Semesta adalah akuarium kata-kata dan kita adalah ikan-ikannya....

Sabtu, 07 Maret 2026

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray

Ketika Russel Donovan di bawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketika polisi-polisi muda yang menangkapnya membacakan hak-haknya sebagai tersangka, Russel terus saja menggumam. Dengan tangan terborgol, ia digelandang ke sebuah ruangan berdinding putih dengan lampu menyala terang. Penjaga laki-laki berseragam dan bertubuh tinggi kekar yang mengantarnya memberitahu bahwa Russel akan diinterogasi.

Di dalam ruang interogasi sudah ada seorang laki-laki yang tampaknya memang sudah menunggu kedatangan mereka. Laki-laki itu duduk di balik meja besi yang memisahkan dua kursi yang saling berhadapan. Di balik kemeja hitam kusutnya, laki-laki itu bagai sebatang pohon oak yang meranggas kering. Bola mata biru yang keruh itu tak berhenti menatap ke arah Russel. Ia seakan sedang menakar ketidakmungkinan bahwa laki-laki dengan penampilan lembek seperti Russel perbuatan kejamnya telah mengisi halaman surat kabar dan membuat walikota dan komisaris polisi sampai harus turut memberikan keterangan pers.

Ia sudah menghubungi pengacara? tanya laki-laki berkemeja hitam.
Belum. Mungkin tidak akan ada pengacara yang akan mendampinginya, kata laki-laki penjaga itu seraya memastikan ikatan di kaki Russel tidak longgar.

“Terima kasih, Jenkins,” kata laki-laki yang duduk di belakang meja besi.

Laki-laki penjaga yang dipanggil Jenkins itu mengangguk kemudian berlalu, “Aku ada di luar. Kalau dia berulah, panggil saja aku, biar kupatahkan lehernya” kata laki-laki itu dengan tatapan dingin pada Russel.

“Tentu saja, Jenkins,” jawab laki-laki setengah baya itu sembari tertawa.

Di ruangan berukuran 4x4 meter itu, sekarang hanya tinggal Russel dan laki-laki setengah baya bertubuh ceking itu saja. Laki-laki setengah baya itu bertatapan dengan Russel beberapa saat sebelum langkah kaki Jenkins hanya menyisakan gema dan derit pintu ruangan yang menutup rapat.

“Apakah Anda mabuk tadi malam?” tanya laki-laki setengah baya itu sembari menyipit. Di tangannya melingkar rolex warna emas, Russel yakin itu barang tiruan yang di beli di kawasan Bronx, West Side. Sebelum bekerja di The Greyhound, Russel pernah menjadi penjual barang-barang imitasi selundupan dari China, salah satunya seperti rolex yang dipakai laki-laki yang sedang menginterogasinya itu. Russel tersenyum mendapati pemikiran jenaka itu menyempal di kepalanya.

“Kau bisa menjawab pertanyaanku?” Tangan yang dilingkari rolex itu menghantam meja. Suara gebrakan keras membuat tubuh Russel tersentak.

“Tadi malam aku minum bir di club Wrangler. jawab Russel tergeragap. Aku rasa satu gelas bir tidak akan membuatku mabuk”

“Kau bersama seseorang saat itu?”

Russel menggeleng. “Aku sendirian,” jawabnya mulai santai. “Tapi jika kau bertanya siapa saja yang ada di tempat itu tadi malam, aku bisa menunjukkan. Mungkin kita bisa berbincang dalam suasana lebih bersahabat di sana?”

“Kau jangan coba-coba bermain denganku.” Laki-laki setengah baya itu beringsut, meletakkan kedua siku di atas meja. “Menurutmu, apa untungnya membohongiku?”

“Oh ayolah,” kata Russel tertawa. “Aku tidak berbohong. Aku memang minum bir tadi malam. Tapi aku sama sekali tidak mabuk.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?” jawab Russel mulai kesal.

“Apa yang kausembunyikan?”

“Tidak ada. Aku berbohong pun, anjing itu tidak akan hidup lagi.”

Laki-laki setengah baya itu menggeram. Russel ingin tertawa saat melihat tampang kusut laki-laki itu. Ia membayangkan laki-laki itu seekor gagak hitam kurus dan jelek. Rambutnya yang beruban mencuat dari kulit kepalanya bagai helai rumput kering. Namun dari semua itu, suaranya yang berat dan parau itulah yang paling membuat Russel ingin tertawa.

