Semesta adalah akuarium kata-kata dan kita adalah ikan-ikannya....

Selasa, 07 April 2026

Rimba


Seminggu sebelum pesta pernikahannya digelar, Darmanto menemui Mbah Sarmijan. Lelaki berumur delapan puluh tahun itu, oleh warga kampung Bondol, telah dianggap begawan paling waskita, peramal paling ulung untuk urusan masa depan. Oleh sebab itulah, Darmanto berpikir, sebelum dia betul-betul menikah, belum afdhol rasanya jika belum minta petuah pada Mbah Sarmijan.

“Jika ingin hidupmu bahagia dan dijauhkan dari bala, menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Mbah Samijan. Lelaki berjanggut putih panjang itu duduk bersila di dipan kayu nangka, sedangkan Darmanto duduk di sampingnya. Pemuda itu menyimak dengan takzim setiap kalimat yang keluar dari mulut Mbah Samijan.

“Apa maksudnya ‘perempuan yang punya rimba’ itu, Mbah?”

“Itu hanya kiasan,” jawab Mbah Samijan. “Rimba yang kumaksudkan adalah bulu kemaluan.”

Serentak tersembur tawa dari mulut Darmanto usai mendengar jawaban itu. “Mbah ini ada-ada saja,” ujarnya dengan raut wajah memerah tersengat malu.

“Aku tidak bercanda,” jawab Mbah Samijan serius. “Kamu mau hidup menderita dan susah berkepanjangan karena menikah dengan perempuan gersang?”

Darmanto menggeleng, kemudian kembali bertanya. “Tapi kenapa pula mesti begitu syaratnya?”

“Rimba adalah perlambang kesuburan dan kekayaan,” sahut Mbah Samijan penuh wibawa. Dia berhenti sejenak, lalu menyalakan rokok klobotnya sebelum melanjutkan kata-kata. “Semakin lebat rimba perempuan yang kamu nikahi, semakin lebat pula hujan rejeki dalam hidupmu nanti."

Darmanto tersenyum kecut, tapi dia mengangguk-angguk juga. Sisa-sisa tawa meluncur pelan dari mulutnya. Entah meremehkan, atau sedang gamang. Sebenarnya Darmanto belum mengerti benar, bagaimana mungkin syarat hidup bahagia berumah tangga dikait-pautkan dengan rambut yang tumbuh di kemaluan? Darmanto ingin menyangkal, tapi segan pada  nama besar Mbah Samijan. 
Sudah banyak bukti ramalan Mbah Samijan sering menjadi kenyataan. Seperti yang terakhir, ketika Tukimin, anak bungsu Mang Sapardin hilang seminggu yang lalu. Orang-orang mencari ke semua lekuk kampung Bondol, namun bocah itu tak kunjung ditemukan. Barulah ketika beberapa orang berpetuah pada Mbah Samijan, keberadaan Tukimin mendapat titik terang. Mbah Samijan mengatakan, bocah itu berada di bawah jembatan sungai Widas. Dan benar saja, ketika orang-orang berbondong menuju tempat itu, jasad Tukimin ditemukan.

Selain itu tentu saja, banyak lagi peristiwa yang membuktikan ramalan Mbah Samijan tak bisa diremehkan. Dan, lantaran kenujuman-kenujumannya itulah, Mbah Samijan menjadi tempat meminta petunjuk bagi orang-orang. Persis seperti yang dilakukan Darmanto. Dia bertandang ke rumah Mbah Samijan untuk menanyakan rencana pernikahannya dengan Mayang.

Darmanto ingin tahu seperti apa rumah tangganya di masa depan. Apakah bahagia ataukah tidak. Darmanto juga penasaran, hal apa saja yang perlu dia lakukan agar biduk rumah tangganya tak mendapat halang rintangan. Tapi jawaban yang dia terima, alih-alih menenangkan, malah mencengangkan.

“Tolonglah, jangan menakutiku begitu, Mbah,” kata Darmanto murung. “Mbah 'kan tahu, aku ini akan menikah. Kalau ternyata istriku tak punya bulu kemaluan, tak mungkin pula pernikahanku dibatalkan.”

“Aku sekadar mengingatkan,” jawab Mbah Samijan tenang. Dia seolah tahu pertanyaan yang berkecambah di kepala Darmanto. “Itu juga kalau kamu percaya. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa.” 

“Aku percaya, Mbah, aku percaya,” sahut Darmanto gentar. “Tapi apa mungkin semua laki-laki yang hidup menderita setelah menikah itu karena istrinya tak punya rimba?”

“Aku tidak membicarakan semua laki-laki. Aku membicarakanmu,” seloroh Mbah Samijan sambil menjentikkan abu rokoknya ke asbak tanah liat di atas meja. Telunjuknya lurus menuding ke wajah Darmanto. “Aku melihat syarat itu di wajahmu. Kalau kamu ingin hidupmu bahagia dan jauh dari bala, ya hanya itu syaratnya. Menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

“Kalau tidak ada, bagaimana?” tanya Darmanto sekonyong-konyong.

“Tidak mungkin. Pasti ada!”

Darmanto menghela napas panjang. Dia menggaruk kepala. “Kalau nanti ternyata istriku tak punya, apakah aku mesti menceraikannya?”

Mbah Samijan tergelak. “Tak perlu risau, Darmanto. Percayalah padaku. Calon istrimu itu pasti punya rimba. Tenang saja ha ha ha ....” jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Darmanto.
***
BACA JUGA: Cengkung

Sejak mendengar ramalan Mbah Samijan, mau tidak mau Darmanto jadi kepikiran juga. Bahkan boleh dibilang ramalan itu membuatnya bimbang. Sebagai pemuda yang sedang bersiap melepas masa lajang, perkara hidup bahagia tentu menjadi tujuan. Namun persoalannya, letak dari kebahagiaan itu sungguh tak masuk di akalnya.

Darmanto belum menemukan cara untuk mengetahui apakah Mayang, calon istrinya itu memiliki rimba ataukah tidak. Darmanto malu jika harus bertanya. Dia juga tak punya nyali untuk memungkasi rasa penasarannya dengan mengendap-endap di sekitar tempat pemandian atau mengintip gadis itu berganti pakaian. Darmanto tak sanggup menerima resikonya: dihajar orangtua Mayang atau yang lebih gawat lagi, dihajar sampai sekarat seperti nasib Udin Gembala yang kepergok tengah mengintip anak gadis Bude Sum yang sedang mandi di Sendang Galuh beberapa bulan yang lalu.

“Menurutmu, apakah mesti kutanyakan saja pada Mayang, ya, Man?” tanya Darmanto kepada Rahman. Rahman ini kawan akrabnya. Apa pun permasalahannya, Darmanto senang membaginya pada Rahman. Rahman kerap memberi jalan keluar yang cerdas dan kadangkala luput dari  pemikiran Darmanto.

“Ya, ada baiknya kamu tanyakan saja,” sahut Rahman yakin. “Lagi pula ini untuk kebaikan kalian berdua.”

“Maksudmu?”

“Ya, kalau ternyata—eem, maaf ini ya, kalau ternyata benar Mayang tak punya rimba, bukankah kata Mbah Samijan hidupmu bakal sengsara? Karena itulah kupikir, sebaiknya kamu memang mesti bertanya. Setidaknya kalau betulan dia tak punya rimba, kalian bisa cari obat penyuburnya ha ha haa....”

“Sial!” maki Darmanto sambil mencengkram puncak kepalanya. “Tidak mungkin aku membatalkan pernikahanku cuma gara-gara persoalan ini. Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan orang-orang.”

Rahman menatap wajah gusar Darmanto dengan prihatin. “Ya, jangan sampai begitu. Undangan sudah disebar, jangan sampai juga kamu batalkan. Kalau sampai dibatalkan, bukan cuma kamu yang malu, tapi juga keluargamu dan keluarga Mayang. Pikirkan itu.”

Darmanto tak menjawab. Dia hanya mengangguk. Pemuda itu bersetuju dengan saran yang diberikan Rahman. Memang itulah yang harusnya dia lakukan; membicarakan baik-baik dengan Mayang. Lagi pula bagi Darmanto, menikah bukan perkara setahun dua tahun belaka. Menikah itu cukup satu kali seumur hidup dan, kalau bisa, selamanya. Setelah memikirnya berulang kali, Darmanto sampai pada satu kesimpulan: dia memang harus menemui Mayang.
***
BACA JUGA: Orang-Orang Pabrik

Pagi-pagi sekali Darmanto datang ke rumah Mayang. Ayah dan Ibu Mayang kebetulan sedang tidak ada di rumah. Adik-adik Mayang juga sudah berangkat ke sekolah. Suasana rumah yang sepi membuat Darmanto sedikit lega, sebab dia tak perlu takut ketahuan jika bertanya yang aneh-aneh pada Mayang. Dengan malu-malu, Darmanto menceritakan semuanya. Awal dia bertemu Mbah Samijan, hingga hasil ramalannya.

Mayang mengangguk-angguk. Rambut panjangnya turut berayun mengikuti gerak kepalanya. “Aku mengerti,” katanya sembari menahan senyum. “Aku mengerti kecemasanmu. Tapi aku rasa, belum saatnya kamu tahu jawabannya.”

“Kenapa?” sergah Darmanto memaksa. “Menurutku sebaiknya kamu katakan saja.”

“Kenapa kamu bicara begitu, Mas?” tukas Mayang naik pitam. “Kamu mau menikahiku atau mau menikahi bulu kemaluanku?”

Darmanto terbelalak.  Pemuda itu terperanjat melihat reaksi yang ditunjukkan Mayang, lebih-lebih mendengar pertanyaannya. Dia mengerang lirih dan geleng-geleng kepala. Darmanto tak bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahnya memberat serupa batu.

“Ya sudah kalau begitu. Aku minta maaf,” kata Darmanto merunduk malu.

Mayang tak menjawab. Gadis itu mendengus, lalu meninggalkan Darmanto terpaku di ruang tamu. Selanjutnya, pemuda itu memutuskan untuk menyerahkan jawabannya pada nasib. Dia tak berhasrat lagi mencari tahu. Darmanto mengubah keyakinannya dan akan menjalani pernikahan tanpa perlu mencemaskan ramalan Mbah Samijan. Meskipun diam-diam, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Darmanto masih berharap Mayang punya rimba di kemaluan.
***

Siang itu kampung Bondol ramai. Darmanto dan Mayang melangsungkan pernikahan. Suara organ tunggal terdengar riuh. Orang-orang bersuka cita dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Pesta itu sebenarnya berlangsung cukup meriah, namun tidak bagi Darmanto. Pernikahan itu terasa berat baginya. Di atas kursi pelaminan, sepanjang pesta dilangsungkan, pemuda itu tampak gelisah.

Hingga waktu pun bergulir menuju sore, sore pun beringsut menuju malam. Di kamar pengantin, seusai pesta digelar, Darmanto dan Mayang bersiap melakukan ritual sakral malam pertama. Terngiang-ngiang di telinga Darmanto ramalan Mbah Samijan saat Mayang melepas pakaian.

“Lampunya matikan saja ya, Mas?” bisik Mayang.

“Kenapa?”

“Aku malu."

“Oh ya, tak apa. Matikan saja,” jawab Darmanto santai. Lagi pula dia tak perlu nyala lampu untuk menemukan apa yang diharapkan.

Dengan hati-hati Darmanto naik ke ranjang. Terdengar napas memburu dari mulut Mayang ketika jemari Darmanto merayap di atas lutut, terus naik ke atas paha.

“Matilah aku!” jerit Darmanto tiba-tiba.

Jemarinya terus meraba-raba, mencari apa yang diharapnya ada. Tetapi Darmanto tak menemukan apa-apa. Semuanya polos tak ada rimba. Darmanto merasa pandangannya berubah buram, seturut bayangan masa depan yang juga ikut-ikutan buram. Darmanto tidak tahu jika sehari sebelumnya, Mayang telah mencukur tandas semuanya. Mayang lupa, betapa berharganya rimba itu bagi suaminya. (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di harian Denpasar Post, edisi Minggu, 07 April 2019
Share:

Cengkung


Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan. Seperti orang gila, ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela.

“Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!”

“Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya.

“Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal.

Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana, tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan.

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong,  orang-orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Hanya satu-dua saja yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.
***

Satu bulan sebelum peristiwa pahit itu terjadi, serombongan laki-laki bertandang ke rumah Pacik Awang. Rombongan itu adalah utusan Pacik Hambali yang bermaksud mengajukan pinangan untuk Kemaladara jelita, puteri satu-satunya Pacik Awang untuk Anwar, puteranya semata wayang.

Dari hulu sampai ke hilir kampung Lubuk Tampui, tak ada yang meragukan kecantikan Kemala. Telah banyak pula pemuda yang berniat meminangnya, namun mahar yang dicanangkan Pacik Awang membuat mereka harus menimbang niat beribu kali.

Lelaki tua itu tak tanggung-tanggung meletakkan mahar untuk Kemala. Bila tak sanggup menyediakan perhiasan emas ratusan karat serta sutra pengikat berlarat-larat, jangan harap bisa menikahi puterinya. Tetapi syarat itu tidak berlaku bagi Pacik Hambali. Ia adalah saudagar terpandang di kampung Lubuk Tampui. Mahar yang dipinta Pacik Awang, bukan sesuatu yang sulit baginya.

Lagi pula, Pacik Hambali bersahabat dekat dengan Pacik Awang. Persahabatan yang terjalin bukan setahun dua tahun belaka. Mereka bersahabat lebih dari saudara. Namun persoalan datang justru dari Kemala. Gadis itu menolak rencana perjodohan yang digadang-gadang untuk dirinya.

“Pernikahanmu dengan Anwar adalah ujian martabatku. Jangan sesekali menolak kecuali kauingin mengguyur kepalaku dengan kotoran.”

“Bukan aku menolak, Ayah ...” sahut Kemala ragu-ragu. “Tapi ...”

“Tapi kenapa?” potong Pacik Awang tak sabar. Wajah Kemala berubah pucat seperti mayat. Tusukan tajam mata lelaki tua itu membuat jantungnya menciut. Hampir dua puluh tahun hidupnya, tak pernah sekalipun ia membantah kata-kata ayahnya.

"Apakah anak bujang Kasim itu yang membuat kau durhaka padaku seperti ini?” Pacik Awang muntab. Ia tegak berkacak pinggang, sebilah skin tersembul dari balik bajunya.

“Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Bang Radin, Ayah.” Kemala menundukkan wajah. Bang Radin hanya teman sesama guru.”

“Nah, kalau begitu apa alasan kau menolak perjodohan ini?”

“Aku tak setuju jika cengkung dipakai dalam adat pernikahanku," jawab Kemala pelan. Wajahnya menunduk semakin dalam.

“Kenapa kau tak setuju? Tak perlu takut jika kau tak berbuat apa-apa." Pacik Awang mulai melunak. Tatapan pisaunya menumpul.

“Aku tak takut.”

Pacik Awang menatap Kemala penuh selidik, “Tapi kenapa kaumenolak? Apa karena alasan kau tak suka pada Anwar. Sudahlah, Kemala, rasa suka itu akan muncul jika kalian berumah tangga. O, atau kau sudah melanggar adat, hingga takut cengkung tak berbunyi di malam pengantinmu?”

“Demi Tuhan dan demi Ibu yang melahirkanku. Aku masih suci, Ayah. Aku selalu menjunjung tinggi harga dirimu."

Mata Kemala berkilat, suaranya berderak di antara hening yang memantul di rumah panggung berdinding papan itu. Matanya berair saat memandang potret bisu perempuan yang sedang tersenyum beku di dinding rumah itu.

"Aku tak mungkin menistakan diri dan membuat ibu menangis di alam kubur," isak Kemala.

"Jika begitu, tak ada yang perlu kaucemaskan. Lagi pula siapa yang akan meneruskan adat di kampung ini kalau bukan kalian-kalian yang masih muda."

"Tidak, Ayah! Tidak!" seru Kemala. Ia berdiri menantang, bagai menjelma harimau luka. Gadis itu menantang mata Ayahnya. “Cengkung adalah adat yang menghina. Ayah harus tahu, bahwa kesucian wanita tak selamanya berpaut pada tetes darah di lembar pembungkus orang mati!"

“Cukup!" bentak Pacik Awang dengan wajah merah padam. "Kau tak usah membantah. Aku dan Hambali sudah sepakat. Kau dan Anwar akan menikah bulan depan!" tegasnya menyudahi perdebatan. Lelaki itu lantas meninggalkan Kemala duduk terdiam tanpa mampu menjawab apa-apa.

Selepas pertengkaran hebat itu, Kemala menjadi batu. Di punggungnya bagai ada sebongkah es yang merayap. Dentang cengkung adalah sangkakala penanda kiamat. Pengadilan adat akan menjerat lehernya, tak peduli meskipun ia tak pernah mencurangi dirinya sendiri.

Kemala dirundung bingung, sebab tak tahu harus berbuat apa. Kesucian wanita memang tak selamanya dibuktikan setetes darah di malam pertama. Namun ayahnya dan orang-orang di kampungnya mana tahu dan mana peduli perihal itu. Kemala menekur diri, membayangkan musibah besar yang akan jatuh menimpa apa bila perjodohan itu betul-betul terlaksana.

Di dalam aturan adat yang berlaku turun temurun, usai pesta pernikahan digelar, kehormatan dan kesucian pengantin wanita harus dibuktikan di atas sehelai kain putih dan dentang cengkung di malam pertama. Hanya dengan cara itu kesucian akan dijamin. Bagai hitam di atas putih, terang-gelapnya tak bisa dipersengketa.

Ketika sepasang pengantin menyibak tirai kamar, seisi kampung akan menunggu. Apabila cengkung berbunyi bertalu-talu, itu pertanda pengantin wanita masih perawan dan apabila cengkung membisu, maka kampung dianggap telah ternoda dan harus melakukan upacara tolak bala.

Hujat gunjing akan menjadi racun yang menusuk tulang belikat. Orangtua yang ketahuan anak gadisnya tak lagi suci, akan dicemooh dan dihina. Sedangkan sang gadis akan diusir. Adat inilah yang menjadi hantu di benak Kemala, berpuluh hari sejak diterimanya pinangan itu oleh ayahnya
***

Apa yang diucapkan Pacik Awang satu bulan yang lalu menjadi kenyataan. Hari yang paling ditakuti Kemala tiba juga. Akad nikah dilaksanakan dan Kemala tak memiliki kesempatan untuk menghindarinya.

Rumah panggung yang panjangnya hampir tiga puluh depa itu ramai oleh tamu-tamu undangan. Ruang berbentuk aula dijadikan tempat untuk berkumpul. Pacik Awang dan Pacik Hambali sibuk meladeni tamu-tamu yang berasal dari beragam latar belakang. Ada pejabat, ada saudagar, ada rakyat biasa, semua berbaur menjadi satu. Sesekali mereka tertawa dan saling menepuk bahu tanda memuji.

Di atas kursi pelaminan, Kemala dan Anwar duduk bersanding bagai raja dan permaisuri. Anwar duduk gagah dengan senyum yang tak henti-henti. Ia bangga telah menyunting Kemala, kembang kampung Labuk Tampui. Tapi Kemala terlihat kuyu. Ada ketakutan yang membayang di wajah cantiknya.

Kemilau songket bersulam emas tak sanggup menyulam senyum di bibir Kemala. Risau terpahat begitu nyata. Gadis itu bagai bidadari yang terperangkap di samping raksasa jahat. Meski ia tak menangis, namun ketakutan itu membayang jelas.

Siang menyasar menuju sore, sore beringsut menuju malam. Tibalah pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Malam pertama pengantin baru. Seperangkat cengkung sudah dipersiapkan di atas panggung dan kain putih telah digelar di atas ranjang pengantin.

Detik berjalan senyap bagai tak bernyawa. Orang-orang menunggu berkasak-kusuk. Ada yang tertawa, ada yang berbisik mengumbar canda. Perempuan-perempuan juru masak di dapur terkikik-kikik. Semua membayangkan apa yang tengah terjadi di bilik kamar pengantin.
Suasana malam yang penuh kasak-kusuk dan tawa tertahan-tahan itu redam oleh derit pintu kamar yang terbuka. Berpuluh pasang mata tak sabar menunggu kabar. Anwar melangkah keluar dengan muka masam. Di tangannya tergenggam kain putih yang telah kusut. Ia tak banyak bicara, hanya menyodorkan kain putih itu pada ayahnya.

“Tak perlu menabuh cengkung!" teriak Pacik Hambali pada tetua adat yang menjadi perwakilan mempelai laki-laki. “Kain ini tidak akan berdusta. Kampung ini telah ditaburi bibit bencana. Tega nian engkau padaku, Awang! Anak gadismu ternyata tak lagi perawan. Ini buktinya!”

Lelaki itu melempar kain putih ke wajah Pacik Awang. Ia lantas membukanya dengan jemari gemetar. Tak ada bercak noda di sana. Tak ada darah yang yang menjadi bukti kesucian Kemala. Datuk Awang merintih. Ia terduduk lunglai tanpa bisa berkata-kata.

Malu serupa skin yang ditusukkan ke ulu hati. Anak kebanggaan sekaligus anak yang menjadi penjunjung harga dirinya telah melumurkan najis kepalanya. Kenyataan itu telah membungkam mulut Pacik Awang untuk membela harga dirinya yang jatuh di hadapan berpuluh pasang mata.

Di balik kamar pengantin, Kemala meratap. Tipis nian adat membalut harga dirinya. Setipis kain putih yang menjadi pembukti kesuciannya. Sungguh berat beban malu yang akan ditanggungnya. Ia akan terusir, bukan karena kesalahan yang dikira orang-orang, melainkan karena adat yang buta pada kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Pesta pernikahan malam itu menyisakan luka yang menganga. Satu persatu orang-orang meninggalkan rumah panggung Pacik Awang. Malam pun kian melengang, hanya sesekali terdengar isak tangis Kemala yang bersikejar dengan rintih pedih Pacik Awang.

Bulan menggantung pucat di langit kampung Lubuk Tampui. Saat malam menuju dini hari, Kemala meninggalkan rumahnya. Diam-diam gadis itu menerabas kepekatan malam dan menuju sawah Tanjung Raya. Di dahan pohon kepayang tua, ia menebus malu dengan nyawanya. (*)

Catatan
Cengkung. Sejenis gong kecil yang ditabuh saat malam pertama. Jika gong dibunyikan maka pertanda mempelai perempuan masih perawan. Sebaliknya, jika tidak ditabuh, maka pengantin perempuan dianggap tak lagi perawan dan pihak mempelai laki-laki berhak menceraikannya. Adat ini masih ada sampai sekarang di kabupaten Muara Enim, Sumatera-Selatan.

Skin. Pisau pendek khas dari Kabupaten Muara Enim, bentuknya mirip helai ekor ayam jantan.


Cerpen ini pernah tayang di koran Kompas, edisi Minggu, 24 Februari 2019
Share:

Surga untuk Lelaki yang Tertipu


Janji surga bagi Santo ibarat secawan anggur yang manis. Semakin diminum, semakin memabukkan. Sedangkan agama, ibarat laut kenikmatan yang maha luas. Semakin jauh ia menyelam, semakin dalam ia tenggelam. Dan kepada seorang lelaki tua yang sangat alim, ia menyerahkan segenap hidupnya demi mengejar keduanya.

“Agama adalah nyawa,” kata lelaki tua itu berwibawa. “Lakukan semuanya untuk agama. Jika agama menuntutmu mengorbankan nyawa, maka berikanlah.”

Sejak ia berguru kepada lelaki tua itu, Santo menanamkan nasihat itu ke dadanya. Berbilang bulan ia ditempa baik lahir maupun batin. Mata belianya memandang agama adalah kebenaran mutlak yang harus dibela. Ia dijejali kitab-kitab sirah yang berisi kisah-kisah kepahlawanan orang-orang terdahulu. Orang-orang yang membela agama dengan harta, jiwa dan raga.

“Tidak ada agama yang ditegakkan dengan mudah,” ucap lelaki tua itu berapi-api. “Langkah menuju kemuliaan itu selalu meninggalkan jejak-jejak berdarah.”

“Apakah kemuliaan itu, Guru?” tanya Santo melampiaskan hasrat ingin tahunya yang meluap-luap.

“Surga adalah kemuliaan,” jawab lelaki tua itu tanpa ragu.

Mata bundar belia itu bersinar penuh harapan. “Bagaimana cara meraih kemuliaan, Guru?”

“Dengan pengorbanan dan kesungguhan,” jawab lelaki tua itu seraya mengusap-usap jenggotnya. “Ketahuilah, Anakku. Dunia ini fana belaka. Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Lalu, dikisahkan pula oleh lelaki tua itu, betapa di belahan bumi yang lain, saudara-saudara mereka diperkosa, dijajah, dianiaya dan dibunuh semena-mena. Dada Santo tersulut segunung api kemarahan. Di benaknya yang lugu, terlahir sebuah kesimpulan, bahwa semua agama selain agamanya adalah kesesatan yang nyata.

“Apakah kau mau masuk surga?” tanya lelaki tua.

“Aku bersedia,” sahut Santo semringah.

Dengan penuh suka cita, lelaki tua itu membawa Santo ke sebuah tempat rahasia. Meretas rimba belantara yang jauh dari pemukiman. Di tempat itulah, Santo belajar menggunakan senjata, merakit peledak, dan berlatih olah fisik.
Kehidupan yang ia jalani sekarang hanya bersifat fana belaka. Jika mau masuk surga, dunia harus bersih dari para pendosa. Bertahun-tahun lamanya, Santo mendambakan surga. Surga yang lebih baik dari dunia dan seisinya.

“Selamat jalan,” kata lelaki tua itu pada Santo. “Kau telah berhasil memenuhi semua syarat yang dibutuhkan. Pergilah dengan hati bulat. Doaku selalu menyertaimu.”

Sebelum berangkat, Santo mencium tangan lelaki tua itu dengan penuh keharuan. “Kutunggu kau di pintu surga,” katanya pelan. Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Ia memeluk dan mencium kening Santo sebagai tanda perpisahan.

“Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Sekarang Santo mengingat kata-kata itu lagi. Ia sedang berdiri di sebuah kafe yang sedang ramai pengunjung. Pemuda itu menyingkirkan pikiran dan pandangan matanya pada kenyataan bahwasanya sebagian dari para pengunjung kafe itu hanyalah anak-anak dan wanita. Pada langkah ke tigapuluh, lelaki itu menekan picu di dadanya dan semuanya menjadi gelap seketika.
***

Sebelum Santo menuntaskan tugas mulia itu, hatinya kecilnya telah memperingatkan bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sesuatu yang sangat dungu. Namun Santo tetap bertahan, mencoba menguatkan diri dan berusaha tidak peduli pada jeritan lantang yang bergema di dadanya itu.

“Ada tujuh lapis cahaya yang akan menghalangimu pergi ke surga. Jika satu lapis saja terbuka, niscaya kau akan menguap jadi udara,” lantang suara hati kecil Santo berteriak. “Cahaya yang terlalu terang tidak hanya akan membutakan mata lahir, namun juga mata batin. Jika tak mawas diri, kau akan terbakar sia-sia.”

“Apa pun risikonya, aku akan menerima,” sanggah suara lain di kepala Santo tak kalah lantang. “Apa pun yang terjadi, agama ini akan kubela sampai mati.”

“Aku hanya mengingatkan,” ujar suara itu tak mau menyerah. “Aku harap kau tahu apa yang sedang kaulakukan. Kau masih memiliki kesempatan untuk menghentikan semua ini.”

Santo mengabaikan suara itu. Namun penyesalan datang mengungkungnya dari segala penjuru. Ia terkurung dalam ruang terang yang sangat lapang, tercekik sensasi menyilaukan yang meremas bola mata. Entah bagaimana ia bisa berada di sana. Seolah-olah ada kekosongan dalam ingatannya sebelum ia berada di sana.

Santo hanya mampu mengingat sekelumit peristiwa. Pagi itu, di sebuah kafe, sebuah ledakan hebat membuat jiwanya terbang bersama segala ingatan yang berhamburan dari tubuh dan tempurung kepalanya. Selebihnya, Santo tak mampu mengingat apa-apa.

Kebingungan merangsek masuk ke dada dan kepalanya. Menciptakan rasa sesak yang menyakitkan. Santo tak kunjung mengerti alasan  mengapa ia bisa berada di tempat itu. Ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah ia sudah berada di alam kematian? Atau, mengapa surga tak seperti yang digambarkan di dalam kitab sucinya?

Santo diam sejenak, kepalanya tertunduk. Ia sangat berharap ada yang sudiberinya jawaban, tapi tidak ada. Hanya denging kesunyian yang menusuk-nusuk dinding tebal rasa sabarnya. Pada akhirnya dinding kesabaran itu runtuh dan ia meneriakkan kata-kata paling buruk yang pernah keluar dari mulutnya sepanjang hidup.

“Aku sudah muak! Dengar, aku sudah muak! Keparat! Di mana aku berada?”

Sekarang air mata mulai mengaliri pipinya. Santo tidak bisa lagi menahannya. Tidak bisa lagi menipu diri bahwa ia tidak takut. Suaranya yang bergetar mula-mula mirip suara anak kecil, lalu lama kelamaan mirip lengkingan bayi yang tergeletak dan dilupakan di tempat tidurnya. Pantulan suara itu membuatnya menggigil. Satu-satunya suara yang bergema di tempat sunyi itu hanya suara tangisannya, jeritannya meminta tolong, memohon dalam keputusasaan.

“Aku sudah tahu tanpa perlu kauberitahu.”
Setelah beberapa waktu, akhirnya Santo mendengar satu suara yang datang dari arah depan. Suara tanpa sosok. Santo menegakkan punggung perlahan-lahan, kemudian memandang ke hadapan dengan ketakutan yang kian meraksasa. Ia menghapus air mata dengan punggung lengan.

“Siapa kau?” tanya Santo gugup.

“Aku adalah dirimu sendiri,” jawab suara tanpa wujud itu. “Yang menemanimu sepanjang hidup.”

Tubuh Santo mulai mengigil. “Apakah aku sudah mati?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Kau memang telah mati.”

Jawaban itu membuat sekujur tubuh Santo tiba-tiba lunglai. Suara itu menggema dari balik cahaya, terdengar lembut  menentramkan, namun tersirat sebuah ancaman—setidaknya Santo merasa begitu.

Tempatnya bersimpuh telah menjadi padang rumput yang maha indah. Semilir angin membawa aroma bunga yang merekah. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, hijau, ungu, hitam, putih, emas, perak, jingga dan jutaan warna lain. Semuanya merekah dan menguarkan aroma wangi yang manis.

“Apakah aku sudah berada di surga?” tanya Santo kebingungan.

“Apakah menurutmu kaulayak tinggal di surga?” suara tanpa wujud itu balik bertanya. “Surga tertutup bagi para pendosa.”

Bunga-bunga yang tadi merekah tiba-tiba menguncup. Warna-warna yang melekat pada kelopaknya memudar, lalu kering dan menyerpih seperti kertas yang terbakar. Angin wangi yang tadi semilir, sekarang berganti bau busuk yang menyengat. Batin Santo bergemuruh. Tempat bersimpuhnya berubah menjadi padang tandus panas yang penuh lekang-lekang berdebu.

“Mengapa aku berada di sini? Bukankah guru menjanjikan surga untukku?” tanyanya lirih.

“Kau telah tertipu. Kau tak menggunakan akal dan pikiranmu. Tidak ada surga untukmu. Tidak akan pernah ada."

Jawaban itu membuat Santo mulai menangis. Ia berteriak-teriak memohon ampunan. Tapi hening, tak ada jawaban. Perlahan-lahan cahaya yang terang itu menjauh, membuat sekelilingnya berangsur menjadi gelap. Suasana berubah menjadi begitu sunyi. Begitu mati.
Santo terbujur dalam kesedihan . Tubuhnya tak mampu lagi bergerak—seolah-olah seluruh kerangkanya telah hancur menjadi abu. Lelaki itu kian keras menangis saat ruang lapang di sekelilingnya mulai bergerak, menyempit dan menghimpit tulang rusuknya satu demi satu. (*)


Catatan: Cerpen ini pernah tayang di koran Haluan, edisi Minggu, 03 Februari 2019
Share:

Sabtu, 07 Maret 2026

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray

Ketika Russel Donovan di bawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketika polisi-polisi muda yang menangkapnya membacakan hak-haknya sebagai tersangka, Russel terus saja menggumam. Dengan tangan terborgol, ia digelandang ke sebuah ruangan berdinding putih dengan lampu menyala terang. Penjaga laki-laki berseragam dan bertubuh tinggi kekar yang mengantarnya memberitahu bahwa Russel akan diinterogasi.

Di dalam ruang interogasi sudah ada seorang laki-laki yang tampaknya memang sudah menunggu kedatangan mereka. Laki-laki itu duduk di balik meja besi yang memisahkan dua kursi yang saling berhadapan. Di balik kemeja hitam kusutnya, laki-laki itu bagai sebatang pohon oak yang meranggas kering. Bola mata biru yang keruh itu tak berhenti menatap ke arah Russel. Ia seakan sedang menakar ketidakmungkinan bahwa laki-laki dengan penampilan lembek seperti Russel perbuatan kejamnya telah mengisi halaman surat kabar dan membuat walikota dan komisaris polisi sampai harus turut memberikan keterangan pers.

Ia sudah menghubungi pengacara? tanya laki-laki berkemeja hitam.
Belum. Mungkin tidak akan ada pengacara yang akan mendampinginya, kata laki-laki penjaga itu seraya memastikan ikatan di kaki Russel tidak longgar.

“Terima kasih, Jenkins,” kata laki-laki yang duduk di belakang meja besi.

Laki-laki penjaga yang dipanggil Jenkins itu mengangguk kemudian berlalu, “Aku ada di luar. Kalau dia berulah, panggil saja aku, biar kupatahkan lehernya” kata laki-laki itu dengan tatapan dingin pada Russel.

“Tentu saja, Jenkins,” jawab laki-laki setengah baya itu sembari tertawa.

Di ruangan berukuran 4x4 meter itu, sekarang hanya tinggal Russel dan laki-laki setengah baya bertubuh ceking itu saja. Laki-laki setengah baya itu bertatapan dengan Russel beberapa saat sebelum langkah kaki Jenkins hanya menyisakan gema dan derit pintu ruangan yang menutup rapat.

“Apakah Anda mabuk tadi malam?” tanya laki-laki setengah baya itu sembari menyipit. Di tangannya melingkar rolex warna emas, Russel yakin itu barang tiruan yang di beli di kawasan Bronx, West Side. Sebelum bekerja di The Greyhound, Russel pernah menjadi penjual barang-barang imitasi selundupan dari China, salah satunya seperti rolex yang dipakai laki-laki yang sedang menginterogasinya itu. Russel tersenyum mendapati pemikiran jenaka itu menyempal di kepalanya.

“Kau bisa menjawab pertanyaanku?” Tangan yang dilingkari rolex itu menghantam meja. Suara gebrakan keras membuat tubuh Russel tersentak.

“Tadi malam aku minum bir di club Wrangler. jawab Russel tergeragap. Aku rasa satu gelas bir tidak akan membuatku mabuk”

“Kau bersama seseorang saat itu?”

Russel menggeleng. “Aku sendirian,” jawabnya mulai santai. “Tapi jika kau bertanya siapa saja yang ada di tempat itu tadi malam, aku bisa menunjukkan. Mungkin kita bisa berbincang dalam suasana lebih bersahabat di sana?”

“Kau jangan coba-coba bermain denganku.” Laki-laki setengah baya itu beringsut, meletakkan kedua siku di atas meja. “Menurutmu, apa untungnya membohongiku?”

“Oh ayolah,” kata Russel tertawa. “Aku tidak berbohong. Aku memang minum bir tadi malam. Tapi aku sama sekali tidak mabuk.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?” jawab Russel mulai kesal.

“Apa yang kausembunyikan?”

“Tidak ada. Aku berbohong pun, anjing itu tidak akan hidup lagi.”

Laki-laki setengah baya itu menggeram. Russel ingin tertawa saat melihat tampang kusut laki-laki itu. Ia membayangkan laki-laki itu seekor gagak hitam kurus dan jelek. Rambutnya yang beruban mencuat dari kulit kepalanya bagai helai rumput kering. Namun dari semua itu, suaranya yang berat dan parau itulah yang paling membuat Russel ingin tertawa.

Entah untuk menggertak atau membuat nyali Russel menciut, laki-laki setengah baya itu mencabut pistol di pinggang dan meletakkannya di atas meja. Melihat pistol itu, Russel ingat pistol yang ia buang tadi malam. Ia mencemaskan benda itu ditemukan Tom—anak tetangganya yang berumur sembilan tahun. Russel berharap polisi sudah menemukan benda itu atau benda itu tetap berada di tempatnya sampai urusannya di sini selesai.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku tidak memikirkan apa pun saat ini,” jawab Russel berbohong.

Laki-laki setengah baya itu berdeham. Jari-jarinya yang kurus mengetuk-ngetuk meja besi, seperti irama perkusi yang kacau. Bentuk jari-jari itu seperti ranting kering. Ada noda nikotin di kuku telunjuknya, sedang pada jari manisnya ada jejak lingkaran memutih yang mungkin berasal dari cincin kawin yang baru satu atau dua minggu dilepas. Membayangkan jari manis dan bekas cincin itu membuat Russel mual. Ia melepas cincin kawin miliknya dan mengantonginya.

“Mengapa kau melakukan itu?” tanya laki-laki setengah baya itu.

“Melakukan apa?”

“Itu...” jawab laki-laki setengah baya sembari menunjuk jari manis Russel. “Tampaknya kaubenci sekali pada istrimu.”

“Apa bedanya denganmu?” Russel melirik jari manis laki-laki setengah baya di hadapannya. “Apakah dengan melepas cincin itu artinya kau juga membenci istrimu?”

Laki-laki setengah baya itu menautkan jari-jarinya dan membungkukkan badan sambil bersitumpu ke meja. Ia tidak menjawab pertanyaan Russel. Matanya menusuk langsung ke mata Russel dengan ekspresi memendam amarah. “Istriku meninggal satu tahun yang lalu,” desisnya dingin.

“Aku berharap istriku juga segera menyusul istrimu ke neraka.”

Laki-laki setengah baya itu tidak menjawab, namun spontan melayangkan tinju ke pelipis Russel. Sebuah hantaman keras yang tak sempat terhindarkan itu membuat kepala Russel berputar ke kiri. Pandangan matanya berkunang. Sesaat ia melihat wajah laki-laki setengah baya itu babak belur dan mengerikan—seperti wajah orang yang mentalnya terbelakang. Wajah itu sama buruknya atau bahkan lebih buruk lagi dari anjing yang ia bunuh tadi malam.

Russel ingin menampar wajah itu dan membuat matanya meledak, mengisi rongganya dengan darahnya sendiri. Russel memang berhasil menahan keinginan itu, tapi rasa muak yang melilit perutnya telanjur memicu suara gemerutup dari sela-sela bibirnya yang terkatup. Di kepalanya terbayang anjing berbulu hitam sedang menggagahi istrinya. Anjing yang membuatnya harus menerima perlakuan seperti ini.

“Apakah aku akan dihukum karena membunuh seekor anjing?”

“Mungkin penjelasanmu akan meringankan.”
“Itu artinya aku memang akan dihukum karena seekor anjing.”

“Bekerjasamalah dengan baik. Kasusmu tidak main-main. Hukuman berat menunggumu di meja pengadilan.”

“Lakukan saja. Hukuman berat karena membunuh seekor anjing. Itu terdengar luar biasa.” Russel mendengus. “Negara ini sudah sinting.”

“Yang kaulakukan juga hal yang sinting,” tukas laki-laki setengah baya itu sinis.
Russel tergelak.

“Kau tidak menyesal?”

“Sama sekali tidak,” jawab Russel santai. “Kenapa aku harus menyesal membunuh seekor anjing?”

“Brengsek!” Laki-laki setengah baya itu menggebrak meja. Russel tertawa semakin keras, tapi tawa itu terbungkam seketika saat laki-laki setengah baya itu berkata dengan nada keras.

“Laki-laki ini sudah gila!”

“Aku sama sekali tidak gila,” sahut Russel geram. Tubuhnya mencondong ke depan, seolah menantang. “Aku hanya membunuh seekor anjing.”

Laki-laki setengah baya itu balas mendekatkan wajahnya, membuat Russel mencium aroma tembakau yang kuat dari mulutnya. “Kau telah menembak mati anakmu sendiri, Russel Donovan.”
***


Gray mengepal tangannya kuat-kuat, dari mulutnya melesat sumpah serapah. Penjahat yang dihadapinya pagi ini memang keterlaluan. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya tadi malam. Penjahat itu bersikeras hanya membunuh seekor anjing. Ia mengaku tidak bersalah. Bahkan ia merasa  apa yang dilakukannya adalah bentuk pertahanan diri secara naluriah.

Gray mengambil selembar foto dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas meja. Sejenak ia memerhatikan ekspresi laki-laki di hadapannya. Di foto tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki berambut pirang dengan mata gelap; sedang tersenyum manis. Di bawah foto itu tertulis keterangan; Bernard Donovan, siswa teladan St. Crispins School di East 90th Street.

“Sekarang apa yang kau pikirkan?” tanya Gray sambil menyilangkan tangan ke dada. Ia berusaha mengumpulkan kesabaran yang tadi habis terkuras. “Apa alasanmu melakukan tindakan tak masuk akal itu?”

Pertanyaan beruntun itu membuat laki-laki berwajah agak pucat itu mengangkat wajah dan memandangi Gray. Sambil mengerutkan kening dengan skeptis, laki-laki itu mendecak-decakkan lidah.

“Entah, ya.”

Gray menahan keinginannya untuk menyerbu ke seberang meja dan mencekik tenggorokan laki-laki itu. Ia tidak pernah menyangka hari ini akan sangat buruk. Laki-laki yang baru ditangkap dini hari tadi, sekarang membangunkan amarah pada diri Gray. Tingkah tolol dan jawabannya yang berbelit-belit itu membuat Gray benci setengah mati.  Rekan-rekannya selama ini menganggap Gray adalah seorang interogator terbaik yang pernah ada di distrik West Side. Ia punya bakat alami hebat, seperti Jordan ketika melakukan slam dunk. Tapi kali ini, di hadapan laki-laki ini, Gray betul-betul dibuat tidak berdaya.

“Apa yang Anda lakukan sulit diterima akal sehat. Anda contoh orangtua yang buruk bagi negara ini,” maki Gray tak tertahankan.

“Negara ini juga telah berlaku buruk padaku,” jawab lelaki itu, seraya meluruskan pinggang dan duduk tegak.

Gray berusaha menyembunyikan wajah gusarnya. “Tidakkah hati nuranimu menyadari kalau nyawa yang kaurenggut itu masih terlalu muda untuk mati, terlebih dengan cara sekeji itu?”

“Ayolah, kau tidak usah berkhotbah tentang hati nurani, padahal orang-orang di lingkunganmu sendiri adalah orang-orang yang juga tidak memiliki hati nurani.”

Geraham Gray gemerutup. Ia membenci seringai sarat ejekkan laki-laki itu hampir seperti ia membenci otak-otak kerdil yang mengatur departemen kepolisian di negara ini. Ada benarnya juga ucapan laki-laki itu. Gray menyadari jika dari banyak departemen di Amerika yang terkenal korup, departemen kepolisian termasuk di antaranya.

"Bagaimana reaksimu jika mendapati istrimu sedang bercinta dengan anjing. Kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, bukan?" lanjut laki-laki itu sambil menyeringai.

Nyaris saja Gray melayangkan tinju ke wajah lelaki itu jika saja Jenkins tidak buru-buru masuk. Jenkins membisikkan sesuatu yang membuat Gray merasa ada bongkahan es yang mengguyur tengkuknya seketika.

“Kami sudah mendapat motif kenapa dia membunuh anak itu,” bisik Jenkins pelan. “Tadi malam dia memergoki istri dan anaknya sedang bercinta. Dua orang yang dicintainya itu berkhianat dengan cara yang kejam ya?”

Gray terdiam dan tidak memiliki minat untuk menjawab pertanyaan Jenkins. “Bagaimana dengan istrinya?” tanya Gray.

“Perempuan itu melarikan diri dan sekarang sedang dicari.”

Gray tak bisa berkata-kata lagi. Ia memandang laki-laki di hadapannya itu dengan perasaan iba yang tebal. Gray terduduk lesu, benaknya dipukuli bayangan mengerikan yang membuat kepalanya berdenyut menyakitkan. Bayangan itu merekonstruksi adegan di malam satu tahun yang lalu, ketika ia membubuhkan racun ke minuman istrinya. Perempuan itu telah mengkhianati dirinya dengan cara yang juga sangat kejam; bercinta dengan adiknya sendiri. (*)

Cerpen ini pernah tayang di Harian Jawa Pos, edisi Minggu, 26 Juni 2026
Share:

Kidung Natal dan Salju Merah


San Juan Hill mendadak gempar karena peristiwa horor di malam Natal. Koran-koran pagi memampang Headline berita mencengangkan, Warga West Side Menembak Mati Putra Kandungnya Sendiri!. Berita ini sebenarnya biasa saja bagi sebagian warga kota yang telah terbiasa dengan tingkat kriminalitas tinggi seperti New York. Namun terdengar luar biasa bagi orang-orang yang mengenal pelakunya, Russell Donovan.

Tidak seharusnya Russell membunuh Bernard. Umurnya belum genap tujuhbelas tahun. Anak itu terlalu muda untuk mati. Apa lagi jika mengingat kepribadian Russell yang dikenal selama ini. Rasanya tidak mungkin orang yang begitu religius seperti dia akan berurusan dengan polisi, terlebih kasusnya yang sangat mengerikan.

“Terkutuk kau Russell. Kau membunuh anak yang tak berdosa! Neraka menunggumu, neraka!"

Demikian kira-kira sumpah serapah dan pengadilan kata-kata yang berhamburan dari mulut tetangganya. Namun Russell tak peduli, dia berjalan dengan wajah tegak menantang walaupun telinganya dihujani cacian dan tatapan sarat kebencian. Rusell meludah ke tanah. Dia tahu tak ada satu pun di antara kerumunan itu yang mengetahui alasannya membunuh Bernard. Tak ada satu pun yang mengetahui seperti apa perasaannya saat menghabisi anak itu.

Russell tidak menyesali perbuatannya. Jika pun ada yang disesalinya, itu adalah revolver-nya yang tak sempat menghabisi nyawa orang kedua malam itu. Orang yang berlari sebelum proyektil tajam menembus tubuhnya.
***


Kidung Natal bergema bersama badai salju yang turun lebat di Kota New York. Menurut laporan badan cuaca, itu adalah badai salju terburuk selama sepuluh tahun terakhir. Badai salju yang bergerak lamban itu menyapu sebagian kawasan Amerika. Bahkan di beberapa negara bagian dan kota, pemerintah setempat terpaksa memberlakukan keadaan darurat, termasuk New York.

Keadaan darurat yang telah berlangsung berminggu-minggu ini juga berimbas pada perusahaan transportasi The Greyhound tempat Russell bekerja. Malam itu Russell pulang lebih cepat dari biasanya. Selain memang bertepatan dengan malam Natal, pemimpin perusahaan menginstruksikan seluruh armada bus untuk diistirahatkan tanpa batas waktu. Itu artinya kiamat buat Russell yang hanya pekerja lepas.

Russell pulang dengan perasaan kesal. Jangankan tunjangan selama dirumahkan, untuk sekedar uang lelah pun tak diberikan oleh pihak perusahaan. Ini adalah Natal yang buruk bagi Russel. Di saat orang-orang tengah bergembira, dirinya justru berduka.

Dia berjalan menyusuri kawasan Distrik Teater Broadway dengan perasaan kacau. Suhu yang mengiris jangat dan salju yang bertumpuk di pinggir jalan tak mampu meredam panas hatinya yang baru saja merasakan ketidakadilan. Russell geram pada pemerintah yang tak pernah berpihak pada kaum minoritas seperti dirinya.

Pemerintah memang tak pernah tahu masa lalu dan silsilah keluarganya. Kakek buyutnya cukup pantas jika diberi gelar pahlawan. Pada masa Revolusi Amerika, leluhurnya turut memperjuangkan kota ini dari cengkraman Kolonialis Britania Raya. Leluhurnya ikut berperang dalam pertempuran heroik pada tahun 1776 di Long Island.

Pada perang itu pihak Amerika kalah, namun dalam pertempuran-pertempuran kecil setelahnya, kakeknya turut berjuang melawan tirani yang coba dibangun di tanah ini. Tetapi semua itu menjadi fakta tak berguna. Tak ada yang peduli siapa dia dan apa masa lalunya. Kisah kepahlawanan keluarganya tak mampu membawa Russel keluar dari lingkar kesengsaraan.

Salju menumpuk tebal ketika langkah kaki Russel sampai di perkarangan. Ketebalan salju mungkin sekitar tiga puluh centimeter, menandakan begitu hebatnya badai salju yang melanda. Suara televisi masih terdengar samar-samar dari luar. Sepertinya Carolina dan Bernard belum tertidur. Biasanya Russell memang selalu pulang pagi atau secepatnya dini hari bila jam kerjanya shift malam.

Russell memutar gagang pintu dengan perlahan. Di sepanjang jalan tadi, dia berjanji untuk tidak membawa masalah pekerjaannya ke rumah. Dia sudah memutuskan untuk menyimpan masalah pelik itu seorang diri. Lagi pula seharusnya dia pulang membawa kado Natal untuk Bernard dan Carolina, bukannya beban masalah seperti yang baru saja diterimanya.

Biar saja Carolina--perempuan yang mengikat janji untuk sehidup-semati dalam susah dan senang itu--tak mengetahui apa-apa. Begitu pun Bernard, tak perlu tahu jika ayahnya sekarang pengangguran. Russell tak ingin putranya tahu. Dia malu. Saat perceraiannya dengan Laura--ibu kandung Bernard--lima tahun yang lalu, dia bersumpah untuk membahagiakan Bernard dan mati-matian memperjuangkan hak asuhnya di pengadilan.
Russell melangkah masuk. Pintu sedikit terbuka. Tidak biasanya pintu rumah tak terkunci. Russell melepas jaket tebal yang berlumur serpihan salju dan menggantungnya di belakang pintu. Dia melangkah ke dapur. Coklat panas adalah solusi ampuh untuk mengenyahkan kebekuan di tubuh dan pikirannya. 

Russell melangkah ke depan televisi yang masih menyala. Coklat panas di tangannya mengepulkan asap putih tipis dan menebar aroma harum. Dengan malas dia menyandar di sofa yang berlubang di beberapa bagian. Berkali-kali Russell mengganti channel, mencari siaran yang bisa menghilangkan runyam yang mendengung di dalam kepalanya. Namun siaran televisi hanya sibuk menayangkan berita tentang kondisi cuaca ekstrem yang melanda seisi kota.

Dalam kebosanan yang menyebalkan itu, Russell memilih mematikan televisi dan bergegas tidur. Tetapi gerakannya terhenti saat samar-samar telinganya mendengar suara janggal di lantai dua. Suara menjengahkan siapa pun yang mendengarnya. Suara rintih erotis seorang perempuan yang sedang bercinta. Telinganya mendadak panas dan ritme jantungnya berdegub cepat. Russell bersijingkat ke lantai dua dan berniat mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di sana.

“Jangan-jangan Bernard membawa pacarnya ke kamar? Kemudian bercinta karena mengira aku belum pulang kerja? Sialan benar anak itu!" maki Russell dalam hati.

Dengan langkah perlahan dan nyaris mengendap-endap dia mendekati kamar Bernard. Russel menempelkan sebelah matanya di lubang kunci. Seketika darahnya naik ke kepala dan emosinya terbakar tak terkendali. Malam itu Russell melihat adegan yang nyaris membuatnya muntah. Lubang kunci menjadi celah pembuka tabir nista yang selama ini tak pernah diketahuinya. Bernard sedang bercinta dengan Carolina--ibu tirinya sendiri!

"Terkutuk!" desis Russell murka.

Darah menggelegak di sekujur tubuhnya. Giginya gemerutup. Kemurkaan di dada seperti ingin meledakkan jantungnya. Russell berlari menuruni tangga dan bergegas masuk ke kamar. Di dalam lemari dan di bawah tumpukan baju dia meraih sepucuk revolver. Setelah meyakinkan senjata api itu berisi peluru, dia gegas menuju kamar Bernard. Niatnya sudah bulat, kejahanaman itu harus diakhiri dengan hukuman mati.

BRAAK!

Sekuat tenaga Russell mendobrak pintu kamar. Bernard dan Carolina yang sedang bercinta tak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu hanya bisa menjerit tertahan saat menatap wajah dingin suaminya. Bernard menggigil. Wajah ayahnya menjelma setan yang datang dari neraka. Bernard memungut pakaian dan melompat ke jendela. Namun Russell tak membiarkan anak itu lolos begitu saja. Lelaki setengah baya yang telah lupa diri ini berlari dan menembak punggung putranya tiga kali.
Tubuh Bernard limbung, kemudian menggelinding dari atas atap dan jatuh ke perkarangan belakang. Russell berlari keluar dan memburunya. Dia lupa pada Carolina yang masih ada di kamar itu. Perempuan itu memanfaatkan keadaan dan menyelinap lari dalam kegelapan.

Darah merah terlihat kontras dengan salju yang memutih. Tubuh Bernard terkapar di atas tumpukan salju yang tak henti berguguran dari langit. Anak itu mati di tangan ayah kandungnya sendiri. Russell tegak berdiri dengan perasaan hampa. Dari kejauhan terdengar raung sirine mobil polisi yang berbaur dengan Kidung Natal dan gema lonceng dari gereja. Entah siapa yang menelpon polisi-polisi itu, mungkin saja Carolina. (*)

Catatan: cerpen ini pernah tayang di harian Media Indonesia, edisi Minggu, 21 Desember 2014
Share:

Sabtu, 17 Januari 2026

Klub Pemakan Daging


Hellena menyandarkan bahu ke jendela, kedua tangannya bersidekap, kepalanya melongok ke taman yang ada di seberang apartemen. Di bawah rimbun pepohonan willow, seorang pria paruh baya berkacamata hitam sedang berdiri. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat dan tampak sedang linglung. Melihat penampilannya, Hellena menyimpulkan bahwa pria itu pastilah tuna netra. Nalurinya berkata bahwa pria itu sedang membutuhkan bantuannya.

Pria itu berdiri di sebelah kiri patung malaikat granit setinggi 2 meter. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mengikuti suara-suara di sekitarnya; deru mesin-mesin kendaraan, langkah orang-orang yang hilir-mudik, gaduh peralatan logam kuli jalan yang membongkar jalur drainase, dan dua orang yang berbincang santai satu sama lain di atas bangku taman.

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.
Pria itu merogoh kantong kemejanya tepat saat sebuah sedan melintas. Angin yang ditinggalkan sedan tadi menerbangkan bongkahan-bongkahan kerikil serta menghujani orang-orang dengan debu, tak terkecuali pria yang sedang diperhatikan Hellena.

“Dasar pengemudi tolol!”

Gadis berambut pirang itu mengumpat. Sedan tadi terus melesat dan lekas menghilang. Orang-orang yang terkena sapuan kerikil dan debu tampak bersungut-sungut. Pria buta itu masih berdiri di tempatnya, terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah.

Hellena menyambar blazer di atas ranjang, lalu bergegas keluar kamar. Ia berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga, bahkan tak sempat mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu menutup pelan dan meninggalkan derit engsel yang terdengar mirip suara cericit tikus kesakitan.
***


Hampir sepuluh menit Hellena mendengarkan pria itu bercerita. Ia mengatakan sedang menunggu bantuan seseorang untuk mengantar sepucuk surat ke alamat yang tertera di amplop putih yang tadi melayang dan nyaris terjatuh ke dalam got. Berkat Hellena, sekarang amplop itu telah kembali berada di tangannya.

Mendengar cerita itu, hati Hellena berderak retak, namun dengan cepat menyatu kembali. “Aku akan menolongmu,” katanya sambil memegang lengan pria buta itu. “Berikan surat itu padaku. Aku akan mengantarnya.”

“Terima kasih. Tapi saya tak ingin membuang waktumu.”

“Tak apa,” jawab Hellena tulus. “Aku senang bisa membantu.”

Hellena tiba-tiba merasa sangat sedih ketika membayangkan menjadi pria buta itu. Membayangkan matanya berubah menjadi sepasang bola tak berguna. Menyeberangi jalan raya yang penuh kendaraan seperti ini pasti sesulit melintasi Samudera Atlantik dengan perahu. Kalau nasib sial, ia mungkin akan tertabrak, lalu patah tulang belakang dan lumpuh. Membayangkan semua itu, Hellena bergidik ngeri.

Beberapa bulan terakhir, Hellena memiliki semacam hubungan timbal-balik yang reflektif dengan Tuhan. Ayahnya meninggal, ia dipecat dari pekerjaan, teman dan kekasihnya menjauh, dan entah bagaimana membuat ia berpikir bahwa masalah-masalah berat yang menimpanya itu lantaran ia tak cukup berbuat baik pada sesama.

Hellena ingin membangun reputasi baik di mata orang-orang. Ingatan tentang ayahnya dan masalah-masalah yang tak kunjung selesai itu telah berhasil mencambuknya. Ia memutuskan akan memulainya sedikit demi sedikit. Hal pertama adalah dengan menolong pria buta di hadapannya.

“Boleh aku melihat surat itu lagi?” tanya Hellena. “Aku ingin melihat alamat tujuannya.”

Pria buta itu menyodorkan amplop ke depan, tapi Hellena tegak di sampingnya, membuat arah sodorannya keliru. Tapi dengan cepat gadis itu mengambilnya, lalu membaca alamat yang tertera; Cadbury Resto, Second Avenue.

“Aku tahu tempat ini,” kata Hellena tersenyum lebar. “Serahkan saja padaku. Aku akan mengantarnya dan kujamin surat ini akan tiba di alamatnya.”

“Terima kasih, terima kasih.” Pria buta itu membungkuk hormat. “Akhirnya Tuhan mengirim malaikat untuk menolongku.”

Hellena menepuk-nepuk pundak pria itu. Setelah berbincang-bincang sesaat, ia pun meninggalkannya. Hellena keluar dari taman kota dengan perasaan gembira, karena merasa telah melakukan perbuatan yang berguna.

Separuh perjalanan, gadis itu tiba-tiba berhenti. Ia berpikir, pria buta tadi pasti kesulitan mencari jalan pulang. Seharusnya ia mengantarnya pulang lebih dulu, setelah itu baru mengantarkan surat. Sambil melangkah berbalik arah, Hellena menepuk keningnya, menyadari kebodohannya. Namun setelah kembali, pria yang dicarinya sudah tak ada.

“Cepat sekali,” gumam Hellena terheran-heran.

Hellena berjalan mengikuti trotoar yang mengarah ke pusat kota. Lima menit berselang, ia melihat pria itu berjalan membelah kerumunan, berjejalan dengan orang-orang di halte yang sedang menunggu bus jemputan. Hellena menerobos kerumunan itu dengan susah payah. Sebuah teriakan keras membuat pria buta itu menoleh dan Hellena terkesima.

Pria buta itu dengan tangkas berlari di tengah kerumunan. Tanpa kaca mata dan tanpa tongkat penuntunnya. Hellena hanya bisa mengawasi dari kejauhan, tepat sebelum ia merasa yakin, pria buta itu baru saja menipunya.

“Brengsek!” umpat Hellena kesal.

***


“Tidak seperti biasanya, ya, Jhon?” Seorang pria berkuncir penuh lagak dari Unit Laporan Kejahatan berdiri di samping polisi muda yang baru saja menerima laporan Hellena. “Biasanya kaugalak sekali jika pelapor tidak sedap dipandang.”

“Menyingkirlah, Bung!”

Hellena merasa jengah mendengar perbincangan kurang ajar itu, tapi ia menahan diri untuk tidak mengumpat. “Jadi, apakah kalian akan menindaklanjuti laporanku atau tidak?” tanyanya dengan perasaan muak.

“Tentu saja,” jawab polisi muda yang duduk di belakang monitor. Pria berkuncir tadi sudah menjauh sambil terkekeh-kekeh. “Tapi keterangan Anda belum lengkap.”

“Memangnya apa lagi? Anda telah mendapatkan semua keterangan dariku. Tidakkah itu cukup?”

“Maaf, Nona, bukan Anda yang menentukan cukup atau tidak.” Polisi itu berkata dengan nada tinggi. “Kami memiliki prosedur sebelum menindaklanjuti laporan. Jawab saja pertanyaannya. Hei, Nona? Bisakah Anda berkonsentrasi?”

Perhatian Hellena memang teralihkan beberapa saat. Di meja lain, seorang perempuan paruh baya sedang menangis. Seorang pria berdiri di belakang perempuan itu sambil memijat bahunya. Hellena menduga, pria itu adalah suaminya. Dari perkataan mereka, Hellena memahami penyebab perempuan itu menangis. Anak bungsunya hilang.

Dengan tersendat-sendat, perempuan itu menjelaskan aktifitas-aktifitas dan ciri-ciri anaknya. Ia berkata bahwa anaknya berumur 13 tahun dan bersekolah di St. Christoper. Setengah meratap, perempuan itu memuji-muji bahwasanya anaknya adalah anak yang baik dan berhati lembut. Ia tidak pantas disakiti. Polisi yang memproses laporan itu mengangguk-angguk.

“Nona?”

“Ah, ya. Maaf... “ Hellena tersadar dan kembali menatap polisi yang sedang mengolah laporannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kukira kau bisa memulai dari awal.” Polisi itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi malas yang kentara. “Ceritalah dan aku akan memprosesnya.”

“Aku menduga pria itu berencana melakukan sesuatu yang jahat.”

“Apakah Anda yakin?”

“Tentu saja aku yakin. Ia baru saja menipuku,” sergah Hellena memasang wajah masam. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam kantung rok dan menaruhnya di atas meja. “Ia memberiku ini. Kupikir, Anda bisa memeriksanya atau mencari alamat yang tertera di sana untuk memastikan dugaanku.”

Polisi muda itu membuka amplop yang diberikan Hellena. Di dalamnya, ada secarik kertas. Keningnya mengernyit dan membuat Hellena penasaran. Polisi itu membaca dengan keras sebaris kalimat ganjil yang mbuat kening Hellena mengerut.

***
Baca juga: Tenung - Cerpen


Hellena menemukan restoran tua itu di Second Avenue. Tempat sederhana dengan papan nama bertuliskan Cadbury Resto dari jalinan neon merah di atas pintu masuk. Di ruangan dalam terdapat beberapa pasang meja dan kursi yang berwarna putih kusam. Toples permen mint berbaris rapi bersama gelas-gelas kopi dengan hiasan pilar-pilar gaya Yunani. Lantainya ditutupi karpet hijau mulus. Pada etalase kaca yang berada di dekat rak kayu tertera tulisan Iga Sapi Panggang Harga 8,95$.

Hellena masuk dengan jantung berdebar. Sebuah pisau steik berkilauan di atas meja. Hellena mengambilnya cepat-cepat saat bergegas menuju toilet. Bagaimana pun, gunting kuku tak akan cukup untuk melindungi diri jika sesuatu yang buruk terjadi.

Gadis itu datang sendiri, sebab polisi yang tadi menerima laporannya lebih tertarik melirik blazer berbelahan dada rendah yang dikenakannya, ketimbang menindaklanjuti laporannya.

Hellena mencuci tangan dua kali dengan sabun merah muda beraroma mawar, lalu keluar dan berusaha bersikap biasa saja. Restoran itu sepi. Hanya ada seorang pelayan pria berwajah seperti tirai merosot yang sedang berkonsentrasi mengisi botol saus yang isinya setengah kosong. Hellena melihat peluang itu dan mengendap-endap menuju ruang belakang.

Ketika Hellena membuka pintu ruangan itu, ia menemukan sebuah kenyataan yang sangat mengerikan. Ada tiga orang sedang menetak potongan-potongan daging di atas meja beton bermarmer. Di antara tumpukan-tumpukan daging itu, yang paling mengerikan adalah onggokan kepala dan potongan kaki milik anak kecil.
Perut Hellena bersiap untuk meledak dan kepalanya terasa sakit luar biasa. Tiba-tiba gadis itu teringat tangisan perempuan paruh baya di kantor polisi yang sedang mencari anak bungsunya, lalu rasa takut hebat mencengkram dadanya. Ia meraba saku untuk mencari pisau, tapi pisau itu entah di mana. Ia cuma menemukan amplop putih yang menjadi alasannya datang ke restoran itu.

'ini kiriman daging segar terakhirku minggu ini. Selamat menikmati. Tertanda, Sam, anggota Klub Pemakan Daging.'
Usai membaca tulisan di secarik kertas di dalam amplop itu, lidah Hellena tercekat. Ia tak sanggup bersuara, sesuatu seolah menggumpal di tenggorokannya. Hellena berpikir untuk keluar dari restoran itu dan melarikan diri. Tapi tepat saat pikiran itu muncul, sesuatu yang keras menghantam tengkuknya, membuat pandangannya gelap dan sekujur tubuhnya mati rasa. (*)

Catatan
Cerpen ini pernah tayang di laman media online ideide.com, edisi 03 November 2020

Share:

Selasa, 16 Desember 2025

Udin Ingin Pergi ke Surga


Gembira di wajah Udin secerah langit tengah hari. Ia duduk di bale-bale bambu sembari menantikan  penjelasan ibunya tentang surga. Tidak ada hal lain yang bisa membuat Udin begitu gembira sekaligus penasaran selain surga. Sejak kecil Udin hanya tinggal bersama ibunya. Bila ia sedang merindukan sosok bapaknya, maka ia akan merengek-rengek dan bertanya tentang surga, sebab setiap kali ia bertanya tentang bapaknya, maka ibunya pasti memberi satu jawaban yang disukainya: bapaknya ada di surga.

“Di surga, aku betul bisa bertemu dengan bapak?” tanya Udin.

“Oh  tentu,” sahut Julaiha. “Di sana bapak menunggu kita. Kau bisa bertemu bapak di surga asal kau rajin salat, Nak. Kau sudah salat?”

“Aku baru selesai salat Zuhur, Mak,” jawab Udin riang.

“Iya, baguslah,” jawab Julaiha sembari mengusap kening anaknya. “Kau pasti akan bertemu bapak di surga.”

Udin mengangguk kemudian meraih tangan ibunya. “Aku pergi dulu, Mak. Mang Kasim pasti sudah menungguku di dermaga, assalamualaikum....” katanya usai mencium punggung tangan Julaiha.

Walaikumsalam, hati-hati, Nak.” Julaiha memandangi tubuh bocah kecil itu dengan dada rengkah seperti dihantam kayu berduri. Udin selalu merindukan bapaknya. Sungguh sebuah kerinduan yang tak akan pernah sampai ke muara.
***
Baca juga: Melati Oh Melati

Selepas pulang sekolah Udin pergi ke dermaga menemui Mang Kasim. Dengan perahunya, Mang Kasim kerap mengajak Udin mengantar hasil bumi dari desa-desa di pesisir yang hendak dijual ke kota kabupaten. Jalur sungai menjadi pilihan penduduk satu-satunya, sebab jalan beraspal belum sampai ke desa mereka.
Biasanya, selesai membantu Mang Kasim, Udin akan duduk di dermaga sampai senja. Tempat itu sebetulnya tidak layak disebut dermaga, tapi penduduk sekitar sudah kadung menyebutnya dermaga. Hanya ada sebuah gubug kecil beratap daun nipah dan beberapa tonggak kayu untuk menautkan tali perahu di sana. Gubug itu milik Mang Kasim. Letaknya tepat menghadap ke sungai dan perbukitan.

Udin pernah diceritai guru agamanya, bahwa di surga mengalir sungai-sungai dan gunung-gunung bercahaya. Senja yang berkilau dan mengoleskan pendarnya di permukaan sungai, warna kemerahan yang membungkus perbukitan, membuat Udin menjiwai apa yang diceritakan guru agamanya.

“Mang, apa kau pernah pergi ke surga?” tanya Udin pada lelaki beruban yang sedang duduk di sampingnya menjirat jala yang terkoyak. Siang hari sudah berganti menjadi senja ketika Udin melempar tanya itu pada Mang Kasim.

Lelaki tua itu terkekeh, “Kalau ingin pergi ke Surga berarti aku harus mati dulu, Din.”

“Kalau begitu Bapakku memang sudah mati.” Pandangan mata bocah itu lesat menembus awan-awan pirau di manik langit. Bola mata lugu itu berkaca-kaca. “Ibu selalu bilang kalau Bapak ada di Surga.”

Mang Kasim menghela napas. “Iya Ibumu memang benar, Din. Bapakmu ada di Surga.”

Mang Kasim menatap wajah Udin dengan dada disamaki rasa haru. Terlihat dari tatapannya, lelaki tua itu sangat meyayangi Udin. Masih lekat dalam ingatannya ketika Sobari dikabarkan tewas sepuluh tahun silam. Ketika itu Udin masih di dalam perut Julaiha. Di siang naas itu, ia dan orang-orang menandu tubuh Sobari yang mati ditimpa kayu di hutan Kelingi.

“Kenapa orang harus mati dulu agar bisa pergi ke Surga?” tanya Udin memecah lamunan Mang Kasim. Lelaki tua berkulit tembaga itu tercenung. Ia kehilangan kata-kata. Mang Kasim mencari kata paling mudah untuk dicerna pikiran kanak-kanak Udin. Seekor capung merah hinggap di ujung daun keladi, kemudian terbang lagi. Capung itu menjentik-jentikkan ekornya di permukaan sungai yang mengalir begitu tenang.

“Kau pernah melihat capung keluar dari punggung kumbang air?” tanya Mang Kasim.

Udin mengangguk. Mang Kasim tersenyum. Tak mungkin pula Udin tak tahu. Bocah itu nyaris menghabiskan separuh waktunya di pinggir sungai, mustahil ia tak tahu cikal bakal adanya capung yang kerap ia tangkapi bila sedang merasa bosan lantaran tak ada muatan atau jika arus sungai sedang tidak bersahabat.

“Seperti itulah mungkin cara menuju surga,” jawab Mang Kasim sebisa-bisanya. “Kumbang air harus mati dulu agar bisa menjadi capung. Capung yang bersayap dan dapat terbang ke banyak tempat.”

Mata Udin berbinar mendengar penjelasan itu, “Oh jika aku punya sayap dan bisa terbang. Aku bisa menyusul bapak ke surga,” katanya sambil berdiri merentangkan tangan seperti bersiap untuk terbang.

“Jangan dulu. Kau masih terlalu muda,” seloroh Mang Kasim. Lelaki tua itu tertawa hambar. Ia lalu menggantung jala dan meneguk kopi yang mulai dingin ditiup angin. Ada rasa pahit yang menggelontor di dada lelaki tua itu, rasa pahit yang berbeda dari rasa pahit kopi yang disesapnya.

Sesaat Udin terdiam. Kepala kecil itu mengangguk-angguk. Senyum terkulum di bibirnya. Senyum misterius yang hanya Udin yang tahu apa rahasianya. Bocah itu bangkit dari duduknya dan berlari cepat meninggalkan Mang Kasim tegak di lantai papan dermaga.

“Hei,Udin. Kau mau ke mana!?”
“Aku mau pergi ke surga!” jawab Udin tanpa menoleh. Ia berlari sambil merentangkan tangan. Kali ini dengan mengepak-ngepakan tangannya seolah betul-betul sedang terbang. Udin makin jauh meninggalkan dermaga dan gubug Mang Kasim. Lelaki tua itu hanya bisa tersenyum saat menatap tubuh Udin yang lenyap ke balik tikungan setapak yang dirimbuni semak ilalang.
***
Baca juga: Tenung

Malam sudah terlampau tua. Bulan membakar pucuk-pucuk pepohonan. Julaiha sudah terlelap, tapi Udin masih terjaga. Mata bocah itu liar menerawang ke langit-langit. Kata-kata Mang Kasim kemarin terngiang-ngiang di telinganya: cara pergi ke Surga cuma satu, ia harus mati dulu. Kata-kata itu seperti pulut yang menjerat pikiran Udin. Melekat erat hingga menciptakan ilham di kepalanya.
Udin betul-betul rindu. Ia ingin segera menemui bapaknya. Udin acap kali murung melihat teman-temannya bermain bersama bapak mereka. Sedangkan ia tidak. Cuma ada ibu dalam hari-harinya. Cuma ada Mang Kasim. Udin memejamkan matanya. Ia mendengarkan suara-suara di dalam kepalanya dengan hati dicekat tanda tanya.

“Seperti apa rupanya surga? Adakah Bapak di Surga?”

Demikian suara-suara dalam kepala Udin. Semua syarat pergi ke Surga sudah disiapkan. Ia tak pernah meninggalkan salat, sebab kata ibunya, salat adalah syarat utama masuk Surga. Udin juga telah menyiapkan bubuk yang ia temukan di gubug Mang Kasim.  Ia masih ingat raut tegang lelaki tua itu ketika ia menyentuh bubuk itu.

“Kau bisa mati!” jerit Mang Kasim dengan mata melotot. “Itu bubuk putas. Kalau dilihat orang sekampung bisa kena masalah kita!”

Udin tersenyum. Akal bulusnya berhasil mengelabui Mang Kasim. Ia berpura mengembalikan bubuk itu ke tempatnya dan Mang Kasim percaya. Saat lelaki tua itu silap mata, Udin menyambar bubuk itu lagi, lalu menyimpannya ke balik saku. 
Sekarang semuanya sudah siap. Udin akan memulai perjalanannya ke surga. Sesekali bocah itu melirik ibunya, meneliti seberapa lelap perempuan itu tertidur. Udin menyenggol kakinya, memastikan ibunya telah terbenam dalam mimpi. Setelah betul-betul yakin, barulah ia bangkit dan turun dari tempat tidur tanpa bersuara.
Bubuk itu ia tumpahkan ke dalam cangkir plastik, kemudian diaduknya dengan air. Setelah cukup larut, Udin kembali ke kamar. Ia meletakkan cangkir itu ke atas meja di sisi kanan tempat tidurnya. Udin menunggu azan Subuh bergema, baru ia akan  berangkat ke surga.

Waktu berjalan tertatih-tatih. Serangga malam di luar dan cicak di dinding papan rumah bernyanyi syahdu. Sementara di atas tempat tidurnya, Udin masih setia membuka mata. Benak bocah itu ditaburi kemungkinan-kemungkinan yang membuat hatinya ragu.

“Bagaimana kalau Bapak tidak mengenalinya? Atau bagaimana kalau Bapak tidak ada di Surga?”
***
Baca juga: Orang-Orang Pabrik


Mang Kasim berlari terengah-engah. Ia mendengar kabar bahwa siang itu ada penduduk yang mati minum racun. Rasa takut menusuk-nusuk. Alasan ketakutan itu teramat kuat. Bubuk putas yang ia simpan di atap gubug hilang. Tidak ada yang lain, pelakunya pasti Udin. Firasatnya tidak akan salah bila mengingat percakapan dengan bocah itu kemarin. Lari Mang Kasim terhenti. Bendera kuning terpancang layu di depan pintu. Suara orang-orang menangis terdengar jelas dari luar.

“Siapa yang meninggal?” tanya Mang Kasim pada orang-orang. Tidak ada yang menjawab. Dengan lutut gemetar, lelaki tua itu masuk ke rumah yang disesaki para pelayat. Di muka pintu lelaki itu terpancang kaku.

“Julaiha minum racun,” bisik seorang perempuan paruh baya.

“Iya, dangkal nian keputusannya. Apa tak terpikir olehnya nasib Udin?” sambung perempuan lain dengan nada prihatin.

Mang Kasim terduduk lemas. Para pelayat masih terus berdatangan. Namun di antara mereka tidak ada yang tahu bahwa tadi malam selepas Udin tertidur, Julaiha terbangun karena haus. Perempuan itu melihat cangkir plastik berisi air putih di atas meja. Ia meminumnya hingga tandas tak tersisa. (*)

Catatan
Putas: Potasium Sianida merupakan kristal lembab bewarna putih, larut dalam alkohol, air, dan gliserol. Kegunaan untuk ekstrasi logam, pelapisan elektro, dan insektisida. Sangat beracun. Banyak disalahgunakan masyarakat untuk meracun ikan.

Cerpen ini pernah tayang di harian Riau Pos, edisi Minggu, 02 Oktober 2016


Share:

Advertisement

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Rimba

Seminggu sebelum pesta pernikahannya digelar, Darmanto menemui Mbah Sarmijan. Lelaki berumur delapan puluh tahun itu, oleh warga...