Seminggu sebelum pesta pernikahannya digelar, Darmanto menemui Mbah Sarmijan. Lelaki berumur delapan puluh tahun itu, oleh warga kampung Bondol, telah dianggap begawan paling waskita, peramal paling ulung untuk urusan masa depan. Oleh sebab itulah, Darmanto berpikir, sebelum dia betul-betul menikah, belum afdhol rasanya jika belum minta petuah pada Mbah Sarmijan.
“Jika ingin hidupmu bahagia dan dijauhkan dari bala, menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”
Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Mbah Samijan. Lelaki berjanggut putih panjang itu duduk bersila di dipan kayu nangka, sedangkan Darmanto duduk di sampingnya. Pemuda itu menyimak dengan takzim setiap kalimat yang keluar dari mulut Mbah Samijan.
“Apa maksudnya ‘perempuan yang punya rimba’ itu, Mbah?”
“Itu hanya kiasan,” jawab Mbah Samijan. “Rimba yang kumaksudkan adalah bulu kemaluan.”
Serentak tersembur tawa dari mulut Darmanto usai mendengar jawaban itu. “Mbah ini ada-ada saja,” ujarnya dengan raut wajah memerah tersengat malu.
“Aku tidak bercanda,” jawab Mbah Samijan serius. “Kamu mau hidup menderita dan susah berkepanjangan karena menikah dengan perempuan gersang?”
Darmanto menggeleng, kemudian kembali bertanya. “Tapi kenapa pula mesti begitu syaratnya?”
“Rimba adalah perlambang kesuburan dan kekayaan,” sahut Mbah Samijan penuh wibawa. Dia berhenti sejenak, lalu menyalakan rokok klobotnya sebelum melanjutkan kata-kata. “Semakin lebat rimba perempuan yang kamu nikahi, semakin lebat pula hujan rejeki dalam hidupmu nanti."
Darmanto tersenyum kecut, tapi dia mengangguk-angguk juga. Sisa-sisa tawa meluncur pelan dari mulutnya. Entah meremehkan, atau sedang gamang. Sebenarnya Darmanto belum mengerti benar, bagaimana mungkin syarat hidup bahagia berumah tangga dikait-pautkan dengan rambut yang tumbuh di kemaluan? Darmanto ingin menyangkal, tapi segan pada nama besar Mbah Samijan.
Sudah banyak bukti ramalan Mbah Samijan sering menjadi kenyataan. Seperti yang terakhir, ketika Tukimin, anak bungsu Mang Sapardin hilang seminggu yang lalu. Orang-orang mencari ke semua lekuk kampung Bondol, namun bocah itu tak kunjung ditemukan. Barulah ketika beberapa orang berpetuah pada Mbah Samijan, keberadaan Tukimin mendapat titik terang. Mbah Samijan mengatakan, bocah itu berada di bawah jembatan sungai Widas. Dan benar saja, ketika orang-orang berbondong menuju tempat itu, jasad Tukimin ditemukan.
Selain itu tentu saja, banyak lagi peristiwa yang membuktikan ramalan Mbah Samijan tak bisa diremehkan. Dan, lantaran kenujuman-kenujumannya itulah, Mbah Samijan menjadi tempat meminta petunjuk bagi orang-orang. Persis seperti yang dilakukan Darmanto. Dia bertandang ke rumah Mbah Samijan untuk menanyakan rencana pernikahannya dengan Mayang.
Darmanto ingin tahu seperti apa rumah tangganya di masa depan. Apakah bahagia ataukah tidak. Darmanto juga penasaran, hal apa saja yang perlu dia lakukan agar biduk rumah tangganya tak mendapat halang rintangan. Tapi jawaban yang dia terima, alih-alih menenangkan, malah mencengangkan.
“Tolonglah, jangan menakutiku begitu, Mbah,” kata Darmanto murung. “Mbah 'kan tahu, aku ini akan menikah. Kalau ternyata istriku tak punya bulu kemaluan, tak mungkin pula pernikahanku dibatalkan.”