Entah untuk menggertak atau membuat nyali Russel menciut, laki-laki setengah baya itu mencabut pistol di pinggang dan meletakkannya di atas meja. Melihat pistol itu, Russel ingat pistol yang ia buang tadi malam. Ia mencemaskan benda itu ditemukan Tom—anak tetangganya yang berumur sembilan tahun. Russel berharap polisi sudah menemukan benda itu atau benda itu tetap berada di tempatnya sampai urusannya di sini selesai.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku tidak memikirkan apa pun saat ini,” jawab Russel berbohong.

Laki-laki setengah baya itu berdeham. Jari-jarinya yang kurus mengetuk-ngetuk meja besi, seperti irama perkusi yang kacau. Bentuk jari-jari itu seperti ranting kering. Ada noda nikotin di kuku telunjuknya, sedang pada jari manisnya ada jejak lingkaran memutih yang mungkin berasal dari cincin kawin yang baru satu atau dua minggu dilepas. Membayangkan jari manis dan bekas cincin itu membuat Russel mual. Ia melepas cincin kawin miliknya dan mengantonginya.

“Mengapa kau melakukan itu?” tanya laki-laki setengah baya itu.

“Melakukan apa?”

“Itu...” jawab laki-laki setengah baya sembari menunjuk jari manis Russel. “Tampaknya kaubenci sekali pada istrimu.”

“Apa bedanya denganmu?” Russel melirik jari manis laki-laki setengah baya di hadapannya. “Apakah dengan melepas cincin itu artinya kau juga membenci istrimu?”

Laki-laki setengah baya itu menautkan jari-jarinya dan membungkukkan badan sambil bersitumpu ke meja. Ia tidak menjawab pertanyaan Russel. Matanya menusuk langsung ke mata Russel dengan ekspresi memendam amarah. “Istriku meninggal satu tahun yang lalu,” desisnya dingin.

“Aku berharap istriku juga segera menyusul istrimu ke neraka.”

Laki-laki setengah baya itu tidak menjawab, namun spontan melayangkan tinju ke pelipis Russel. Sebuah hantaman keras yang tak sempat terhindarkan itu membuat kepala Russel berputar ke kiri. Pandangan matanya berkunang. Sesaat ia melihat wajah laki-laki setengah baya itu babak belur dan mengerikan—seperti wajah orang yang mentalnya terbelakang. Wajah itu sama buruknya atau bahkan lebih buruk lagi dari anjing yang ia bunuh tadi malam.

Russel ingin menampar wajah itu dan membuat matanya meledak, mengisi rongganya dengan darahnya sendiri. Russel memang berhasil menahan keinginan itu, tapi rasa muak yang melilit perutnya telanjur memicu suara gemerutup dari sela-sela bibirnya yang terkatup. Di kepalanya terbayang anjing berbulu hitam sedang menggagahi istrinya. Anjing yang membuatnya harus menerima perlakuan seperti ini.

“Apakah aku akan dihukum karena membunuh seekor anjing?”

“Mungkin penjelasanmu akan meringankan.”
“Itu artinya aku memang akan dihukum karena seekor anjing.”

“Bekerjasamalah dengan baik. Kasusmu tidak main-main. Hukuman berat menunggumu di meja pengadilan.”

“Lakukan saja. Hukuman berat karena membunuh seekor anjing. Itu terdengar luar biasa.” Russel mendengus. “Negara ini sudah sinting.”

“Yang kaulakukan juga hal yang sinting,” tukas laki-laki setengah baya itu sinis.
Russel tergelak.

“Kau tidak menyesal?”

“Sama sekali tidak,” jawab Russel santai. “Kenapa aku harus menyesal membunuh seekor anjing?”

“Brengsek!” Laki-laki setengah baya itu menggebrak meja. Russel tertawa semakin keras, tapi tawa itu terbungkam seketika saat laki-laki setengah baya itu berkata dengan nada keras.

“Laki-laki ini sudah gila!”

“Aku sama sekali tidak gila,” sahut Russel geram. Tubuhnya mencondong ke depan, seolah menantang. “Aku hanya membunuh seekor anjing.”

Laki-laki setengah baya itu balas mendekatkan wajahnya, membuat Russel mencium aroma tembakau yang kuat dari mulutnya. “Kau telah menembak mati anakmu sendiri, Russel Donovan.”
***


Gray mengepal tangannya kuat-kuat, dari mulutnya melesat sumpah serapah. Penjahat yang dihadapinya pagi ini memang keterlaluan. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya tadi malam. Penjahat itu bersikeras hanya membunuh seekor anjing. Ia mengaku tidak bersalah. Bahkan ia merasa  apa yang dilakukannya adalah bentuk pertahanan diri secara naluriah.

Gray mengambil selembar foto dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas meja. Sejenak ia memerhatikan ekspresi laki-laki di hadapannya. Di foto tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki berambut pirang dengan mata gelap; sedang tersenyum manis. Di bawah foto itu tertulis keterangan; Bernard Donovan, siswa teladan St. Crispins School di East 90th Street.

“Sekarang apa yang kau pikirkan?” tanya Gray sambil menyilangkan tangan ke dada. Ia berusaha mengumpulkan kesabaran yang tadi habis terkuras. “Apa alasanmu melakukan tindakan tak masuk akal itu?”

Pertanyaan beruntun itu membuat laki-laki berwajah agak pucat itu mengangkat wajah dan memandangi Gray. Sambil mengerutkan kening dengan skeptis, laki-laki itu mendecak-decakkan lidah.

“Entah, ya.”

Gray menahan keinginannya untuk menyerbu ke seberang meja dan mencekik tenggorokan laki-laki itu. Ia tidak pernah menyangka hari ini akan sangat buruk. Laki-laki yang baru ditangkap dini hari tadi, sekarang membangunkan amarah pada diri Gray. Tingkah tolol dan jawabannya yang berbelit-belit itu membuat Gray benci setengah mati.  Rekan-rekannya selama ini menganggap Gray adalah seorang interogator terbaik yang pernah ada di distrik West Side. Ia punya bakat alami hebat, seperti Jordan ketika melakukan slam dunk. Tapi kali ini, di hadapan laki-laki ini, Gray betul-betul dibuat tidak berdaya.

“Apa yang Anda lakukan sulit diterima akal sehat. Anda contoh orangtua yang buruk bagi negara ini,” maki Gray tak tertahankan.

“Negara ini juga telah berlaku buruk padaku,” jawab lelaki itu, seraya meluruskan pinggang dan duduk tegak.

Gray berusaha menyembunyikan wajah gusarnya. “Tidakkah hati nuranimu menyadari kalau nyawa yang kaurenggut itu masih terlalu muda untuk mati, terlebih dengan cara sekeji itu?”

“Ayolah, kau tidak usah berkhotbah tentang hati nurani, padahal orang-orang di lingkunganmu sendiri adalah orang-orang yang juga tidak memiliki hati nurani.”

Geraham Gray gemerutup. Ia membenci seringai sarat ejekkan laki-laki itu hampir seperti ia membenci otak-otak kerdil yang mengatur departemen kepolisian di negara ini. Ada benarnya juga ucapan laki-laki itu. Gray menyadari jika dari banyak departemen di Amerika yang terkenal korup, departemen kepolisian termasuk di antaranya.

"Bagaimana reaksimu jika mendapati istrimu sedang bercinta dengan anjing. Kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, bukan?" lanjut laki-laki itu sambil menyeringai.

Nyaris saja Gray melayangkan tinju ke wajah lelaki itu jika saja Jenkins tidak buru-buru masuk. Jenkins membisikkan sesuatu yang membuat Gray merasa ada bongkahan es yang mengguyur tengkuknya seketika.

“Kami sudah mendapat motif kenapa dia membunuh anak itu,” bisik Jenkins pelan. “Tadi malam dia memergoki istri dan anaknya sedang bercinta. Dua orang yang dicintainya itu berkhianat dengan cara yang kejam ya?”

Gray terdiam dan tidak memiliki minat untuk menjawab pertanyaan Jenkins. “Bagaimana dengan istrinya?” tanya Gray.

“Perempuan itu melarikan diri dan sekarang sedang dicari.”

Gray tak bisa berkata-kata lagi. Ia memandang laki-laki di hadapannya itu dengan perasaan iba yang tebal. Gray terduduk lesu, benaknya dipukuli bayangan mengerikan yang membuat kepalanya berdenyut menyakitkan. Bayangan itu merekonstruksi adegan di malam satu tahun yang lalu, ketika ia membubuhkan racun ke minuman istrinya. Perempuan itu telah mengkhianati dirinya dengan cara yang juga sangat kejam; bercinta dengan adiknya sendiri. (*)

Cerpen ini pernah tayang di Harian Jawa Pos, edisi Minggu, 26 Juni 2026
Share:

Kidung Natal dan Salju Merah


San Juan Hill mendadak gempar karena peristiwa horor di malam Natal. Koran-koran pagi memampang Headline berita mencengangkan, Warga West Side Menembak Mati Putra Kandungnya Sendiri!. Berita ini sebenarnya biasa saja bagi sebagian warga kota yang telah terbiasa dengan tingkat kriminalitas tinggi seperti New York. Namun terdengar luar biasa bagi orang-orang yang mengenal pelakunya, Russell Donovan.

Tidak seharusnya Russell membunuh Bernard. Umurnya belum genap tujuhbelas tahun. Anak itu terlalu muda untuk mati. Apa lagi jika mengingat kepribadian Russell yang dikenal selama ini. Rasanya tidak mungkin orang yang begitu religius seperti dia akan berurusan dengan polisi, terlebih kasusnya yang sangat mengerikan.

“Terkutuk kau Russell. Kau membunuh anak yang tak berdosa! Neraka menunggumu, neraka!"

Demikian kira-kira sumpah serapah dan pengadilan kata-kata yang berhamburan dari mulut tetangganya. Namun Russell tak peduli, dia berjalan dengan wajah tegak menantang walaupun telinganya dihujani cacian dan tatapan sarat kebencian. Rusell meludah ke tanah. Dia tahu tak ada satu pun di antara kerumunan itu yang mengetahui alasannya membunuh Bernard. Tak ada satu pun yang mengetahui seperti apa perasaannya saat menghabisi anak itu.

Russell tidak menyesali perbuatannya. Jika pun ada yang disesalinya, itu adalah revolver-nya yang tak sempat menghabisi nyawa orang kedua malam itu. Orang yang berlari sebelum proyektil tajam menembus tubuhnya.
***


Kidung Natal bergema bersama badai salju yang turun lebat di Kota New York. Menurut laporan badan cuaca, itu adalah badai salju terburuk selama sepuluh tahun terakhir. Badai salju yang bergerak lamban itu menyapu sebagian kawasan Amerika. Bahkan di beberapa negara bagian dan kota, pemerintah setempat terpaksa memberlakukan keadaan darurat, termasuk New York.

Keadaan darurat yang telah berlangsung berminggu-minggu ini juga berimbas pada perusahaan transportasi The Greyhound tempat Russell bekerja. Malam itu Russell pulang lebih cepat dari biasanya. Selain memang bertepatan dengan malam Natal, pemimpin perusahaan menginstruksikan seluruh armada bus untuk diistirahatkan tanpa batas waktu. Itu artinya kiamat buat Russell yang hanya pekerja lepas.

Russell pulang dengan perasaan kesal. Jangankan tunjangan selama dirumahkan, untuk sekedar uang lelah pun tak diberikan oleh pihak perusahaan. Ini adalah Natal yang buruk bagi Russel. Di saat orang-orang tengah bergembira, dirinya justru berduka.

Dia berjalan menyusuri kawasan Distrik Teater Broadway dengan perasaan kacau. Suhu yang mengiris jangat dan salju yang bertumpuk di pinggir jalan tak mampu meredam panas hatinya yang baru saja merasakan ketidakadilan. Russell geram pada pemerintah yang tak pernah berpihak pada kaum minoritas seperti dirinya.

Pemerintah memang tak pernah tahu masa lalu dan silsilah keluarganya. Kakek buyutnya cukup pantas jika diberi gelar pahlawan. Pada masa Revolusi Amerika, leluhurnya turut memperjuangkan kota ini dari cengkraman Kolonialis Britania Raya. Leluhurnya ikut berperang dalam pertempuran heroik pada tahun 1776 di Long Island.

Pada perang itu pihak Amerika kalah, namun dalam pertempuran-pertempuran kecil setelahnya, kakeknya turut berjuang melawan tirani yang coba dibangun di tanah ini. Tetapi semua itu menjadi fakta tak berguna. Tak ada yang peduli siapa dia dan apa masa lalunya. Kisah kepahlawanan keluarganya tak mampu membawa Russel keluar dari lingkar kesengsaraan.

Salju menumpuk tebal ketika langkah kaki Russel sampai di perkarangan. Ketebalan salju mungkin sekitar tiga puluh centimeter, menandakan begitu hebatnya badai salju yang melanda. Suara televisi masih terdengar samar-samar dari luar. Sepertinya Carolina dan Bernard belum tertidur. Biasanya Russell memang selalu pulang pagi atau secepatnya dini hari bila jam kerjanya shift malam.

Russell memutar gagang pintu dengan perlahan. Di sepanjang jalan tadi, dia berjanji untuk tidak membawa masalah pekerjaannya ke rumah. Dia sudah memutuskan untuk menyimpan masalah pelik itu seorang diri. Lagi pula seharusnya dia pulang membawa kado Natal untuk Bernard dan Carolina, bukannya beban masalah seperti yang baru saja diterimanya.

Biar saja Carolina--perempuan yang mengikat janji untuk sehidup-semati dalam susah dan senang itu--tak mengetahui apa-apa. Begitu pun Bernard, tak perlu tahu jika ayahnya sekarang pengangguran. Russell tak ingin putranya tahu. Dia malu. Saat perceraiannya dengan Laura--ibu kandung Bernard--lima tahun yang lalu, dia bersumpah untuk membahagiakan Bernard dan mati-matian memperjuangkan hak asuhnya di pengadilan.
Russell melangkah masuk. Pintu sedikit terbuka. Tidak biasanya pintu rumah tak terkunci. Russell melepas jaket tebal yang berlumur serpihan salju dan menggantungnya di belakang pintu. Dia melangkah ke dapur. Coklat panas adalah solusi ampuh untuk mengenyahkan kebekuan di tubuh dan pikirannya. 

Russell melangkah ke depan televisi yang masih menyala. Coklat panas di tangannya mengepulkan asap putih tipis dan menebar aroma harum. Dengan malas dia menyandar di sofa yang berlubang di beberapa bagian. Berkali-kali Russell mengganti channel, mencari siaran yang bisa menghilangkan runyam yang mendengung di dalam kepalanya. Namun siaran televisi hanya sibuk menayangkan berita tentang kondisi cuaca ekstrem yang melanda seisi kota.

Dalam kebosanan yang menyebalkan itu, Russell memilih mematikan televisi dan bergegas tidur. Tetapi gerakannya terhenti saat samar-samar telinganya mendengar suara janggal di lantai dua. Suara menjengahkan siapa pun yang mendengarnya. Suara rintih erotis seorang perempuan yang sedang bercinta. Telinganya mendadak panas dan ritme jantungnya berdegub cepat. Russell bersijingkat ke lantai dua dan berniat mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di sana.

“Jangan-jangan Bernard membawa pacarnya ke kamar? Kemudian bercinta karena mengira aku belum pulang kerja? Sialan benar anak itu!" maki Russell dalam hati.

Dengan langkah perlahan dan nyaris mengendap-endap dia mendekati kamar Bernard. Russel menempelkan sebelah matanya di lubang kunci. Seketika darahnya naik ke kepala dan emosinya terbakar tak terkendali. Malam itu Russell melihat adegan yang nyaris membuatnya muntah. Lubang kunci menjadi celah pembuka tabir nista yang selama ini tak pernah diketahuinya. Bernard sedang bercinta dengan Carolina--ibu tirinya sendiri!

"Terkutuk!" desis Russell murka.

Darah menggelegak di sekujur tubuhnya. Giginya gemerutup. Kemurkaan di dada seperti ingin meledakkan jantungnya. Russell berlari menuruni tangga dan bergegas masuk ke kamar. Di dalam lemari dan di bawah tumpukan baju dia meraih sepucuk revolver. Setelah meyakinkan senjata api itu berisi peluru, dia gegas menuju kamar Bernard. Niatnya sudah bulat, kejahanaman itu harus diakhiri dengan hukuman mati.

BRAAK!

Sekuat tenaga Russell mendobrak pintu kamar. Bernard dan Carolina yang sedang bercinta tak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu hanya bisa menjerit tertahan saat menatap wajah dingin suaminya. Bernard menggigil. Wajah ayahnya menjelma setan yang datang dari neraka. Bernard memungut pakaian dan melompat ke jendela. Namun Russell tak membiarkan anak itu lolos begitu saja. Lelaki setengah baya yang telah lupa diri ini berlari dan menembak punggung putranya tiga kali.
Tubuh Bernard limbung, kemudian menggelinding dari atas atap dan jatuh ke perkarangan belakang. Russell berlari keluar dan memburunya. Dia lupa pada Carolina yang masih ada di kamar itu. Perempuan itu memanfaatkan keadaan dan menyelinap lari dalam kegelapan.

Darah merah terlihat kontras dengan salju yang memutih. Tubuh Bernard terkapar di atas tumpukan salju yang tak henti berguguran dari langit. Anak itu mati di tangan ayah kandungnya sendiri. Russell tegak berdiri dengan perasaan hampa. Dari kejauhan terdengar raung sirine mobil polisi yang berbaur dengan Kidung Natal dan gema lonceng dari gereja. Entah siapa yang menelpon polisi-polisi itu, mungkin saja Carolina. (*)

Catatan: cerpen ini pernah tayang di harian Media Indonesia, edisi Minggu, 21 Desember 2014
Share:

Advertisement

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels