Semesta adalah akuarium kata-kata dan kita adalah ikan-ikannya....

Selasa, 07 April 2026

Rimba


Seminggu sebelum pesta pernikahannya digelar, Darmanto menemui Mbah Sarmijan. Lelaki berumur delapan puluh tahun itu, oleh warga kampung Bondol, telah dianggap begawan paling waskita, peramal paling ulung untuk urusan masa depan. Oleh sebab itulah, Darmanto berpikir, sebelum dia betul-betul menikah, belum afdhol rasanya jika belum minta petuah pada Mbah Sarmijan.

“Jika ingin hidupmu bahagia dan dijauhkan dari bala, menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Mbah Samijan. Lelaki berjanggut putih panjang itu duduk bersila di dipan kayu nangka, sedangkan Darmanto duduk di sampingnya. Pemuda itu menyimak dengan takzim setiap kalimat yang keluar dari mulut Mbah Samijan.

“Apa maksudnya ‘perempuan yang punya rimba’ itu, Mbah?”

“Itu hanya kiasan,” jawab Mbah Samijan. “Rimba yang kumaksudkan adalah bulu kemaluan.”

Serentak tersembur tawa dari mulut Darmanto usai mendengar jawaban itu. “Mbah ini ada-ada saja,” ujarnya dengan raut wajah memerah tersengat malu.

“Aku tidak bercanda,” jawab Mbah Samijan serius. “Kamu mau hidup menderita dan susah berkepanjangan karena menikah dengan perempuan gersang?”

Darmanto menggeleng, kemudian kembali bertanya. “Tapi kenapa pula mesti begitu syaratnya?”

“Rimba adalah perlambang kesuburan dan kekayaan,” sahut Mbah Samijan penuh wibawa. Dia berhenti sejenak, lalu menyalakan rokok klobotnya sebelum melanjutkan kata-kata. “Semakin lebat rimba perempuan yang kamu nikahi, semakin lebat pula hujan rejeki dalam hidupmu nanti."

Darmanto tersenyum kecut, tapi dia mengangguk-angguk juga. Sisa-sisa tawa meluncur pelan dari mulutnya. Entah meremehkan, atau sedang gamang. Sebenarnya Darmanto belum mengerti benar, bagaimana mungkin syarat hidup bahagia berumah tangga dikait-pautkan dengan rambut yang tumbuh di kemaluan? Darmanto ingin menyangkal, tapi segan pada  nama besar Mbah Samijan. 
Sudah banyak bukti ramalan Mbah Samijan sering menjadi kenyataan. Seperti yang terakhir, ketika Tukimin, anak bungsu Mang Sapardin hilang seminggu yang lalu. Orang-orang mencari ke semua lekuk kampung Bondol, namun bocah itu tak kunjung ditemukan. Barulah ketika beberapa orang berpetuah pada Mbah Samijan, keberadaan Tukimin mendapat titik terang. Mbah Samijan mengatakan, bocah itu berada di bawah jembatan sungai Widas. Dan benar saja, ketika orang-orang berbondong menuju tempat itu, jasad Tukimin ditemukan.

Selain itu tentu saja, banyak lagi peristiwa yang membuktikan ramalan Mbah Samijan tak bisa diremehkan. Dan, lantaran kenujuman-kenujumannya itulah, Mbah Samijan menjadi tempat meminta petunjuk bagi orang-orang. Persis seperti yang dilakukan Darmanto. Dia bertandang ke rumah Mbah Samijan untuk menanyakan rencana pernikahannya dengan Mayang.

Darmanto ingin tahu seperti apa rumah tangganya di masa depan. Apakah bahagia ataukah tidak. Darmanto juga penasaran, hal apa saja yang perlu dia lakukan agar biduk rumah tangganya tak mendapat halang rintangan. Tapi jawaban yang dia terima, alih-alih menenangkan, malah mencengangkan.

“Tolonglah, jangan menakutiku begitu, Mbah,” kata Darmanto murung. “Mbah 'kan tahu, aku ini akan menikah. Kalau ternyata istriku tak punya bulu kemaluan, tak mungkin pula pernikahanku dibatalkan.”

“Aku sekadar mengingatkan,” jawab Mbah Samijan tenang. Dia seolah tahu pertanyaan yang berkecambah di kepala Darmanto. “Itu juga kalau kamu percaya. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa.” 

“Aku percaya, Mbah, aku percaya,” sahut Darmanto gentar. “Tapi apa mungkin semua laki-laki yang hidup menderita setelah menikah itu karena istrinya tak punya rimba?”

“Aku tidak membicarakan semua laki-laki. Aku membicarakanmu,” seloroh Mbah Samijan sambil menjentikkan abu rokoknya ke asbak tanah liat di atas meja. Telunjuknya lurus menuding ke wajah Darmanto. “Aku melihat syarat itu di wajahmu. Kalau kamu ingin hidupmu bahagia dan jauh dari bala, ya hanya itu syaratnya. Menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

“Kalau tidak ada, bagaimana?” tanya Darmanto sekonyong-konyong.

“Tidak mungkin. Pasti ada!”

Darmanto menghela napas panjang. Dia menggaruk kepala. “Kalau nanti ternyata istriku tak punya, apakah aku mesti menceraikannya?”

Mbah Samijan tergelak. “Tak perlu risau, Darmanto. Percayalah padaku. Calon istrimu itu pasti punya rimba. Tenang saja ha ha ha ....” jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Darmanto.
***
BACA JUGA: Cengkung

Sejak mendengar ramalan Mbah Samijan, mau tidak mau Darmanto jadi kepikiran juga. Bahkan boleh dibilang ramalan itu membuatnya bimbang. Sebagai pemuda yang sedang bersiap melepas masa lajang, perkara hidup bahagia tentu menjadi tujuan. Namun persoalannya, letak dari kebahagiaan itu sungguh tak masuk di akalnya.

Darmanto belum menemukan cara untuk mengetahui apakah Mayang, calon istrinya itu memiliki rimba ataukah tidak. Darmanto malu jika harus bertanya. Dia juga tak punya nyali untuk memungkasi rasa penasarannya dengan mengendap-endap di sekitar tempat pemandian atau mengintip gadis itu berganti pakaian. Darmanto tak sanggup menerima resikonya: dihajar orangtua Mayang atau yang lebih gawat lagi, dihajar sampai sekarat seperti nasib Udin Gembala yang kepergok tengah mengintip anak gadis Bude Sum yang sedang mandi di Sendang Galuh beberapa bulan yang lalu.

“Menurutmu, apakah mesti kutanyakan saja pada Mayang, ya, Man?” tanya Darmanto kepada Rahman. Rahman ini kawan akrabnya. Apa pun permasalahannya, Darmanto senang membaginya pada Rahman. Rahman kerap memberi jalan keluar yang cerdas dan kadangkala luput dari  pemikiran Darmanto.

“Ya, ada baiknya kamu tanyakan saja,” sahut Rahman yakin. “Lagi pula ini untuk kebaikan kalian berdua.”

“Maksudmu?”

“Ya, kalau ternyata—eem, maaf ini ya, kalau ternyata benar Mayang tak punya rimba, bukankah kata Mbah Samijan hidupmu bakal sengsara? Karena itulah kupikir, sebaiknya kamu memang mesti bertanya. Setidaknya kalau betulan dia tak punya rimba, kalian bisa cari obat penyuburnya ha ha haa....”

“Sial!” maki Darmanto sambil mencengkram puncak kepalanya. “Tidak mungkin aku membatalkan pernikahanku cuma gara-gara persoalan ini. Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan orang-orang.”

Rahman menatap wajah gusar Darmanto dengan prihatin. “Ya, jangan sampai begitu. Undangan sudah disebar, jangan sampai juga kamu batalkan. Kalau sampai dibatalkan, bukan cuma kamu yang malu, tapi juga keluargamu dan keluarga Mayang. Pikirkan itu.”

Darmanto tak menjawab. Dia hanya mengangguk. Pemuda itu bersetuju dengan saran yang diberikan Rahman. Memang itulah yang harusnya dia lakukan; membicarakan baik-baik dengan Mayang. Lagi pula bagi Darmanto, menikah bukan perkara setahun dua tahun belaka. Menikah itu cukup satu kali seumur hidup dan, kalau bisa, selamanya. Setelah memikirnya berulang kali, Darmanto sampai pada satu kesimpulan: dia memang harus menemui Mayang.
***
BACA JUGA: Orang-Orang Pabrik

Pagi-pagi sekali Darmanto datang ke rumah Mayang. Ayah dan Ibu Mayang kebetulan sedang tidak ada di rumah. Adik-adik Mayang juga sudah berangkat ke sekolah. Suasana rumah yang sepi membuat Darmanto sedikit lega, sebab dia tak perlu takut ketahuan jika bertanya yang aneh-aneh pada Mayang. Dengan malu-malu, Darmanto menceritakan semuanya. Awal dia bertemu Mbah Samijan, hingga hasil ramalannya.

Mayang mengangguk-angguk. Rambut panjangnya turut berayun mengikuti gerak kepalanya. “Aku mengerti,” katanya sembari menahan senyum. “Aku mengerti kecemasanmu. Tapi aku rasa, belum saatnya kamu tahu jawabannya.”

“Kenapa?” sergah Darmanto memaksa. “Menurutku sebaiknya kamu katakan saja.”

“Kenapa kamu bicara begitu, Mas?” tukas Mayang naik pitam. “Kamu mau menikahiku atau mau menikahi bulu kemaluanku?”

Darmanto terbelalak.  Pemuda itu terperanjat melihat reaksi yang ditunjukkan Mayang, lebih-lebih mendengar pertanyaannya. Dia mengerang lirih dan geleng-geleng kepala. Darmanto tak bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahnya memberat serupa batu.

“Ya sudah kalau begitu. Aku minta maaf,” kata Darmanto merunduk malu.

Mayang tak menjawab. Gadis itu mendengus, lalu meninggalkan Darmanto terpaku di ruang tamu. Selanjutnya, pemuda itu memutuskan untuk menyerahkan jawabannya pada nasib. Dia tak berhasrat lagi mencari tahu. Darmanto mengubah keyakinannya dan akan menjalani pernikahan tanpa perlu mencemaskan ramalan Mbah Samijan. Meskipun diam-diam, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Darmanto masih berharap Mayang punya rimba di kemaluan.
***

Siang itu kampung Bondol ramai. Darmanto dan Mayang melangsungkan pernikahan. Suara organ tunggal terdengar riuh. Orang-orang bersuka cita dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Pesta itu sebenarnya berlangsung cukup meriah, namun tidak bagi Darmanto. Pernikahan itu terasa berat baginya. Di atas kursi pelaminan, sepanjang pesta dilangsungkan, pemuda itu tampak gelisah.

Hingga waktu pun bergulir menuju sore, sore pun beringsut menuju malam. Di kamar pengantin, seusai pesta digelar, Darmanto dan Mayang bersiap melakukan ritual sakral malam pertama. Terngiang-ngiang di telinga Darmanto ramalan Mbah Samijan saat Mayang melepas pakaian.

“Lampunya matikan saja ya, Mas?” bisik Mayang.

“Kenapa?”

“Aku malu."

“Oh ya, tak apa. Matikan saja,” jawab Darmanto santai. Lagi pula dia tak perlu nyala lampu untuk menemukan apa yang diharapkan.

Dengan hati-hati Darmanto naik ke ranjang. Terdengar napas memburu dari mulut Mayang ketika jemari Darmanto merayap di atas lutut, terus naik ke atas paha.

“Matilah aku!” jerit Darmanto tiba-tiba.

Jemarinya terus meraba-raba, mencari apa yang diharapnya ada. Tetapi Darmanto tak menemukan apa-apa. Semuanya polos tak ada rimba. Darmanto merasa pandangannya berubah buram, seturut bayangan masa depan yang juga ikut-ikutan buram. Darmanto tidak tahu jika sehari sebelumnya, Mayang telah mencukur tandas semuanya. Mayang lupa, betapa berharganya rimba itu bagi suaminya. (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di harian Denpasar Post, edisi Minggu, 07 April 2019
Share:

Cengkung


Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan. Seperti orang gila, ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela.

“Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!”

“Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya.

“Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal.

Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana, tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan.

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong,  orang-orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Hanya satu-dua saja yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.
***

Satu bulan sebelum peristiwa pahit itu terjadi, serombongan laki-laki bertandang ke rumah Pacik Awang. Rombongan itu adalah utusan Pacik Hambali yang bermaksud mengajukan pinangan untuk Kemaladara jelita, puteri satu-satunya Pacik Awang untuk Anwar, puteranya semata wayang.

Dari hulu sampai ke hilir kampung Lubuk Tampui, tak ada yang meragukan kecantikan Kemala. Telah banyak pula pemuda yang berniat meminangnya, namun mahar yang dicanangkan Pacik Awang membuat mereka harus menimbang niat beribu kali.

Lelaki tua itu tak tanggung-tanggung meletakkan mahar untuk Kemala. Bila tak sanggup menyediakan perhiasan emas ratusan karat serta sutra pengikat berlarat-larat, jangan harap bisa menikahi puterinya. Tetapi syarat itu tidak berlaku bagi Pacik Hambali. Ia adalah saudagar terpandang di kampung Lubuk Tampui. Mahar yang dipinta Pacik Awang, bukan sesuatu yang sulit baginya.

Lagi pula, Pacik Hambali bersahabat dekat dengan Pacik Awang. Persahabatan yang terjalin bukan setahun dua tahun belaka. Mereka bersahabat lebih dari saudara. Namun persoalan datang justru dari Kemala. Gadis itu menolak rencana perjodohan yang digadang-gadang untuk dirinya.

“Pernikahanmu dengan Anwar adalah ujian martabatku. Jangan sesekali menolak kecuali kauingin mengguyur kepalaku dengan kotoran.”

“Bukan aku menolak, Ayah ...” sahut Kemala ragu-ragu. “Tapi ...”

“Tapi kenapa?” potong Pacik Awang tak sabar. Wajah Kemala berubah pucat seperti mayat. Tusukan tajam mata lelaki tua itu membuat jantungnya menciut. Hampir dua puluh tahun hidupnya, tak pernah sekalipun ia membantah kata-kata ayahnya.

"Apakah anak bujang Kasim itu yang membuat kau durhaka padaku seperti ini?” Pacik Awang muntab. Ia tegak berkacak pinggang, sebilah skin tersembul dari balik bajunya.

“Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Bang Radin, Ayah.” Kemala menundukkan wajah. Bang Radin hanya teman sesama guru.”

“Nah, kalau begitu apa alasan kau menolak perjodohan ini?”

“Aku tak setuju jika cengkung dipakai dalam adat pernikahanku," jawab Kemala pelan. Wajahnya menunduk semakin dalam.

“Kenapa kau tak setuju? Tak perlu takut jika kau tak berbuat apa-apa." Pacik Awang mulai melunak. Tatapan pisaunya menumpul.

“Aku tak takut.”

Pacik Awang menatap Kemala penuh selidik, “Tapi kenapa kaumenolak? Apa karena alasan kau tak suka pada Anwar. Sudahlah, Kemala, rasa suka itu akan muncul jika kalian berumah tangga. O, atau kau sudah melanggar adat, hingga takut cengkung tak berbunyi di malam pengantinmu?”

“Demi Tuhan dan demi Ibu yang melahirkanku. Aku masih suci, Ayah. Aku selalu menjunjung tinggi harga dirimu."

Mata Kemala berkilat, suaranya berderak di antara hening yang memantul di rumah panggung berdinding papan itu. Matanya berair saat memandang potret bisu perempuan yang sedang tersenyum beku di dinding rumah itu.

"Aku tak mungkin menistakan diri dan membuat ibu menangis di alam kubur," isak Kemala.

"Jika begitu, tak ada yang perlu kaucemaskan. Lagi pula siapa yang akan meneruskan adat di kampung ini kalau bukan kalian-kalian yang masih muda."

"Tidak, Ayah! Tidak!" seru Kemala. Ia berdiri menantang, bagai menjelma harimau luka. Gadis itu menantang mata Ayahnya. “Cengkung adalah adat yang menghina. Ayah harus tahu, bahwa kesucian wanita tak selamanya berpaut pada tetes darah di lembar pembungkus orang mati!"

“Cukup!" bentak Pacik Awang dengan wajah merah padam. "Kau tak usah membantah. Aku dan Hambali sudah sepakat. Kau dan Anwar akan menikah bulan depan!" tegasnya menyudahi perdebatan. Lelaki itu lantas meninggalkan Kemala duduk terdiam tanpa mampu menjawab apa-apa.

Selepas pertengkaran hebat itu, Kemala menjadi batu. Di punggungnya bagai ada sebongkah es yang merayap. Dentang cengkung adalah sangkakala penanda kiamat. Pengadilan adat akan menjerat lehernya, tak peduli meskipun ia tak pernah mencurangi dirinya sendiri.

Kemala dirundung bingung, sebab tak tahu harus berbuat apa. Kesucian wanita memang tak selamanya dibuktikan setetes darah di malam pertama. Namun ayahnya dan orang-orang di kampungnya mana tahu dan mana peduli perihal itu. Kemala menekur diri, membayangkan musibah besar yang akan jatuh menimpa apa bila perjodohan itu betul-betul terlaksana.

Di dalam aturan adat yang berlaku turun temurun, usai pesta pernikahan digelar, kehormatan dan kesucian pengantin wanita harus dibuktikan di atas sehelai kain putih dan dentang cengkung di malam pertama. Hanya dengan cara itu kesucian akan dijamin. Bagai hitam di atas putih, terang-gelapnya tak bisa dipersengketa.

Ketika sepasang pengantin menyibak tirai kamar, seisi kampung akan menunggu. Apabila cengkung berbunyi bertalu-talu, itu pertanda pengantin wanita masih perawan dan apabila cengkung membisu, maka kampung dianggap telah ternoda dan harus melakukan upacara tolak bala.

Hujat gunjing akan menjadi racun yang menusuk tulang belikat. Orangtua yang ketahuan anak gadisnya tak lagi suci, akan dicemooh dan dihina. Sedangkan sang gadis akan diusir. Adat inilah yang menjadi hantu di benak Kemala, berpuluh hari sejak diterimanya pinangan itu oleh ayahnya
***

Apa yang diucapkan Pacik Awang satu bulan yang lalu menjadi kenyataan. Hari yang paling ditakuti Kemala tiba juga. Akad nikah dilaksanakan dan Kemala tak memiliki kesempatan untuk menghindarinya.

Rumah panggung yang panjangnya hampir tiga puluh depa itu ramai oleh tamu-tamu undangan. Ruang berbentuk aula dijadikan tempat untuk berkumpul. Pacik Awang dan Pacik Hambali sibuk meladeni tamu-tamu yang berasal dari beragam latar belakang. Ada pejabat, ada saudagar, ada rakyat biasa, semua berbaur menjadi satu. Sesekali mereka tertawa dan saling menepuk bahu tanda memuji.

Di atas kursi pelaminan, Kemala dan Anwar duduk bersanding bagai raja dan permaisuri. Anwar duduk gagah dengan senyum yang tak henti-henti. Ia bangga telah menyunting Kemala, kembang kampung Labuk Tampui. Tapi Kemala terlihat kuyu. Ada ketakutan yang membayang di wajah cantiknya.

Kemilau songket bersulam emas tak sanggup menyulam senyum di bibir Kemala. Risau terpahat begitu nyata. Gadis itu bagai bidadari yang terperangkap di samping raksasa jahat. Meski ia tak menangis, namun ketakutan itu membayang jelas.

Siang menyasar menuju sore, sore beringsut menuju malam. Tibalah pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Malam pertama pengantin baru. Seperangkat cengkung sudah dipersiapkan di atas panggung dan kain putih telah digelar di atas ranjang pengantin.

Detik berjalan senyap bagai tak bernyawa. Orang-orang menunggu berkasak-kusuk. Ada yang tertawa, ada yang berbisik mengumbar canda. Perempuan-perempuan juru masak di dapur terkikik-kikik. Semua membayangkan apa yang tengah terjadi di bilik kamar pengantin.
Suasana malam yang penuh kasak-kusuk dan tawa tertahan-tahan itu redam oleh derit pintu kamar yang terbuka. Berpuluh pasang mata tak sabar menunggu kabar. Anwar melangkah keluar dengan muka masam. Di tangannya tergenggam kain putih yang telah kusut. Ia tak banyak bicara, hanya menyodorkan kain putih itu pada ayahnya.

“Tak perlu menabuh cengkung!" teriak Pacik Hambali pada tetua adat yang menjadi perwakilan mempelai laki-laki. “Kain ini tidak akan berdusta. Kampung ini telah ditaburi bibit bencana. Tega nian engkau padaku, Awang! Anak gadismu ternyata tak lagi perawan. Ini buktinya!”

Lelaki itu melempar kain putih ke wajah Pacik Awang. Ia lantas membukanya dengan jemari gemetar. Tak ada bercak noda di sana. Tak ada darah yang yang menjadi bukti kesucian Kemala. Datuk Awang merintih. Ia terduduk lunglai tanpa bisa berkata-kata.

Malu serupa skin yang ditusukkan ke ulu hati. Anak kebanggaan sekaligus anak yang menjadi penjunjung harga dirinya telah melumurkan najis kepalanya. Kenyataan itu telah membungkam mulut Pacik Awang untuk membela harga dirinya yang jatuh di hadapan berpuluh pasang mata.

Di balik kamar pengantin, Kemala meratap. Tipis nian adat membalut harga dirinya. Setipis kain putih yang menjadi pembukti kesuciannya. Sungguh berat beban malu yang akan ditanggungnya. Ia akan terusir, bukan karena kesalahan yang dikira orang-orang, melainkan karena adat yang buta pada kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Pesta pernikahan malam itu menyisakan luka yang menganga. Satu persatu orang-orang meninggalkan rumah panggung Pacik Awang. Malam pun kian melengang, hanya sesekali terdengar isak tangis Kemala yang bersikejar dengan rintih pedih Pacik Awang.

Bulan menggantung pucat di langit kampung Lubuk Tampui. Saat malam menuju dini hari, Kemala meninggalkan rumahnya. Diam-diam gadis itu menerabas kepekatan malam dan menuju sawah Tanjung Raya. Di dahan pohon kepayang tua, ia menebus malu dengan nyawanya. (*)

Catatan
Cengkung. Sejenis gong kecil yang ditabuh saat malam pertama. Jika gong dibunyikan maka pertanda mempelai perempuan masih perawan. Sebaliknya, jika tidak ditabuh, maka pengantin perempuan dianggap tak lagi perawan dan pihak mempelai laki-laki berhak menceraikannya. Adat ini masih ada sampai sekarang di kabupaten Muara Enim, Sumatera-Selatan.

Skin. Pisau pendek khas dari Kabupaten Muara Enim, bentuknya mirip helai ekor ayam jantan.


Cerpen ini pernah tayang di koran Kompas, edisi Minggu, 24 Februari 2019
Share:

Surga untuk Lelaki yang Tertipu


Janji surga bagi Santo ibarat secawan anggur yang manis. Semakin diminum, semakin memabukkan. Sedangkan agama, ibarat laut kenikmatan yang maha luas. Semakin jauh ia menyelam, semakin dalam ia tenggelam. Dan kepada seorang lelaki tua yang sangat alim, ia menyerahkan segenap hidupnya demi mengejar keduanya.

“Agama adalah nyawa,” kata lelaki tua itu berwibawa. “Lakukan semuanya untuk agama. Jika agama menuntutmu mengorbankan nyawa, maka berikanlah.”

Sejak ia berguru kepada lelaki tua itu, Santo menanamkan nasihat itu ke dadanya. Berbilang bulan ia ditempa baik lahir maupun batin. Mata belianya memandang agama adalah kebenaran mutlak yang harus dibela. Ia dijejali kitab-kitab sirah yang berisi kisah-kisah kepahlawanan orang-orang terdahulu. Orang-orang yang membela agama dengan harta, jiwa dan raga.

“Tidak ada agama yang ditegakkan dengan mudah,” ucap lelaki tua itu berapi-api. “Langkah menuju kemuliaan itu selalu meninggalkan jejak-jejak berdarah.”

“Apakah kemuliaan itu, Guru?” tanya Santo melampiaskan hasrat ingin tahunya yang meluap-luap.

“Surga adalah kemuliaan,” jawab lelaki tua itu tanpa ragu.

Mata bundar belia itu bersinar penuh harapan. “Bagaimana cara meraih kemuliaan, Guru?”

“Dengan pengorbanan dan kesungguhan,” jawab lelaki tua itu seraya mengusap-usap jenggotnya. “Ketahuilah, Anakku. Dunia ini fana belaka. Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Lalu, dikisahkan pula oleh lelaki tua itu, betapa di belahan bumi yang lain, saudara-saudara mereka diperkosa, dijajah, dianiaya dan dibunuh semena-mena. Dada Santo tersulut segunung api kemarahan. Di benaknya yang lugu, terlahir sebuah kesimpulan, bahwa semua agama selain agamanya adalah kesesatan yang nyata.

“Apakah kau mau masuk surga?” tanya lelaki tua.

“Aku bersedia,” sahut Santo semringah.

Dengan penuh suka cita, lelaki tua itu membawa Santo ke sebuah tempat rahasia. Meretas rimba belantara yang jauh dari pemukiman. Di tempat itulah, Santo belajar menggunakan senjata, merakit peledak, dan berlatih olah fisik.
Kehidupan yang ia jalani sekarang hanya bersifat fana belaka. Jika mau masuk surga, dunia harus bersih dari para pendosa. Bertahun-tahun lamanya, Santo mendambakan surga. Surga yang lebih baik dari dunia dan seisinya.

“Selamat jalan,” kata lelaki tua itu pada Santo. “Kau telah berhasil memenuhi semua syarat yang dibutuhkan. Pergilah dengan hati bulat. Doaku selalu menyertaimu.”

Sebelum berangkat, Santo mencium tangan lelaki tua itu dengan penuh keharuan. “Kutunggu kau di pintu surga,” katanya pelan. Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Ia memeluk dan mencium kening Santo sebagai tanda perpisahan.

“Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Sekarang Santo mengingat kata-kata itu lagi. Ia sedang berdiri di sebuah kafe yang sedang ramai pengunjung. Pemuda itu menyingkirkan pikiran dan pandangan matanya pada kenyataan bahwasanya sebagian dari para pengunjung kafe itu hanyalah anak-anak dan wanita. Pada langkah ke tigapuluh, lelaki itu menekan picu di dadanya dan semuanya menjadi gelap seketika.
***

Sebelum Santo menuntaskan tugas mulia itu, hatinya kecilnya telah memperingatkan bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sesuatu yang sangat dungu. Namun Santo tetap bertahan, mencoba menguatkan diri dan berusaha tidak peduli pada jeritan lantang yang bergema di dadanya itu.

“Ada tujuh lapis cahaya yang akan menghalangimu pergi ke surga. Jika satu lapis saja terbuka, niscaya kau akan menguap jadi udara,” lantang suara hati kecil Santo berteriak. “Cahaya yang terlalu terang tidak hanya akan membutakan mata lahir, namun juga mata batin. Jika tak mawas diri, kau akan terbakar sia-sia.”

“Apa pun risikonya, aku akan menerima,” sanggah suara lain di kepala Santo tak kalah lantang. “Apa pun yang terjadi, agama ini akan kubela sampai mati.”

“Aku hanya mengingatkan,” ujar suara itu tak mau menyerah. “Aku harap kau tahu apa yang sedang kaulakukan. Kau masih memiliki kesempatan untuk menghentikan semua ini.”

Santo mengabaikan suara itu. Namun penyesalan datang mengungkungnya dari segala penjuru. Ia terkurung dalam ruang terang yang sangat lapang, tercekik sensasi menyilaukan yang meremas bola mata. Entah bagaimana ia bisa berada di sana. Seolah-olah ada kekosongan dalam ingatannya sebelum ia berada di sana.

Santo hanya mampu mengingat sekelumit peristiwa. Pagi itu, di sebuah kafe, sebuah ledakan hebat membuat jiwanya terbang bersama segala ingatan yang berhamburan dari tubuh dan tempurung kepalanya. Selebihnya, Santo tak mampu mengingat apa-apa.

Kebingungan merangsek masuk ke dada dan kepalanya. Menciptakan rasa sesak yang menyakitkan. Santo tak kunjung mengerti alasan  mengapa ia bisa berada di tempat itu. Ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah ia sudah berada di alam kematian? Atau, mengapa surga tak seperti yang digambarkan di dalam kitab sucinya?

Santo diam sejenak, kepalanya tertunduk. Ia sangat berharap ada yang sudiberinya jawaban, tapi tidak ada. Hanya denging kesunyian yang menusuk-nusuk dinding tebal rasa sabarnya. Pada akhirnya dinding kesabaran itu runtuh dan ia meneriakkan kata-kata paling buruk yang pernah keluar dari mulutnya sepanjang hidup.

“Aku sudah muak! Dengar, aku sudah muak! Keparat! Di mana aku berada?”

Sekarang air mata mulai mengaliri pipinya. Santo tidak bisa lagi menahannya. Tidak bisa lagi menipu diri bahwa ia tidak takut. Suaranya yang bergetar mula-mula mirip suara anak kecil, lalu lama kelamaan mirip lengkingan bayi yang tergeletak dan dilupakan di tempat tidurnya. Pantulan suara itu membuatnya menggigil. Satu-satunya suara yang bergema di tempat sunyi itu hanya suara tangisannya, jeritannya meminta tolong, memohon dalam keputusasaan.

“Aku sudah tahu tanpa perlu kauberitahu.”
Setelah beberapa waktu, akhirnya Santo mendengar satu suara yang datang dari arah depan. Suara tanpa sosok. Santo menegakkan punggung perlahan-lahan, kemudian memandang ke hadapan dengan ketakutan yang kian meraksasa. Ia menghapus air mata dengan punggung lengan.

“Siapa kau?” tanya Santo gugup.

“Aku adalah dirimu sendiri,” jawab suara tanpa wujud itu. “Yang menemanimu sepanjang hidup.”

Tubuh Santo mulai mengigil. “Apakah aku sudah mati?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Kau memang telah mati.”

Jawaban itu membuat sekujur tubuh Santo tiba-tiba lunglai. Suara itu menggema dari balik cahaya, terdengar lembut  menentramkan, namun tersirat sebuah ancaman—setidaknya Santo merasa begitu.

Tempatnya bersimpuh telah menjadi padang rumput yang maha indah. Semilir angin membawa aroma bunga yang merekah. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, hijau, ungu, hitam, putih, emas, perak, jingga dan jutaan warna lain. Semuanya merekah dan menguarkan aroma wangi yang manis.

“Apakah aku sudah berada di surga?” tanya Santo kebingungan.

“Apakah menurutmu kaulayak tinggal di surga?” suara tanpa wujud itu balik bertanya. “Surga tertutup bagi para pendosa.”

Bunga-bunga yang tadi merekah tiba-tiba menguncup. Warna-warna yang melekat pada kelopaknya memudar, lalu kering dan menyerpih seperti kertas yang terbakar. Angin wangi yang tadi semilir, sekarang berganti bau busuk yang menyengat. Batin Santo bergemuruh. Tempat bersimpuhnya berubah menjadi padang tandus panas yang penuh lekang-lekang berdebu.

“Mengapa aku berada di sini? Bukankah guru menjanjikan surga untukku?” tanyanya lirih.

“Kau telah tertipu. Kau tak menggunakan akal dan pikiranmu. Tidak ada surga untukmu. Tidak akan pernah ada."

Jawaban itu membuat Santo mulai menangis. Ia berteriak-teriak memohon ampunan. Tapi hening, tak ada jawaban. Perlahan-lahan cahaya yang terang itu menjauh, membuat sekelilingnya berangsur menjadi gelap. Suasana berubah menjadi begitu sunyi. Begitu mati.
Santo terbujur dalam kesedihan . Tubuhnya tak mampu lagi bergerak—seolah-olah seluruh kerangkanya telah hancur menjadi abu. Lelaki itu kian keras menangis saat ruang lapang di sekelilingnya mulai bergerak, menyempit dan menghimpit tulang rusuknya satu demi satu. (*)


Catatan: Cerpen ini pernah tayang di koran Haluan, edisi Minggu, 03 Februari 2019
Share:

Advertisement

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.