“Aku sekadar mengingatkan,” jawab Mbah Samijan tenang. Dia seolah tahu pertanyaan yang berkecambah di kepala Darmanto. “Itu juga kalau kamu percaya. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa.”
“Aku percaya, Mbah, aku percaya,” sahut Darmanto gentar. “Tapi apa mungkin semua laki-laki yang hidup menderita setelah menikah itu karena istrinya tak punya rimba?”
“Aku tidak membicarakan semua laki-laki. Aku membicarakanmu,” seloroh Mbah Samijan sambil menjentikkan abu rokoknya ke asbak tanah liat di atas meja. Telunjuknya lurus menuding ke wajah Darmanto. “Aku melihat syarat itu di wajahmu. Kalau kamu ingin hidupmu bahagia dan jauh dari bala, ya hanya itu syaratnya. Menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”
“Kalau tidak ada, bagaimana?” tanya Darmanto sekonyong-konyong.
“Tidak mungkin. Pasti ada!”
Darmanto menghela napas panjang. Dia menggaruk kepala. “Kalau nanti ternyata istriku tak punya, apakah aku mesti menceraikannya?”
Mbah Samijan tergelak. “Tak perlu risau, Darmanto. Percayalah padaku. Calon istrimu itu pasti punya rimba. Tenang saja ha ha ha ....” jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Darmanto.
***
BACA JUGA: Cengkung
Sejak mendengar ramalan Mbah Samijan, mau tidak mau Darmanto jadi kepikiran juga. Bahkan boleh dibilang ramalan itu membuatnya bimbang. Sebagai pemuda yang sedang bersiap melepas masa lajang, perkara hidup bahagia tentu menjadi tujuan. Namun persoalannya, letak dari kebahagiaan itu sungguh tak masuk di akalnya.
Darmanto belum menemukan cara untuk mengetahui apakah Mayang, calon istrinya itu memiliki rimba ataukah tidak. Darmanto malu jika harus bertanya. Dia juga tak punya nyali untuk memungkasi rasa penasarannya dengan mengendap-endap di sekitar tempat pemandian atau mengintip gadis itu berganti pakaian. Darmanto tak sanggup menerima resikonya: dihajar orangtua Mayang atau yang lebih gawat lagi, dihajar sampai sekarat seperti nasib Udin Gembala yang kepergok tengah mengintip anak gadis Bude Sum yang sedang mandi di Sendang Galuh beberapa bulan yang lalu.
“Menurutmu, apakah mesti kutanyakan saja pada Mayang, ya, Man?” tanya Darmanto kepada Rahman. Rahman ini kawan akrabnya. Apa pun permasalahannya, Darmanto senang membaginya pada Rahman. Rahman kerap memberi jalan keluar yang cerdas dan kadangkala luput dari pemikiran Darmanto.
“Ya, ada baiknya kamu tanyakan saja,” sahut Rahman yakin. “Lagi pula ini untuk kebaikan kalian berdua.”
“Maksudmu?”
“Ya, kalau ternyata—eem, maaf ini ya, kalau ternyata benar Mayang tak punya rimba, bukankah kata Mbah Samijan hidupmu bakal sengsara? Karena itulah kupikir, sebaiknya kamu memang mesti bertanya. Setidaknya kalau betulan dia tak punya rimba, kalian bisa cari obat penyuburnya ha ha haa....”
“Sial!” maki Darmanto sambil mencengkram puncak kepalanya. “Tidak mungkin aku membatalkan pernikahanku cuma gara-gara persoalan ini. Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan orang-orang.”
Rahman menatap wajah gusar Darmanto dengan prihatin. “Ya, jangan sampai begitu. Undangan sudah disebar, jangan sampai juga kamu batalkan. Kalau sampai dibatalkan, bukan cuma kamu yang malu, tapi juga keluargamu dan keluarga Mayang. Pikirkan itu.”
Darmanto tak menjawab. Dia hanya mengangguk. Pemuda itu bersetuju dengan saran yang diberikan Rahman. Memang itulah yang harusnya dia lakukan; membicarakan baik-baik dengan Mayang. Lagi pula bagi Darmanto, menikah bukan perkara setahun dua tahun belaka. Menikah itu cukup satu kali seumur hidup dan, kalau bisa, selamanya. Setelah memikirnya berulang kali, Darmanto sampai pada satu kesimpulan: dia memang harus menemui Mayang.
***
BACA JUGA: Orang-Orang Pabrik
Pagi-pagi sekali Darmanto datang ke rumah Mayang. Ayah dan Ibu Mayang kebetulan sedang tidak ada di rumah. Adik-adik Mayang juga sudah berangkat ke sekolah. Suasana rumah yang sepi membuat Darmanto sedikit lega, sebab dia tak perlu takut ketahuan jika bertanya yang aneh-aneh pada Mayang. Dengan malu-malu, Darmanto menceritakan semuanya. Awal dia bertemu Mbah Samijan, hingga hasil ramalannya.
Mayang mengangguk-angguk. Rambut panjangnya turut berayun mengikuti gerak kepalanya. “Aku mengerti,” katanya sembari menahan senyum. “Aku mengerti kecemasanmu. Tapi aku rasa, belum saatnya kamu tahu jawabannya.”
“Kenapa?” sergah Darmanto memaksa. “Menurutku sebaiknya kamu katakan saja.”
“Kenapa kamu bicara begitu, Mas?” tukas Mayang naik pitam. “Kamu mau menikahiku atau mau menikahi bulu kemaluanku?”
Darmanto terbelalak. Pemuda itu terperanjat melihat reaksi yang ditunjukkan Mayang, lebih-lebih mendengar pertanyaannya. Dia mengerang lirih dan geleng-geleng kepala. Darmanto tak bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahnya memberat serupa batu.
“Ya sudah kalau begitu. Aku minta maaf,” kata Darmanto merunduk malu.
Mayang tak menjawab. Gadis itu mendengus, lalu meninggalkan Darmanto terpaku di ruang tamu. Selanjutnya, pemuda itu memutuskan untuk menyerahkan jawabannya pada nasib. Dia tak berhasrat lagi mencari tahu. Darmanto mengubah keyakinannya dan akan menjalani pernikahan tanpa perlu mencemaskan ramalan Mbah Samijan. Meskipun diam-diam, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Darmanto masih berharap Mayang punya rimba di kemaluan.
***
BACA JUGA: Muslihat Seekor Domba
Siang itu kampung Bondol ramai. Darmanto dan Mayang melangsungkan pernikahan. Suara organ tunggal terdengar riuh. Orang-orang bersuka cita dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Pesta itu sebenarnya berlangsung cukup meriah, namun tidak bagi Darmanto. Pernikahan itu terasa berat baginya. Di atas kursi pelaminan, sepanjang pesta dilangsungkan, pemuda itu tampak gelisah.
Hingga waktu pun bergulir menuju sore, sore pun beringsut menuju malam. Di kamar pengantin, seusai pesta digelar, Darmanto dan Mayang bersiap melakukan ritual sakral malam pertama. Terngiang-ngiang di telinga Darmanto ramalan Mbah Samijan saat Mayang melepas pakaian.
“Lampunya matikan saja ya, Mas?” bisik Mayang.
“Kenapa?”
“Aku malu."
“Oh ya, tak apa. Matikan saja,” jawab Darmanto santai. Lagi pula dia tak perlu nyala lampu untuk menemukan apa yang diharapkan.
Dengan hati-hati Darmanto naik ke ranjang. Terdengar napas memburu dari mulut Mayang ketika jemari Darmanto merayap di atas lutut, terus naik ke atas paha.
“Matilah aku!” jerit Darmanto tiba-tiba.
Jemarinya terus meraba-raba, mencari apa yang diharapnya ada. Tetapi Darmanto tak menemukan apa-apa. Semuanya polos tak ada rimba. Darmanto merasa pandangannya berubah buram, seturut bayangan masa depan yang juga ikut-ikutan buram. Darmanto tidak tahu jika sehari sebelumnya, Mayang telah mencukur tandas semuanya. Mayang lupa, betapa berharganya rimba itu bagi suaminya. (*)
Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di harian Denpasar Post, edisi Minggu, 07 April 2019

0 komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejakmu di sini....