Semesta adalah akuarium kata-kata dan kita adalah ikan-ikannya....

Sabtu, 07 Maret 2026

Kidung Natal dan Salju Merah


San Juan Hill mendadak gempar karena peristiwa horor di malam Natal. Koran-koran pagi memampang Headline berita mencengangkan, Warga West Side Menembak Mati Putra Kandungnya Sendiri!. Berita ini sebenarnya biasa saja bagi sebagian warga kota yang telah terbiasa dengan tingkat kriminalitas tinggi seperti New York. Namun terdengar luar biasa bagi orang-orang yang mengenal pelakunya, Russell Donovan.

Tidak seharusnya Russell membunuh Bernard. Umurnya belum genap tujuhbelas tahun. Anak itu terlalu muda untuk mati. Apa lagi jika mengingat kepribadian Russell yang dikenal selama ini. Rasanya tidak mungkin orang yang begitu religius seperti dia akan berurusan dengan polisi, terlebih kasusnya yang sangat mengerikan.

“Terkutuk kau Russell. Kau membunuh anak yang tak berdosa! Neraka menunggumu, neraka!"

Demikian kira-kira sumpah serapah dan pengadilan kata-kata yang berhamburan dari mulut tetangganya. Namun Russell tak peduli, dia berjalan dengan wajah tegak menantang walaupun telinganya dihujani cacian dan tatapan sarat kebencian. Rusell meludah ke tanah. Dia tahu tak ada satu pun di antara kerumunan itu yang mengetahui alasannya membunuh Bernard. Tak ada satu pun yang mengetahui seperti apa perasaannya saat menghabisi anak itu.

Russell tidak menyesali perbuatannya. Jika pun ada yang disesalinya, itu adalah revolver-nya yang tak sempat menghabisi nyawa orang kedua malam itu. Orang yang berlari sebelum proyektil tajam menembus tubuhnya.
***


Kidung Natal bergema bersama badai salju yang turun lebat di Kota New York. Menurut laporan badan cuaca, itu adalah badai salju terburuk selama sepuluh tahun terakhir. Badai salju yang bergerak lamban itu menyapu sebagian kawasan Amerika. Bahkan di beberapa negara bagian dan kota, pemerintah setempat terpaksa memberlakukan keadaan darurat, termasuk New York.

Keadaan darurat yang telah berlangsung berminggu-minggu ini juga berimbas pada perusahaan transportasi The Greyhound tempat Russell bekerja. Malam itu Russell pulang lebih cepat dari biasanya. Selain memang bertepatan dengan malam Natal, pemimpin perusahaan menginstruksikan seluruh armada bus untuk diistirahatkan tanpa batas waktu. Itu artinya kiamat buat Russell yang hanya pekerja lepas.

Russell pulang dengan perasaan kesal. Jangankan tunjangan selama dirumahkan, untuk sekedar uang lelah pun tak diberikan oleh pihak perusahaan. Ini adalah Natal yang buruk bagi Russel. Di saat orang-orang tengah bergembira, dirinya justru berduka.

Dia berjalan menyusuri kawasan Distrik Teater Broadway dengan perasaan kacau. Suhu yang mengiris jangat dan salju yang bertumpuk di pinggir jalan tak mampu meredam panas hatinya yang baru saja merasakan ketidakadilan. Russell geram pada pemerintah yang tak pernah berpihak pada kaum minoritas seperti dirinya.

Pemerintah memang tak pernah tahu masa lalu dan silsilah keluarganya. Kakek buyutnya cukup pantas jika diberi gelar pahlawan. Pada masa Revolusi Amerika, leluhurnya turut memperjuangkan kota ini dari cengkraman Kolonialis Britania Raya. Leluhurnya ikut berperang dalam pertempuran heroik pada tahun 1776 di Long Island.

Pada perang itu pihak Amerika kalah, namun dalam pertempuran-pertempuran kecil setelahnya, kakeknya turut berjuang melawan tirani yang coba dibangun di tanah ini. Tetapi semua itu menjadi fakta tak berguna. Tak ada yang peduli siapa dia dan apa masa lalunya. Kisah kepahlawanan keluarganya tak mampu membawa Russel keluar dari lingkar kesengsaraan.

Salju menumpuk tebal ketika langkah kaki Russel sampai di perkarangan. Ketebalan salju mungkin sekitar tiga puluh centimeter, menandakan begitu hebatnya badai salju yang melanda. Suara televisi masih terdengar samar-samar dari luar. Sepertinya Carolina dan Bernard belum tertidur. Biasanya Russell memang selalu pulang pagi atau secepatnya dini hari bila jam kerjanya shift malam.

Russell memutar gagang pintu dengan perlahan. Di sepanjang jalan tadi, dia berjanji untuk tidak membawa masalah pekerjaannya ke rumah. Dia sudah memutuskan untuk menyimpan masalah pelik itu seorang diri. Lagi pula seharusnya dia pulang membawa kado Natal untuk Bernard dan Carolina, bukannya beban masalah seperti yang baru saja diterimanya.

Biar saja Carolina--perempuan yang mengikat janji untuk sehidup-semati dalam susah dan senang itu--tak mengetahui apa-apa. Begitu pun Bernard, tak perlu tahu jika ayahnya sekarang pengangguran. Russell tak ingin putranya tahu. Dia malu. Saat perceraiannya dengan Laura--ibu kandung Bernard--lima tahun yang lalu, dia bersumpah untuk membahagiakan Bernard dan mati-matian memperjuangkan hak asuhnya di pengadilan.
Russell melangkah masuk. Pintu sedikit terbuka. Tidak biasanya pintu rumah tak terkunci. Russell melepas jaket tebal yang berlumur serpihan salju dan menggantungnya di belakang pintu. Dia melangkah ke dapur. Coklat panas adalah solusi ampuh untuk mengenyahkan kebekuan di tubuh dan pikirannya. 

Russell melangkah ke depan televisi yang masih menyala. Coklat panas di tangannya mengepulkan asap putih tipis dan menebar aroma harum. Dengan malas dia menyandar di sofa yang berlubang di beberapa bagian. Berkali-kali Russell mengganti channel, mencari siaran yang bisa menghilangkan runyam yang mendengung di dalam kepalanya. Namun siaran televisi hanya sibuk menayangkan berita tentang kondisi cuaca ekstrem yang melanda seisi kota.

Dalam kebosanan yang menyebalkan itu, Russell memilih mematikan televisi dan bergegas tidur. Tetapi gerakannya terhenti saat samar-samar telinganya mendengar suara janggal di lantai dua. Suara menjengahkan siapa pun yang mendengarnya. Suara rintih erotis seorang perempuan yang sedang bercinta. Telinganya mendadak panas dan ritme jantungnya berdegub cepat. Russell bersijingkat ke lantai dua dan berniat mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di sana.

“Jangan-jangan Bernard membawa pacarnya ke kamar? Kemudian bercinta karena mengira aku belum pulang kerja? Sialan benar anak itu!" maki Russell dalam hati.

Dengan langkah perlahan dan nyaris mengendap-endap dia mendekati kamar Bernard. Russel menempelkan sebelah matanya di lubang kunci. Seketika darahnya naik ke kepala dan emosinya terbakar tak terkendali. Malam itu Russell melihat adegan yang nyaris membuatnya muntah. Lubang kunci menjadi celah pembuka tabir nista yang selama ini tak pernah diketahuinya. Bernard sedang bercinta dengan Carolina--ibu tirinya sendiri!

"Terkutuk!" desis Russell murka.

Darah menggelegak di sekujur tubuhnya. Giginya gemerutup. Kemurkaan di dada seperti ingin meledakkan jantungnya. Russell berlari menuruni tangga dan bergegas masuk ke kamar. Di dalam lemari dan di bawah tumpukan baju dia meraih sepucuk revolver. Setelah meyakinkan senjata api itu berisi peluru, dia gegas menuju kamar Bernard. Niatnya sudah bulat, kejahanaman itu harus diakhiri dengan hukuman mati.

BRAAK!

Sekuat tenaga Russell mendobrak pintu kamar. Bernard dan Carolina yang sedang bercinta tak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu hanya bisa menjerit tertahan saat menatap wajah dingin suaminya. Bernard menggigil. Wajah ayahnya menjelma setan yang datang dari neraka. Bernard memungut pakaian dan melompat ke jendela. Namun Russell tak membiarkan anak itu lolos begitu saja. Lelaki setengah baya yang telah lupa diri ini berlari dan menembak punggung putranya tiga kali.
Tubuh Bernard limbung, kemudian menggelinding dari atas atap dan jatuh ke perkarangan belakang. Russell berlari keluar dan memburunya. Dia lupa pada Carolina yang masih ada di kamar itu. Perempuan itu memanfaatkan keadaan dan menyelinap lari dalam kegelapan.

Darah merah terlihat kontras dengan salju yang memutih. Tubuh Bernard terkapar di atas tumpukan salju yang tak henti berguguran dari langit. Anak itu mati di tangan ayah kandungnya sendiri. Russell tegak berdiri dengan perasaan hampa. Dari kejauhan terdengar raung sirine mobil polisi yang berbaur dengan Kidung Natal dan gema lonceng dari gereja. Entah siapa yang menelpon polisi-polisi itu, mungkin saja Carolina. (*)

Catatan: cerpen ini pernah tayang di harian Media Indonesia, edisi Minggu, 21 Desember 2014
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu di sini....

Advertisement

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels