, Engku Kajang mengorbankan Marsalim, anak satu-satunya dari buah perkawinannya dengan mendiang Mak Rubayat. Engku Kajang memancung kepala bocah malang itu tanpa keraguan.

Hujan badai dan denyar petir yang merobek kegelapan malam itu, mengiringi ritual mistis Engku Kajang. Setelah kulit kepala anaknya terkelupas seluruhnya, ia mengorek bagian keningnya selebar jempol kaki. Ia membuat dua lubang serupa kancing di bagian tengah, kemudian dua lubang itu dijejalinya dengan benang tujuh warna yang telah dilumuri darah segar ayam hitam. Gelegar guntur meletup dahsyat ketika dari arah jendela, sinar tujuh warna muncul dan merasuki tubuh kurus Engku Kajang.
Sejak malam itu, terwujudlah keinginan Engku Kajang menjadi dukun sakti tiada tanding di kampung Lubuk Pakam. Berpuluh tahun kemudian, tiada satu orang pun yang tak gentar apabila mendengar namanya disebutkan. Tarikh kemasyurannya sedemikian menakutkan, dituturkan dari mulut ke mulut, dan menjadi kepercayaan yang mendarah daging bagi orang-orang di kampung Lubuk Pakam, bahwa apabila terjadi kematian yang tak wajar di kampung itu, maka pelakunya pastilah Engku Kajang.
Sudah menjadi rahasia umum apabila sinar tujuh warna itu muncul, maka keesokan harinya pasti ada yang akan mati. Pada siang hari sebelum sinar itu muncul, seseorang telah mendatangi kediaman Engku Kajang. Tiada niat yang mereka bawa kecuali niat jahat untuk menyingkirkan lawan dengan bantuan ilmu hitam Engku Kajang.

Apabila kesepakatan dan syarat-syarat telah dilunasi, maka Engku Kajang akan mengirim Gasiang Tangkurak untuk menuntaskan pekerjaannya. Bunyi berdesing benda itu mengerikan. Orang-orang yang terbilang paling berani berhadapan dengan hantu Siampa atau palasik sekalipun akan bersembunyi jika melihat benda gaib itu terbang di kegelapan malam. Ketimbang berjibaku langsung menghadangnya atau mengantar nyawa cuma-cuma, mereka lebih memilih menghindar atau mendiamkannya.

Selama hidupnya, konon sudah tak terbilang berapa jumlah korban Engku Kajang. Lelaki yang jarang menampakkan diri di tengah keramaian itu tak pandang bulu menghabisi korban-korbannya. Mereka berasal dari beragam latar belakang. Ada pejabat, ada saudagar, ada pemuka agama dan ada pula dari kalangan orang biasa. Namun pada akhirnya, sehebat-hebatnya ilmu hitam, tetap saja ada titik takluknya. Seperti nasihat tua, bahwa di atas langit, masih ada langit, begitulah akhir kemasyuran Engku Kajang.
***


Orang-orang kampung Lubuk Pakam telah berkumpul di lereng bukit Guntung. Mereka ingin melihat petarungan gaib antara Engku Kajang dengan lelaki renta yang tadi siang singgah di lepau nasi Mak Banun. Mereka seakan digiring oleh rasa penasaran yang sama; akankah lelaki tua itu bernasib sama seperti para korban sebelumnya, mati ditebas Gasiang Tangkurak Engku Kajang?

Hening yang ganjil merayapi bukit Guntung. Tak ada kesiur angin. Tak ada suara binatang. Namun di balik semak ilalang dan di dahan-dahan pohon saga, orang-orang menanti dengan dada bergemuruh. Di depan sana, lelaki renta yang mendaku dirinya sebagai Siak Ali Jemenang itu berdiri gagah. Kakinya merenggang dan di tangan kanannya terpancang sebatang tongkat hitam.

Keheningan yang semakin ganjil itu serta merta pecah ketika seberkas sinar tujuh warna melesat dari arah lereng bukit. Sinar itu menukik tajam sejarak sepuluh depa di hadapan Siak Ali Jemenang. Sinar itu secara perlahan membentuk satu sosok lelaki bertubuh tinggi, dengan pakaian serba hitam dan berikat kepala merah. Orang-orang langsung bisa mengenalinya, itulah sosok menyeramkan Engku Kajang.

“Kelancanganmu mencampuri urusanku akan kau bayar dengan nyawa!”

“Manusia takabur! Dosa dan kejahatanmu sudah lewat takaran!” bentak Siak Ali Jemenang sambil menudingkan tongkatnya lurus ke arah dahi Engku Kajang. Lelaki kurus jangkung itu hanya mendengus.

Mendadak udara menjadi sangat dingin. Angin deras muncul entah dari mana. Semak ilalang dan pohon-pohon saga yang mengelilingi tanah lapang itu berdesir dan berderak-derak. Orang-orang berloncatan dari atasnya, sebab takut pohon itu akan tercerabut dari akarnya. Mereka lalu berkumpul di rerimbun semak ilalang, sebagian lagi berlari pulang ketakutan.

Tubuh Engku Kajang kembali menjadi sinar tujuh warna, sedang tubuh Siak Ali Jemenang memancarkan sinar putih keperakan. Sinar tujuh warna itu bergasing bagai titiran. Membelit dan menusuk-nusuk tanpa henti. Suaranya berdesing-desing tajam, menyambar ganas ke arah tubuh Siak Ali Jemenang. Namun lelaki tua itu bergeming. Sekujur tubuhnya bagai diselubungi pelindung tak kasat mata. Sinar jelmaan Engku Kajang tak sekalipun mampu menyentuhnya.

Beberapa lama sinar tujuh warna itu melayang-layang, sampai kemudian dengan gerakan yang tak masuk akal, Siak Ali Jemenang melompat ke udara. Saat kedua kakinya menjejak tanah, sinar tujuh warna itu sudah berada di genggamannya. Terdengar derak bunyi benda remuk diremas disusul suara jeritan parau mengerikan Engku Kajang. Dari sela jemari Siak Ali Jemenang, sinar tujuh warna tadi perlahan padam.

Dari arah kampung Lubuk Pakam terdengar ledakan keras. Asap kelabu bergumpal-gumpal. Api raksasa menjilati langit malam. Asap dan api mengerikan itu berasal dari rumah Engku Kajang. Di tanah lapang, tubuh lelaki yang menjadi sumber segala ketakutan di kampung Lubuk Pakam itu terkapar diam, sedangkan lelaki tua yang mendaku dirinya Siak Ali Jemenang telah raib dari pandangan. (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di Harian Haluan Padang, edisi Minggu, 22 April 2018

thumbnail

Hellena dan Teror Sesosok Hantu


Seekor singa meringkuk di atas rerumputan, terbingkai di dalam poster yang tergantung di dinding, menatap tajam pada sesosok perempuan yang tengah duduk di ruang interogasi. Perempuan itu adalah Hellena Andersen. Sudah hampir satu jam dia berada di sana, menunggu kepastian dengan kondisi tangan dan kaki diborgol.

Hellena memperhatikan tiap penjuru ruangan dan segera menyadari betapa tua gedung itu.  Dia bisa merasakan residu kejahatan menempel kokoh di sekujur dinding dan lantai ubin, seeolah-olah dosa penjahat-penjahat lama yang pernah diinterogasi di ruangan itu merembes melewati celah yang tercipta pada retakan di lantainya.

Perhatian perempuan itu  baru teralihkan ketika di belakangnya terdengar suara derit pintu. Seorang lelaki paruh baya langsung duduk di hadapannya tanpa perlu repot-repot bertanya apakah dia keberatan atau tidak. Hellena pun bersikap sama. Dia tak peduli.

“Sepertinya hari ini saya sedang sial,” ucap lelaki itu membuka percakapan. Dia merogoh kantong kemeja dan mengeluarkan sebungkus rokok lalu menawarkannya sebatang pada Hellena.

Perempuan itu menggeleng. “Saya tidak merokok,” jawabnya dengan suara datar.

“Oh, maaf,” ucap lelaki itu sambil memasukkan kembali bungkus rokoknya ke dalam kantong. “Sebenarnya saya tak pernah suka berurusan dengan perempuan, tapi hari ini saya diminta menggali beberapa keterangan tambahan dari Anda. Apakah Anda sudah siap, Nyonya Andersen?”

Hellena mengangguk, menegakkan badan, bermaksud merenggangkan tulang punggungnya yang terasa pegal akibat duduk terlalu lama. Lelaki paruh baya berkepala botak itu membuka selembar map dan membiarkan foto-foto di dalamnya berserakan di atas meja.

“Ini adalah foto-foto hasil perbuatan Anda tadi malam,” ucap lelaki itu tenang. Dia menjentikkan abu rokok ke lantai, lalu menambahkan, “saya yakin Anda bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Mendengar kalimat itu dagu Hellena terangkat sedikit dan matanya berkilat. “Selama ini saya hidup dengan hantu,” ujarnya dengan suara meninggi. “Hantu itu mengganggu saya sepanjang waktu.”

“Saya harap Anda bekerja sama dengan baik,” ucap lelaki itu sambil melihat jam tangan. “Saya tak punya waktu mendengarkan omong kosong. Percuma saja berpura-pura gila. Tingkah seperti itu tak akan menyelamatkan Anda.”

“Tapi saya mengatakan yang sebenarnya,” jawab Hellena hampir menangis. “Saya tidak membunuhnya. Saya hanya membunuh hantu yang bersemayam di tubuhnya.”

“Oh ayolah, itu alasan yang menggelikan.” Lelaki itu tertawa lebar. “Hantu yang kausebut itu sekarang masih berada  di kamar mayat. Dokter dan tim forensik sudah memastikan jika penyebab kematiannya adalah luka tikaman di dada dan di leher.”

“Brengsek!” maki Hellena kesal dan terdengar putus asa. “Harus berapa kali saya katakan, saya tidak membunuhnya. Saya membunuh hantu!”

“Baiklah saya mengerti,” jawab lelaki itu tenang dan tersenyum. Dia berdiri sambil melumat rokoknya ke atas meja lalu meninggalkan Hellena tanpa bicara. Tak berapa lama kemudian seorang lelaki berseragam masuk dan memapahnya keluar dari ruang interogasi.


Hellena ternyata dibawa ke sebuah ruangan lain yang lebih sempit. Sebagian dinding ruangan itu dipasangi terali besi. Lampu bohlam lima watt berpendar redup di atas kepalanya. Aroma pesing tercium di seluruh penjuru, menjadi sambutan tak menyenangkan atas kedatangannya sebagai penghuni baru.

Segera setelah masuk ke ruangan itu, Hellena langsung merasakan dampak buruk sebuah sel isolasi. Perempuan itu mencengkram kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Dia yakin foto wajahnya sekarang telah terpampang di halaman pertama koran-koran dan kisah tragisnya dijadikan tajuk utama berita-berita di televisi.

Hellena merasa terjebak dan kehabisan cara untuk membuat orang-orang itu percaya. Dia bersikeras hanya membunuh sesosok hantu yang telah bertahun-tahun mengganggunya. Di persidangan nanti sang jaksa pasti mengetuk palu dan menyatakan dirinya bersalah atas pembunuhan tingkat dua terhadap manusia, bukan sesosok hantu seperti yang dipercayainya.

Satu hari yang lalu, sebelum seregu polisi membawanya ke dalam penjara, perempuan itu tengah berada di halaman rumahnya, merasa linglung dan hilang kemampuan berpikir. Sekujur tangannya berlumuran darah. Aroma anyir meruapi rongga penciuman, membuat otot perutnya mendadak kejang dan menimbulkan rasa mual yang hebat.

Perempuan itu membungkuk, mencoba memuntahkan seluruh isi perut, tetapi yang keluar hanya angin dan juntaian ludah kental menjijikkan. Dia memejamkan mata dan merasa sangat yakin, hantu yang bertahun-tahun mengganggunya itu sudah mati. Hellena menyeringai senang. Dia berhasil memenangkan pertarungan dengan gemilang.


Perihal hantu tersebut, dia masih ingat tatapan mata jahat itu saat pertama kali Hugo memperkenalkannya. Tatapan itu menyiratkan kebencian yang dalam. Bahkan bertahun-tahun setelah pernikahannya dengan Hugo, Hellena tak pernah melihat tatapan bersahabat di mata hantu itu.

Sebenarnya, Hellena sudah pernah bicara pada Hugo tentang permasalahannya, tetapi lelaki itu hanya diam. Dia juga mengatakan bahwa perilaku baik yang ditunjukkan sang hantu hanya tipuan, kedok palsu yang sangat mengerikan. Tetapi Hugo selalu menyangkal dan berkata bahwa semua baik-baik saja. Dia dan sang hantu hanya butuh sedikit waktu untuk menjadi akrab. Tapi meskipun sudah memasuki tahun ke lima, kata-kata Hugo tak kunjung menjadi kenyataan.

Keberadaan hantu itu selalu terasa asing bagi Hellena. Dia terlalu pintar menutup diri, jauh dan tak terjangkau. Menurutnya, sang hantu hanya menyamar menjadi manusia. Hal-hal asing dan menakutkan itu bergolak di balik matanya yang hampir tak pernah bercahaya. Setiap bertatapan, Hellena menemukan keheningan di sana. Di kedalaman jiwanya sudah ada sesuatu yang mengancam.

Mulanya, Hellena berkata pada dirinya sendiri bahwa pemikiran itu terlalu mengada-ada. Sosok yang dia sebut hantu tersebut tidak berbeda dari anak-anak lelaki lain. Memang dia pendiam, selalu menyendiri, namun perempuan itu tertipu. Hantu itu memang memiliki bakat alami hebat dalam berbohong—seolah-olah dia memiliki dua kutub di dalam tubuhnya yang dihuni dua kepribadian yang berbeda.

Selama ini, Hellena selalu berusaha bersikap baik, tetapi dia tak pernah tahu siapa atau apa sesungguhnya yang berada di dalam tubuh sang hantu. Satu tahun belakangan, Hellena merasakan perubahan drastis pada diri sang hantu. Hantu itu menunjukkan rasa ketertarikan yang aneh pada dirinya, mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhnya, dan sejauh yang Hellena tahu, itu kerap dilakukannya saat dia sedang sendirian di rumah.

BACA JUGA: Rimba

Ada rasa lapar menakutkan di dalam diri hantu itu. Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan. Sesuatu yang ganjil dan diselimuti misteri. Kesimpulan itulah yang membuat Hellena membujuk Hugo untuk mengirim hantu itu pergi. Sekali waktu permintaannya dipenuhi. Hantu itu dititipkan ke sekolah asrama lalu tinggal dengan ibu kandungnya, tapi dia kembali lagi dengan membawa nafsu yang lebih besar.

Hellena mengira, tumbuh dewasa akan menyembuhkannya dari apa pun itu yang telah mengubahnya menjadi sesosok hantu. Tetapi hantu itu sangat kuat dan tak terkalahkan. Sepanjang hari Hellena tersiksa, hidup seatap dengan pemangsa.
Hingga puncaknya terjadi malam itu—Hellena menyebutnya malam paling terkutuk—Hugo sedang tidak berada di rumah. Lelaki yang berprofesi sebagai karyawan swalayan itu sedang mendapat giliran shift malam. Dan seperti malam yang sudah-sudah, jika suaminya tak di rumah, Hellena mengunci diri di kamar. Namun entah bagaimana, saat dia tengah tertidur, hantu itu sudah berada di atas tubuhnya, mencoba memaksanya takluk di bawah todongan sebilah pisau.

Hellena merasa kaku saat tangan hantu itu menyusuri tiap lekuk tubuhnya, lalu meremas hati kecil merah muda di dadanya. Sebuah suara di kepalanya menjerit, sementara tangan itu tetap di sana dan terus meremas, seolah yang dia genggam adalah jantungnya sendiri.

Selama detik-detik menakutkan itu terjadi, Hellena betul-betul tak ingin melihat, namun tak berani pula untuk berpaling. Hantu itu mendorongnya, menindih tubuhnya dengan pisau yang terus menempel di urat leher. Pisau itu berhasil menciptakan rasa takut yang sangat dingin. Puncak rasa takut itu berhasil melumpuhkan seluruh tenaganya.

Hellena tak memiliki keberanian untuk melawan. Meski baru berusia enam belas tahun, tapi tubuh sang hantu sudah setara dengan tubuh lelaki dewasa. Tubuh mungil Hellena dibuatnya tak berdaya. Lengan kekar itu berhasil menguasainya dengan sempurna.

Makhluk jahat itu menekan lutut Hellena sedikit lebih kuat sebelum membukanya. Tetapi tidak, dia tak boleh melakukannya, demikian jerit dalam hati Hellena. Kekuatan itu muncul bagai sebuah mukjizat, dalam diam memintanya melakukan perlawanan.

Perempuan itu berguling dan menendang hingga tubuh hantu itu terjengkang. Hellena berhasil merebut pisau dari tangan sang hantu. Dia mengacung-acungkannya ke depan. Hellena merasa kuat dan berkuasa ketika wajah hantu itu menunjukkan ketakutan, tapi sesuatu di dalam dirinya menginginkan lebih. Hellena menjerit histeris lalu melompat ke depan.

Kilatan-kilatan putih berpendar seiring pisau di tangannya menciptakan danau merah di lantai kamar. Hellena merasa lega dan tertawa gembira. Perempuan itu merasakan perubahan sifat yang mencengangkan. Dia menyukai warna merah darah yang membasahi gaun tidurnya. Dia menyukai rasa lembut dan bunyi daging tercabik saat dia mengayunkan pisau. Dia menyukai sensasi jahat yang merebak di dadanya saat hantu itu berpindah ke tubuhnya. (*)

Cerpen:
Cerpen ini pernah tayang di Tempo, Edisi Minggu, 21 Maret 2020

thumbnail

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu


Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount."

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumahtangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.
Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.


“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada. 

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla. “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kaupulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar...” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku, Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci? Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

BACA JUGA: CENGKUNG

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel itu pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.
Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelpon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.
***

 
Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumahtangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya. 
Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.
Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.
Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.  (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di ideide.id, edisi Minggu, 1 Januari 2020
thumbnail

Suara dari Balik Pintu Kamar


Laura menekan tombol play pada ipad-nya dan menempelkan earphone-nya ke telinga. Ia duduk bersandar di sandaran ranjang, berusaha bersikap tenang. Tindakan ini membuat ia merasa lebih baik sekaligus lebih sedih. Lebih baik karena aman dari suara-suara keras itu, dan lebih sedih karena merasa diabaikan.
Setetes air mata bergulir di pipi Laura. Ia ingat, seminggu yang lalu ia dan mamanya duduk di taman kota. Ia bertanya, apakah mama akan berpisah dengan papa? Tapi mama tak menjawab. Laura justru dimarahi, karena sudah bertanya sesuatu yang tak boleh diketahui.

Jika dua orang dewasa sering bertengkar, biasanya mereka akan berpisah, begitu kata Stefani, teman sekolahnya saat ia bercerita jika mama dan papanya sering bertengkar. Saat ini Laura merasa takut pada ucapan Stefani. Ia takut ucapan Stefani menjadi kenyataan.

Sebenarnya Laura ingin bertanya, bertanya perihal penyebab pertengkaran mama dan papa, namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Mama dan papa tak pernah mau menanggapinya. Bahkan yang paling membingungkannya adalah sikap papa dan mama. Laura merasa asing di mata mereka.

Dulu, sebelum malam-malamnya diteror oleh suara itu, kehidupan terasa wajar. Seperti biasa, papa sering tidak pulang, bahkan bisa satu minggu. Kemudian seperti biasa, mama masih mengantarnya ke sekolah. Tetapi perubahan mulai muncul ketika papa pulang bersama Tante Rosana. Sejak itulah mama dan papa sering bertengkar.

Dalam pertengkaran mereka, nama Tante Rosana selalu disebut-sebut mama. Laura tak mengerti, mengapa nama perempuan itu selalu disebut. Bahkan jika mama sudah menyebut nama itu, papa akan berteriak dan mengatakan bahwa Tante Rosana lebih baik dari mama. Laura tak setuju. Menurutnya, mama lebih baik dari Tante Rosana. Di mata perempuan itu, Laura melihat seribu semut merah yang berniat menyakitinya. Seperti mama, Laura tak suka Tante Rosana.

BACA JUGA: CENGKUNG

Selama ini, Laura tak pernah menyembunyikan kesedihannya, karena mama dan papa selalu mengajarinya untuk berterus terang. Namun, sekarang Laura mendapati kenyataan yang menyakitkan; ia tidak mendapatkan itu dari mama dan papa. Mama dan papa bersikap seperti orang asing. Mereka tak pernah mau berterus terang tentang apa yang terjadi.

Biasanya, dulu, papa akan menghampirinya jika ditemui ada kesedihan di wajah Laura. Papa akan menggendongnya keluar kamar, sambil menggelitiki pinggangnya hingga Laura tertawa nyaring. Dan kalau ia sudah lelah tertawa, barulah papa akan mendudukannya di sofa. Biasanya mama juga sudah menunggu di sana, lalu mereka bertiga menyusun rencana-rencana ajaib untuk mengisi libur akhir pekan.

Saat ini Laura merindukan masa-masa itu. Ia sedang merindukan dongeng-dongeng mama. Dulu, biasanya jika ia tak bisa tidur, mama akan membacakan sebuah dongeng untuknya. Dongeng yang paling ia ingat adalah dongeng tentang puteri cantik yang terperangkap di dalam puri penyihir. Puteri cantik itu terpisah dari mama dan papanya hingga seorang peri menyelamatkannya.

Entah kenapa, sekarang Laura merasa dirinya seperti puteri cantik itu: terperangkap dan terpisah dari mama dan papa. Namun Laura tidak yakin ada peri yang akan menyelamatkannya, sebab Laura tahu, peri hanya ada di dalam dongeng mama. Tak pernah ada peri yang akan menemaninya. Di kamar ini ia menangis sendirian.

Suara-suara itu membuat Laura putus asa. Bahkan meskipun volume lagu di ipad-nya sudah dikeraskan, suara-suara itu masih saja terdengar. Dengan gerakan pelan, Laura meraih selimut dan menutupi sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki, berharap dengan cara itu ia tak lagi mendengar suara-suara di luar kamarnya.
Betapa menjengkelkan situasi yang terus diulang-ulang seperti ini, pikir Laura. Situasi yang sama ketika ia dan mama berada di pantai bulan lalu. Papa yang tiba-tiba hadir mulanya membuat Laura gembira. Ia ingin mengajak papa berlomba mengumpulkan kerang, namun sikap dingin papa membuat Laura memilih mengumpulkan kerang seorang diri.

Pada saat itulah untuk pertama kalinya Laura berharap kemunculan sesosok peri. Peri yang terbang di sekitar kepalanya, mengenakan gaun putih dan sebatang tongkat wasiat. Laura berkhayal peri itu akan memutar-mutar tongkatnya, mengeluarkan kemampuan sihirnya lalu menyulap mama dan papa menjadi patung.



Sore itu, sewaktu mereka pulang ke rumah—tentu saja hanya ia dan mama yang pulang, sebab papa telah pergi usai Laura menyelamkan kepalanya ke laut untuk ke lima kalinya—Laura mendapati bekas kebiruan di pinggir bibir mama. Bekas terantuk batu, kata mama. Tapi siapa yang percaya? Mama bukanlah Nenek Christine, tetangganya yang bermata lamur itu. Mata mama lebih awas dari mata seekor elang. Laura pernah membuktikannya: ia sering tertangkap saat sedang mengendap-endap keluar jendela ketika jam tidur siang.

Beberapa hari kemudian bekas biru yang misterius itu menghilang dari wajah mama. Bersamaan dengan itu, Laura juga kehilangan papa. Papa betul-betul berubah. Perubahan itu membuat Laura takut. Udara yang terembus dari mulut papa kerap berbau busuk. Pada mata papa, Laura melihat ribuan semut merah yang dulu ia lihat ada di mata Tante Rosana.

Sebagian dirinya tidak menyalahkan perubahan papa—meski itu bukanlah hal yang diinginkannya—setidaknya masih ada mama yang tidak berubah. Tapi bagaimana jika mama juga ikut berubah? Laura ingin menangis. Pertanyaan itu membuat air matanya keluar lagi. Semakin keras suara-suara itu, semakin deras pula kejatuhan air matanya.

Hal yang paling ditakuti Laura apabila mama dan papa berpisah ialah kesepian. Tanpa mama dan papa, ia hanya gadis kecil yang berkeliaran tidak keruan di dalam rumah ini. Bagaimana jika mama dan papa betul-betul akan berpisah? Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup? Pertanyaan itu membuat tenggorokan Laura tercekik dan jantungnya berdebar.
Laura mencengkram bantal sekuat tenaga. Bahu dan lengannya gemetar. Laura mengerang. Untuk sesaat ia merasa perutnya kejang, tapi untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama. Ia menahan perasaan tak nyaman itu dalam diam dan menangis tersedu-sedan.

“Peri,” bisik Laura lirih. “Bisakah kaudatang?”

Laura melihat ke arah lampu yang tergantung di langit-langit kamar. Ia mencari sosok peri yang sering didongengkan mama. Ternyata peri itu terbang di atas sana, membelakangi cahaya lampu, bayangannya begitu jelas. Sayap peri itu mengepak dan Laura menunggu ia menggerakkan tongkat wasiatnya.

“Bisakah kau membuat mama dan papa menjadi patung?” kata Laura memohon. “Untuk malam ini saja,”

Peri itu diam saja. Ia mengabaikan permintaan Laura. Bahu Laura berguncang-guncang, karena kali ini ia menangis lebih hebat dari yang pertama. Ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepala. Lampu masih menyala. Peri telah lenyap. Tentu saja tidak pernah ada peri di kamar itu. Laura tahu itu. Peri hanya dongeng yang diulang-ulang mama.

“Tapi rasanya begitu nyata,” ucapnya dengan suara serak. “Peri itu begitu nyata!”

Baginya bukan masalah dengan harapan buruk yang baru saja ia pikirkan: peri menyulap mama dan papa menjadi patung. Ia cuma berharap dengan begitu mereka akan lebih tenang. Tetapi sayangnya tak akan ada peri, tak akan ada patung, tak akan ada keajaiban untuk Laura.


Waktu telah menunjukkan pukul satu malam, Laura kembali berusaha memejamkan mata, mencoba menikmati alunan lagu di ipad-nya. Ia sama sekali tidak ingin bangun dari tidurnya apalagi menemui mama dan papa. Laura hanya ingin meringkuk di atas ranjang, mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, dan kalau bisa, ia ingin tidur.

Angin berembus pelan, menyusup dari jendela kamar yang sedikit terbuka, membuat gorden menari seperti seorang balerina. Angin menyentuh kulit Laura dan ia merasa sejuk. Setelah satu atau dua menit, Laura melepas earphone-nya. Suara-suara tadi kini berganti suara-suara benda berjatuhan dan pecah. Suara benda pecah itu cepat berganti dengan suara mama.

Ketakutan Laura semakin menjadi-jadi ketika papanya berteriak; mati! mati! mati!. Teriakan papa kemudian  berganti menjadi suara tangis sesenggukan. Setelah itu semuanya hening. Hening yang panjang dan suram. Waktu bergerak lamban. Suara itu menghilang. Di atas ranjang, Laura tertidur. Di dalam tidur ia bermimpi bertemu peri. (*)

Catatan:
Cerpen pernah tayang di Warta Bianglala, edisi Minggu, 11 April 2021
thumbnail

Rimba


Seminggu sebelum pesta pernikahannya digelar, Darmanto menemui Mbah Sarmijan. Lelaki berumur delapan puluh tahun itu, oleh warga kampung Bondol, telah dianggap begawan paling waskita, peramal paling ulung untuk urusan masa depan. Oleh sebab itulah, Darmanto berpikir, sebelum dia betul-betul menikah, belum afdhol rasanya jika belum minta petuah pada Mbah Sarmijan.

“Jika ingin hidupmu bahagia dan dijauhkan dari bala, menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Mbah Samijan. Lelaki berjanggut putih panjang itu duduk bersila di dipan kayu nangka, sedangkan Darmanto duduk di sampingnya. Pemuda itu menyimak dengan takzim setiap kalimat yang keluar dari mulut Mbah Samijan.

“Apa maksudnya ‘perempuan yang punya rimba’ itu, Mbah?”

“Itu hanya kiasan,” jawab Mbah Samijan. “Rimba yang kumaksudkan adalah bulu kemaluan.”

Serentak tersembur tawa dari mulut Darmanto usai mendengar jawaban itu. “Mbah ini ada-ada saja,” ujarnya dengan raut wajah memerah tersengat malu.

“Aku tidak bercanda,” jawab Mbah Samijan serius. “Kamu mau hidup menderita dan susah berkepanjangan karena menikah dengan perempuan gersang?”

Darmanto menggeleng, kemudian kembali bertanya. “Tapi kenapa pula mesti begitu syaratnya?”

“Rimba adalah perlambang kesuburan dan kekayaan,” sahut Mbah Samijan penuh wibawa. Dia berhenti sejenak, lalu menyalakan rokok klobotnya sebelum melanjutkan kata-kata. “Semakin lebat rimba perempuan yang kamu nikahi, semakin lebat pula hujan rejeki dalam hidupmu nanti."

Darmanto tersenyum kecut, tapi dia mengangguk-angguk juga. Sisa-sisa tawa meluncur pelan dari mulutnya. Entah meremehkan, atau sedang gamang. Sebenarnya Darmanto belum mengerti benar, bagaimana mungkin syarat hidup bahagia berumah tangga dikait-pautkan dengan rambut yang tumbuh di kemaluan? Darmanto ingin menyangkal, tapi segan pada  nama besar Mbah Samijan. 
Sudah banyak bukti ramalan Mbah Samijan sering menjadi kenyataan. Seperti yang terakhir, ketika Tukimin, anak bungsu Mang Sapardin hilang seminggu yang lalu. Orang-orang mencari ke semua lekuk kampung Bondol, namun bocah itu tak kunjung ditemukan. Barulah ketika beberapa orang berpetuah pada Mbah Samijan, keberadaan Tukimin mendapat titik terang. Mbah Samijan mengatakan, bocah itu berada di bawah jembatan sungai Widas. Dan benar saja, ketika orang-orang berbondong menuju tempat itu, jasad Tukimin ditemukan.

Selain itu tentu saja, banyak lagi peristiwa yang membuktikan ramalan Mbah Samijan tak bisa diremehkan. Dan, lantaran kenujuman-kenujumannya itulah, Mbah Samijan menjadi tempat meminta petunjuk bagi orang-orang. Persis seperti yang dilakukan Darmanto. Dia bertandang ke rumah Mbah Samijan untuk menanyakan rencana pernikahannya dengan Mayang.

Darmanto ingin tahu seperti apa rumah tangganya di masa depan. Apakah bahagia ataukah tidak. Darmanto juga penasaran, hal apa saja yang perlu dia lakukan agar biduk rumah tangganya tak mendapat halang rintangan. Tapi jawaban yang dia terima, alih-alih menenangkan, malah mencengangkan.

“Tolonglah, jangan menakutiku begitu, Mbah,” kata Darmanto murung. “Mbah 'kan tahu, aku ini akan menikah. Kalau ternyata istriku tak punya bulu kemaluan, tak mungkin pula pernikahanku dibatalkan.”

“Aku sekadar mengingatkan,” jawab Mbah Samijan tenang. Dia seolah tahu pertanyaan yang berkecambah di kepala Darmanto. “Itu juga kalau kamu percaya. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa.” 

“Aku percaya, Mbah, aku percaya,” sahut Darmanto gentar. “Tapi apa mungkin semua laki-laki yang hidup menderita setelah menikah itu karena istrinya tak punya rimba?”

“Aku tidak membicarakan semua laki-laki. Aku membicarakanmu,” seloroh Mbah Samijan sambil menjentikkan abu rokoknya ke asbak tanah liat di atas meja. Telunjuknya lurus menuding ke wajah Darmanto. “Aku melihat syarat itu di wajahmu. Kalau kamu ingin hidupmu bahagia dan jauh dari bala, ya hanya itu syaratnya. Menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

“Kalau tidak ada, bagaimana?” tanya Darmanto sekonyong-konyong.

“Tidak mungkin. Pasti ada!”

Darmanto menghela napas panjang. Dia menggaruk kepala. “Kalau nanti ternyata istriku tak punya, apakah aku mesti menceraikannya?”

Mbah Samijan tergelak. “Tak perlu risau, Darmanto. Percayalah padaku. Calon istrimu itu pasti punya rimba. Tenang saja ha ha ha ....” jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Darmanto.
***
BACA JUGA: Cengkung

Sejak mendengar ramalan Mbah Samijan, mau tidak mau Darmanto jadi kepikiran juga. Bahkan boleh dibilang ramalan itu membuatnya bimbang. Sebagai pemuda yang sedang bersiap melepas masa lajang, perkara hidup bahagia tentu menjadi tujuan. Namun persoalannya, letak dari kebahagiaan itu sungguh tak masuk di akalnya.

Darmanto belum menemukan cara untuk mengetahui apakah Mayang, calon istrinya itu memiliki rimba ataukah tidak. Darmanto malu jika harus bertanya. Dia juga tak punya nyali untuk memungkasi rasa penasarannya dengan mengendap-endap di sekitar tempat pemandian atau mengintip gadis itu berganti pakaian. Darmanto tak sanggup menerima resikonya: dihajar orangtua Mayang atau yang lebih gawat lagi, dihajar sampai sekarat seperti nasib Udin Gembala yang kepergok tengah mengintip anak gadis Bude Sum yang sedang mandi di Sendang Galuh beberapa bulan yang lalu.

“Menurutmu, apakah mesti kutanyakan saja pada Mayang, ya, Man?” tanya Darmanto kepada Rahman. Rahman ini kawan akrabnya. Apa pun permasalahannya, Darmanto senang membaginya pada Rahman. Rahman kerap memberi jalan keluar yang cerdas dan kadangkala luput dari  pemikiran Darmanto.

“Ya, ada baiknya kamu tanyakan saja,” sahut Rahman yakin. “Lagi pula ini untuk kebaikan kalian berdua.”

“Maksudmu?”

“Ya, kalau ternyata—eem, maaf ini ya, kalau ternyata benar Mayang tak punya rimba, bukankah kata Mbah Samijan hidupmu bakal sengsara? Karena itulah kupikir, sebaiknya kamu memang mesti bertanya. Setidaknya kalau betulan dia tak punya rimba, kalian bisa cari obat penyuburnya ha ha haa....”

“Sial!” maki Darmanto sambil mencengkram puncak kepalanya. “Tidak mungkin aku membatalkan pernikahanku cuma gara-gara persoalan ini. Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan orang-orang.”

Rahman menatap wajah gusar Darmanto dengan prihatin. “Ya, jangan sampai begitu. Undangan sudah disebar, jangan sampai juga kamu batalkan. Kalau sampai dibatalkan, bukan cuma kamu yang malu, tapi juga keluargamu dan keluarga Mayang. Pikirkan itu.”

Darmanto tak menjawab. Dia hanya mengangguk. Pemuda itu bersetuju dengan saran yang diberikan Rahman. Memang itulah yang harusnya dia lakukan; membicarakan baik-baik dengan Mayang. Lagi pula bagi Darmanto, menikah bukan perkara setahun dua tahun belaka. Menikah itu cukup satu kali seumur hidup dan, kalau bisa, selamanya. Setelah memikirnya berulang kali, Darmanto sampai pada satu kesimpulan: dia memang harus menemui Mayang.
***
BACA JUGA: Orang-Orang Pabrik

Pagi-pagi sekali Darmanto datang ke rumah Mayang. Ayah dan Ibu Mayang kebetulan sedang tidak ada di rumah. Adik-adik Mayang juga sudah berangkat ke sekolah. Suasana rumah yang sepi membuat Darmanto sedikit lega, sebab dia tak perlu takut ketahuan jika bertanya yang aneh-aneh pada Mayang. Dengan malu-malu, Darmanto menceritakan semuanya. Awal dia bertemu Mbah Samijan, hingga hasil ramalannya.

Mayang mengangguk-angguk. Rambut panjangnya turut berayun mengikuti gerak kepalanya. “Aku mengerti,” katanya sembari menahan senyum. “Aku mengerti kecemasanmu. Tapi aku rasa, belum saatnya kamu tahu jawabannya.”

“Kenapa?” sergah Darmanto memaksa. “Menurutku sebaiknya kamu katakan saja.”

“Kenapa kamu bicara begitu, Mas?” tukas Mayang naik pitam. “Kamu mau menikahiku atau mau menikahi bulu kemaluanku?”

Darmanto terbelalak.  Pemuda itu terperanjat melihat reaksi yang ditunjukkan Mayang, lebih-lebih mendengar pertanyaannya. Dia mengerang lirih dan geleng-geleng kepala. Darmanto tak bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahnya memberat serupa batu.

“Ya sudah kalau begitu. Aku minta maaf,” kata Darmanto merunduk malu.

Mayang tak menjawab. Gadis itu mendengus, lalu meninggalkan Darmanto terpaku di ruang tamu. Selanjutnya, pemuda itu memutuskan untuk menyerahkan jawabannya pada nasib. Dia tak berhasrat lagi mencari tahu. Darmanto mengubah keyakinannya dan akan menjalani pernikahan tanpa perlu mencemaskan ramalan Mbah Samijan. Meskipun diam-diam, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Darmanto masih berharap Mayang punya rimba di kemaluan.
***

Siang itu kampung Bondol ramai. Darmanto dan Mayang melangsungkan pernikahan. Suara organ tunggal terdengar riuh. Orang-orang bersuka cita dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Pesta itu sebenarnya berlangsung cukup meriah, namun tidak bagi Darmanto. Pernikahan itu terasa berat baginya. Di atas kursi pelaminan, sepanjang pesta dilangsungkan, pemuda itu tampak gelisah.

Hingga waktu pun bergulir menuju sore, sore pun beringsut menuju malam. Di kamar pengantin, seusai pesta digelar, Darmanto dan Mayang bersiap melakukan ritual sakral malam pertama. Terngiang-ngiang di telinga Darmanto ramalan Mbah Samijan saat Mayang melepas pakaian.

“Lampunya matikan saja ya, Mas?” bisik Mayang.

“Kenapa?”

“Aku malu."

“Oh ya, tak apa. Matikan saja,” jawab Darmanto santai. Lagi pula dia tak perlu nyala lampu untuk menemukan apa yang diharapkan.

Dengan hati-hati Darmanto naik ke ranjang. Terdengar napas memburu dari mulut Mayang ketika jemari Darmanto merayap di atas lutut, terus naik ke atas paha.

“Matilah aku!” jerit Darmanto tiba-tiba.

Jemarinya terus meraba-raba, mencari apa yang diharapnya ada. Tetapi Darmanto tak menemukan apa-apa. Semuanya polos tak ada rimba. Darmanto merasa pandangannya berubah buram, seturut bayangan masa depan yang juga ikut-ikutan buram. Darmanto tidak tahu jika sehari sebelumnya, Mayang telah mencukur tandas semuanya. Mayang lupa, betapa berharganya rimba itu bagi suaminya. (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di harian Denpasar Post, edisi Minggu, 07 April 2019
thumbnail

Cengkung


Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan. Seperti orang gila, ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela.

“Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!”

“Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya.

“Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal.

Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana, tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan.

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong,  orang-orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Hanya satu-dua saja yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.
***

Satu bulan sebelum peristiwa pahit itu terjadi, serombongan laki-laki bertandang ke rumah Pacik Awang. Rombongan itu adalah utusan Pacik Hambali yang bermaksud mengajukan pinangan untuk Kemaladara jelita, puteri satu-satunya Pacik Awang untuk Anwar, puteranya semata wayang.

Dari hulu sampai ke hilir kampung Lubuk Tampui, tak ada yang meragukan kecantikan Kemala. Telah banyak pula pemuda yang berniat meminangnya, namun mahar yang dicanangkan Pacik Awang membuat mereka harus menimbang niat beribu kali.

Lelaki tua itu tak tanggung-tanggung meletakkan mahar untuk Kemala. Bila tak sanggup menyediakan perhiasan emas ratusan karat serta sutra pengikat berlarat-larat, jangan harap bisa menikahi puterinya. Tetapi syarat itu tidak berlaku bagi Pacik Hambali. Ia adalah saudagar terpandang di kampung Lubuk Tampui. Mahar yang dipinta Pacik Awang, bukan sesuatu yang sulit baginya.

Lagi pula, Pacik Hambali bersahabat dekat dengan Pacik Awang. Persahabatan yang terjalin bukan setahun dua tahun belaka. Mereka bersahabat lebih dari saudara. Namun persoalan datang justru dari Kemala. Gadis itu menolak rencana perjodohan yang digadang-gadang untuk dirinya.

“Pernikahanmu dengan Anwar adalah ujian martabatku. Jangan sesekali menolak kecuali kauingin mengguyur kepalaku dengan kotoran.”

“Bukan aku menolak, Ayah ...” sahut Kemala ragu-ragu. “Tapi ...”

“Tapi kenapa?” potong Pacik Awang tak sabar. Wajah Kemala berubah pucat seperti mayat. Tusukan tajam mata lelaki tua itu membuat jantungnya menciut. Hampir dua puluh tahun hidupnya, tak pernah sekalipun ia membantah kata-kata ayahnya.

"Apakah anak bujang Kasim itu yang membuat kau durhaka padaku seperti ini?” Pacik Awang muntab. Ia tegak berkacak pinggang, sebilah skin tersembul dari balik bajunya.

“Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Bang Radin, Ayah.” Kemala menundukkan wajah. Bang Radin hanya teman sesama guru.”

“Nah, kalau begitu apa alasan kau menolak perjodohan ini?”

“Aku tak setuju jika cengkung dipakai dalam adat pernikahanku," jawab Kemala pelan. Wajahnya menunduk semakin dalam.

“Kenapa kau tak setuju? Tak perlu takut jika kau tak berbuat apa-apa." Pacik Awang mulai melunak. Tatapan pisaunya menumpul.

“Aku tak takut.”

Pacik Awang menatap Kemala penuh selidik, “Tapi kenapa kaumenolak? Apa karena alasan kau tak suka pada Anwar. Sudahlah, Kemala, rasa suka itu akan muncul jika kalian berumah tangga. O, atau kau sudah melanggar adat, hingga takut cengkung tak berbunyi di malam pengantinmu?”

“Demi Tuhan dan demi Ibu yang melahirkanku. Aku masih suci, Ayah. Aku selalu menjunjung tinggi harga dirimu."

Mata Kemala berkilat, suaranya berderak di antara hening yang memantul di rumah panggung berdinding papan itu. Matanya berair saat memandang potret bisu perempuan yang sedang tersenyum beku di dinding rumah itu.

"Aku tak mungkin menistakan diri dan membuat ibu menangis di alam kubur," isak Kemala.

"Jika begitu, tak ada yang perlu kaucemaskan. Lagi pula siapa yang akan meneruskan adat di kampung ini kalau bukan kalian-kalian yang masih muda."

"Tidak, Ayah! Tidak!" seru Kemala. Ia berdiri menantang, bagai menjelma harimau luka. Gadis itu menantang mata Ayahnya. “Cengkung adalah adat yang menghina. Ayah harus tahu, bahwa kesucian wanita tak selamanya berpaut pada tetes darah di lembar pembungkus orang mati!"

“Cukup!" bentak Pacik Awang dengan wajah merah padam. "Kau tak usah membantah. Aku dan Hambali sudah sepakat. Kau dan Anwar akan menikah bulan depan!" tegasnya menyudahi perdebatan. Lelaki itu lantas meninggalkan Kemala duduk terdiam tanpa mampu menjawab apa-apa.

Selepas pertengkaran hebat itu, Kemala menjadi batu. Di punggungnya bagai ada sebongkah es yang merayap. Dentang cengkung adalah sangkakala penanda kiamat. Pengadilan adat akan menjerat lehernya, tak peduli meskipun ia tak pernah mencurangi dirinya sendiri.

Kemala dirundung bingung, sebab tak tahu harus berbuat apa. Kesucian wanita memang tak selamanya dibuktikan setetes darah di malam pertama. Namun ayahnya dan orang-orang di kampungnya mana tahu dan mana peduli perihal itu. Kemala menekur diri, membayangkan musibah besar yang akan jatuh menimpa apa bila perjodohan itu betul-betul terlaksana.

Di dalam aturan adat yang berlaku turun temurun, usai pesta pernikahan digelar, kehormatan dan kesucian pengantin wanita harus dibuktikan di atas sehelai kain putih dan dentang cengkung di malam pertama. Hanya dengan cara itu kesucian akan dijamin. Bagai hitam di atas putih, terang-gelapnya tak bisa dipersengketa.

Ketika sepasang pengantin menyibak tirai kamar, seisi kampung akan menunggu. Apabila cengkung berbunyi bertalu-talu, itu pertanda pengantin wanita masih perawan dan apabila cengkung membisu, maka kampung dianggap telah ternoda dan harus melakukan upacara tolak bala.

Hujat gunjing akan menjadi racun yang menusuk tulang belikat. Orangtua yang ketahuan anak gadisnya tak lagi suci, akan dicemooh dan dihina. Sedangkan sang gadis akan diusir. Adat inilah yang menjadi hantu di benak Kemala, berpuluh hari sejak diterimanya pinangan itu oleh ayahnya
***

Apa yang diucapkan Pacik Awang satu bulan yang lalu menjadi kenyataan. Hari yang paling ditakuti Kemala tiba juga. Akad nikah dilaksanakan dan Kemala tak memiliki kesempatan untuk menghindarinya.

Rumah panggung yang panjangnya hampir tiga puluh depa itu ramai oleh tamu-tamu undangan. Ruang berbentuk aula dijadikan tempat untuk berkumpul. Pacik Awang dan Pacik Hambali sibuk meladeni tamu-tamu yang berasal dari beragam latar belakang. Ada pejabat, ada saudagar, ada rakyat biasa, semua berbaur menjadi satu. Sesekali mereka tertawa dan saling menepuk bahu tanda memuji.

Di atas kursi pelaminan, Kemala dan Anwar duduk bersanding bagai raja dan permaisuri. Anwar duduk gagah dengan senyum yang tak henti-henti. Ia bangga telah menyunting Kemala, kembang kampung Labuk Tampui. Tapi Kemala terlihat kuyu. Ada ketakutan yang membayang di wajah cantiknya.

Kemilau songket bersulam emas tak sanggup menyulam senyum di bibir Kemala. Risau terpahat begitu nyata. Gadis itu bagai bidadari yang terperangkap di samping raksasa jahat. Meski ia tak menangis, namun ketakutan itu membayang jelas.

Siang menyasar menuju sore, sore beringsut menuju malam. Tibalah pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Malam pertama pengantin baru. Seperangkat cengkung sudah dipersiapkan di atas panggung dan kain putih telah digelar di atas ranjang pengantin.

Detik berjalan senyap bagai tak bernyawa. Orang-orang menunggu berkasak-kusuk. Ada yang tertawa, ada yang berbisik mengumbar canda. Perempuan-perempuan juru masak di dapur terkikik-kikik. Semua membayangkan apa yang tengah terjadi di bilik kamar pengantin.
Suasana malam yang penuh kasak-kusuk dan tawa tertahan-tahan itu redam oleh derit pintu kamar yang terbuka. Berpuluh pasang mata tak sabar menunggu kabar. Anwar melangkah keluar dengan muka masam. Di tangannya tergenggam kain putih yang telah kusut. Ia tak banyak bicara, hanya menyodorkan kain putih itu pada ayahnya.

“Tak perlu menabuh cengkung!" teriak Pacik Hambali pada tetua adat yang menjadi perwakilan mempelai laki-laki. “Kain ini tidak akan berdusta. Kampung ini telah ditaburi bibit bencana. Tega nian engkau padaku, Awang! Anak gadismu ternyata tak lagi perawan. Ini buktinya!”

Lelaki itu melempar kain putih ke wajah Pacik Awang. Ia lantas membukanya dengan jemari gemetar. Tak ada bercak noda di sana. Tak ada darah yang yang menjadi bukti kesucian Kemala. Datuk Awang merintih. Ia terduduk lunglai tanpa bisa berkata-kata.

Malu serupa skin yang ditusukkan ke ulu hati. Anak kebanggaan sekaligus anak yang menjadi penjunjung harga dirinya telah melumurkan najis kepalanya. Kenyataan itu telah membungkam mulut Pacik Awang untuk membela harga dirinya yang jatuh di hadapan berpuluh pasang mata.

Di balik kamar pengantin, Kemala meratap. Tipis nian adat membalut harga dirinya. Setipis kain putih yang menjadi pembukti kesuciannya. Sungguh berat beban malu yang akan ditanggungnya. Ia akan terusir, bukan karena kesalahan yang dikira orang-orang, melainkan karena adat yang buta pada kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Pesta pernikahan malam itu menyisakan luka yang menganga. Satu persatu orang-orang meninggalkan rumah panggung Pacik Awang. Malam pun kian melengang, hanya sesekali terdengar isak tangis Kemala yang bersikejar dengan rintih pedih Pacik Awang.

Bulan menggantung pucat di langit kampung Lubuk Tampui. Saat malam menuju dini hari, Kemala meninggalkan rumahnya. Diam-diam gadis itu menerabas kepekatan malam dan menuju sawah Tanjung Raya. Di dahan pohon kepayang tua, ia menebus malu dengan nyawanya. (*)

Catatan
Cengkung. Sejenis gong kecil yang ditabuh saat malam pertama. Jika gong dibunyikan maka pertanda mempelai perempuan masih perawan. Sebaliknya, jika tidak ditabuh, maka pengantin perempuan dianggap tak lagi perawan dan pihak mempelai laki-laki berhak menceraikannya. Adat ini masih ada sampai sekarang di kabupaten Muara Enim, Sumatera-Selatan.

Skin. Pisau pendek khas dari Kabupaten Muara Enim, bentuknya mirip helai ekor ayam jantan.


Cerpen ini pernah tayang di koran Kompas, edisi Minggu, 24 Februari 2019
thumbnail

Surga untuk Lelaki yang Tertipu


Janji surga bagi Santo ibarat secawan anggur yang manis. Semakin diminum, semakin memabukkan. Sedangkan agama, ibarat laut kenikmatan yang maha luas. Semakin jauh ia menyelam, semakin dalam ia tenggelam. Dan kepada seorang lelaki tua yang sangat alim, ia menyerahkan segenap hidupnya demi mengejar keduanya.

“Agama adalah nyawa,” kata lelaki tua itu berwibawa. “Lakukan semuanya untuk agama. Jika agama menuntutmu mengorbankan nyawa, maka berikanlah.”

Sejak ia berguru kepada lelaki tua itu, Santo menanamkan nasihat itu ke dadanya. Berbilang bulan ia ditempa baik lahir maupun batin. Mata belianya memandang agama adalah kebenaran mutlak yang harus dibela. Ia dijejali kitab-kitab sirah yang berisi kisah-kisah kepahlawanan orang-orang terdahulu. Orang-orang yang membela agama dengan harta, jiwa dan raga.

“Tidak ada agama yang ditegakkan dengan mudah,” ucap lelaki tua itu berapi-api. “Langkah menuju kemuliaan itu selalu meninggalkan jejak-jejak berdarah.”

“Apakah kemuliaan itu, Guru?” tanya Santo melampiaskan hasrat ingin tahunya yang meluap-luap.

“Surga adalah kemuliaan,” jawab lelaki tua itu tanpa ragu.

Mata bundar belia itu bersinar penuh harapan. “Bagaimana cara meraih kemuliaan, Guru?”

“Dengan pengorbanan dan kesungguhan,” jawab lelaki tua itu seraya mengusap-usap jenggotnya. “Ketahuilah, Anakku. Dunia ini fana belaka. Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Lalu, dikisahkan pula oleh lelaki tua itu, betapa di belahan bumi yang lain, saudara-saudara mereka diperkosa, dijajah, dianiaya dan dibunuh semena-mena. Dada Santo tersulut segunung api kemarahan. Di benaknya yang lugu, terlahir sebuah kesimpulan, bahwa semua agama selain agamanya adalah kesesatan yang nyata.

“Apakah kau mau masuk surga?” tanya lelaki tua.

“Aku bersedia,” sahut Santo semringah.

Dengan penuh suka cita, lelaki tua itu membawa Santo ke sebuah tempat rahasia. Meretas rimba belantara yang jauh dari pemukiman. Di tempat itulah, Santo belajar menggunakan senjata, merakit peledak, dan berlatih olah fisik.
Kehidupan yang ia jalani sekarang hanya bersifat fana belaka. Jika mau masuk surga, dunia harus bersih dari para pendosa. Bertahun-tahun lamanya, Santo mendambakan surga. Surga yang lebih baik dari dunia dan seisinya.

“Selamat jalan,” kata lelaki tua itu pada Santo. “Kau telah berhasil memenuhi semua syarat yang dibutuhkan. Pergilah dengan hati bulat. Doaku selalu menyertaimu.”

Sebelum berangkat, Santo mencium tangan lelaki tua itu dengan penuh keharuan. “Kutunggu kau di pintu surga,” katanya pelan. Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Ia memeluk dan mencium kening Santo sebagai tanda perpisahan.

“Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Sekarang Santo mengingat kata-kata itu lagi. Ia sedang berdiri di sebuah kafe yang sedang ramai pengunjung. Pemuda itu menyingkirkan pikiran dan pandangan matanya pada kenyataan bahwasanya sebagian dari para pengunjung kafe itu hanyalah anak-anak dan wanita. Pada langkah ke tigapuluh, lelaki itu menekan picu di dadanya dan semuanya menjadi gelap seketika.
***

Sebelum Santo menuntaskan tugas mulia itu, hatinya kecilnya telah memperingatkan bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sesuatu yang sangat dungu. Namun Santo tetap bertahan, mencoba menguatkan diri dan berusaha tidak peduli pada jeritan lantang yang bergema di dadanya itu.

“Ada tujuh lapis cahaya yang akan menghalangimu pergi ke surga. Jika satu lapis saja terbuka, niscaya kau akan menguap jadi udara,” lantang suara hati kecil Santo berteriak. “Cahaya yang terlalu terang tidak hanya akan membutakan mata lahir, namun juga mata batin. Jika tak mawas diri, kau akan terbakar sia-sia.”

“Apa pun risikonya, aku akan menerima,” sanggah suara lain di kepala Santo tak kalah lantang. “Apa pun yang terjadi, agama ini akan kubela sampai mati.”

“Aku hanya mengingatkan,” ujar suara itu tak mau menyerah. “Aku harap kau tahu apa yang sedang kaulakukan. Kau masih memiliki kesempatan untuk menghentikan semua ini.”

Santo mengabaikan suara itu. Namun penyesalan datang mengungkungnya dari segala penjuru. Ia terkurung dalam ruang terang yang sangat lapang, tercekik sensasi menyilaukan yang meremas bola mata. Entah bagaimana ia bisa berada di sana. Seolah-olah ada kekosongan dalam ingatannya sebelum ia berada di sana.

Santo hanya mampu mengingat sekelumit peristiwa. Pagi itu, di sebuah kafe, sebuah ledakan hebat membuat jiwanya terbang bersama segala ingatan yang berhamburan dari tubuh dan tempurung kepalanya. Selebihnya, Santo tak mampu mengingat apa-apa.

Kebingungan merangsek masuk ke dada dan kepalanya. Menciptakan rasa sesak yang menyakitkan. Santo tak kunjung mengerti alasan  mengapa ia bisa berada di tempat itu. Ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah ia sudah berada di alam kematian? Atau, mengapa surga tak seperti yang digambarkan di dalam kitab sucinya?

Santo diam sejenak, kepalanya tertunduk. Ia sangat berharap ada yang sudiberinya jawaban, tapi tidak ada. Hanya denging kesunyian yang menusuk-nusuk dinding tebal rasa sabarnya. Pada akhirnya dinding kesabaran itu runtuh dan ia meneriakkan kata-kata paling buruk yang pernah keluar dari mulutnya sepanjang hidup.

“Aku sudah muak! Dengar, aku sudah muak! Keparat! Di mana aku berada?”

Sekarang air mata mulai mengaliri pipinya. Santo tidak bisa lagi menahannya. Tidak bisa lagi menipu diri bahwa ia tidak takut. Suaranya yang bergetar mula-mula mirip suara anak kecil, lalu lama kelamaan mirip lengkingan bayi yang tergeletak dan dilupakan di tempat tidurnya. Pantulan suara itu membuatnya menggigil. Satu-satunya suara yang bergema di tempat sunyi itu hanya suara tangisannya, jeritannya meminta tolong, memohon dalam keputusasaan.

“Aku sudah tahu tanpa perlu kauberitahu.”
Setelah beberapa waktu, akhirnya Santo mendengar satu suara yang datang dari arah depan. Suara tanpa sosok. Santo menegakkan punggung perlahan-lahan, kemudian memandang ke hadapan dengan ketakutan yang kian meraksasa. Ia menghapus air mata dengan punggung lengan.

“Siapa kau?” tanya Santo gugup.

“Aku adalah dirimu sendiri,” jawab suara tanpa wujud itu. “Yang menemanimu sepanjang hidup.”

Tubuh Santo mulai mengigil. “Apakah aku sudah mati?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Kau memang telah mati.”

Jawaban itu membuat sekujur tubuh Santo tiba-tiba lunglai. Suara itu menggema dari balik cahaya, terdengar lembut  menentramkan, namun tersirat sebuah ancaman—setidaknya Santo merasa begitu.

Tempatnya bersimpuh telah menjadi padang rumput yang maha indah. Semilir angin membawa aroma bunga yang merekah. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, hijau, ungu, hitam, putih, emas, perak, jingga dan jutaan warna lain. Semuanya merekah dan menguarkan aroma wangi yang manis.

“Apakah aku sudah berada di surga?” tanya Santo kebingungan.

“Apakah menurutmu kaulayak tinggal di surga?” suara tanpa wujud itu balik bertanya. “Surga tertutup bagi para pendosa.”

Bunga-bunga yang tadi merekah tiba-tiba menguncup. Warna-warna yang melekat pada kelopaknya memudar, lalu kering dan menyerpih seperti kertas yang terbakar. Angin wangi yang tadi semilir, sekarang berganti bau busuk yang menyengat. Batin Santo bergemuruh. Tempat bersimpuhnya berubah menjadi padang tandus panas yang penuh lekang-lekang berdebu.

“Mengapa aku berada di sini? Bukankah guru menjanjikan surga untukku?” tanyanya lirih.

“Kau telah tertipu. Kau tak menggunakan akal dan pikiranmu. Tidak ada surga untukmu. Tidak akan pernah ada."

Jawaban itu membuat Santo mulai menangis. Ia berteriak-teriak memohon ampunan. Tapi hening, tak ada jawaban. Perlahan-lahan cahaya yang terang itu menjauh, membuat sekelilingnya berangsur menjadi gelap. Suasana berubah menjadi begitu sunyi. Begitu mati.
Santo terbujur dalam kesedihan . Tubuhnya tak mampu lagi bergerak—seolah-olah seluruh kerangkanya telah hancur menjadi abu. Lelaki itu kian keras menangis saat ruang lapang di sekelilingnya mulai bergerak, menyempit dan menghimpit tulang rusuknya satu demi satu. (*)


Catatan: Cerpen ini pernah tayang di koran Haluan, edisi Minggu, 03 Februari 2019

About

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts